Bidadari Dari Neraka

Bidadari Dari Neraka
rencana pesta pernikahan


__ADS_3

Tepat pukul 8 malam Lia dan Abigail sampai kediaman Harditama. Mereka disambut hangat oleh Pak Arta Harditama dan Geza, sedangkan Bu Hilda entah kemana.


Geza yang baru berusia hampir 4 tahun itu sangat merindukan sang kakak, dia menghambur ke pelukan Lia tidak peduli kakaknya itu sedang kelelahan.


"silahkan masuk tuan Abigail" ucap pak Arta


Tanpa jawaban Abigail hanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah besar itu. Rumah Lia memang besar dan mewah karena berkat ketekunan Lauren, ibunda Lia. Dia yang membangun rumah hingga sebesar itu diperuntukkan untuk Lia, namun pada akhirnya jatuh ke tangan Geza. Meskipun Geza masih kecil namun ketika ia besar kelak, ia pasti tak kan setuju dengan keputusan ini. Karena Lia sangat menyayanginya.


"sayang, duduklah" Pak Arta mencubit hidung Lia


"iya yah, mama sihir kemana?" ucap Lia sambil menggendong Geza


"dia di kamar sayang, sudah jangan pikirkan dia"


Lia hanya mengangguk mengerti dan menyusul Abigail yang sudah duduk dan Lia duduk berdampingan dengan Abigail


"sayang, ini adikku, Geza Putra Harditama"


"Geza, aku Abigail, panggil aku kakak G, oke boy!" Abigail mengedipkan sebelah matanya


Geza tersipu malu dan bersembunyi di ceruk leher Lia


"Geza kakak geli ini.. sini duduk sendiri, dasar bocah mesum" Lia tergelak


Pak Arta terharu melihat putrinya telah kembali, rumahnya terasa hangat kembali sampai sampai tanpa ia sadari air mata menetes membasahi pipinya.


"ayah, duduklah, Abigail ingin berbicara penting"


"baiklah" pak Arta pun duduk berseberangan dengan Lia dan Abigail


"tuan Arta, kedatangan saya kemari dengan maksud untuk meminang putri tuan, Lacillia, besok pukul 2 siang, saya harap tuan merestui kami dan bersedia menikahkan kami" Abigail tetap dengan tatapan dinginnya,. dalam hatinya masih ada rasa benci mengingat apa yang telah Arta lakukan terhadap calon istrinya itu.


"saya bersedia tuan muda, Lia apa kamu sudah menyetujui pernikahan ini?" Pak Arta beralih ke arah Lia


"sudah ayah"


"apa kamu sudah mantap dengan keputusanmu?"


"sudah ayah"


"baiklah ayah merestui kalian" pak Arta tersenyum namun hatinya terasa perih karena sebentar lagi putrinya bukan lagi menjadi haknya.


"terimakasih ayah, sampaikan kepada mama sihir, aku harap dia juga datang ke acara pernikahanku"


"pasti sayang"


"kamu juga ya Geza, kamu harus datang ke pernikahan kakak, oke" Lia memeluk Geza dan mengecup keningnya berkali kali


"iya, tapi belikan es klim ya"


"hahaha, kamu gitu ya? harus ada upah dulu" Lia mencubit hidung Geza gemas.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang merasa terbakar melihat kebahagiaan di ruang keluarga itu.


cihh.. enak ya hidup kamu, perusahaan sudah kamu kuasai, sekarang kamu akan menikah dengan putra tunggal sentosa, jangan harap itu akan terjadi Hilda sang mama tiri Lia, tidak akan membiarkan kebahagiaan menyelimuti hidup Lia.

__ADS_1


nenek sihir akan membuat ramuan tikus ya beruntunglah Abigail melihat Hilda di balik dinding.


"oh ya tuan muda, dimana acara akan diadakan?" pak Arta membuyarkan lamunan Abigail


"di gedung AnC Group tuan, saya akan mengundang beberapa awak media untuk menyiarkan pernikahan ini secara live"


"sayang bukankah kebayaku akan jadi 3 hari kedepan, gimana ini??"


"aku akan mengurusnya, jangan berfikir macam macam, malam ini kamu harus bahagia" Abigail mengelus rambut Lia lembut


"lalu dekornya gimana?? aku mau tema little pony"


"what!! ini pernikahan Li bukan ulang tahun anak balita"


"pokonya aku mau little pony"


"cake nya aja ya, untuk dekorasinya aku akan menggunakan tema white tulip"


"ya sudah, tapi kamar pengantinnya tetap little pony ya"


"hah baiklah.. aku akan menghubungi Vero dan Zio untuk mengurus semuanya" Abigail terpaksa harus mengalah,


kamar pengantin?? little pony?? aku nggak yakin bakalan ada adegan iya iya _Abigail


Pak Arta menggelengkan kepala melihat anak dan calon menantu bertingkah seperti tom n jerry, jauh dari kata calon pengantin


"sayang, kamu serius akan mengundang awak media??" ucap Lia dengan pipi menggembung karena mulutnya penuh dengan bakpao


"iya, aku akan membuat semua dunia tau bahwa aku menikahi bidadari yang baru turun dari kasurnya"


"nggak, kan pake pampers" wajah Abigail memerah menahan tawa


"pampers nya anti bocor nggak?? extra dry nggak??" Lia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Abigail.


"iya, aku akan membelikan pampers terbaik untuk bidadariku sekalipun itu ku dapatkan di warung tetangga sebelah sekalipun"


tanpa jawaban, Lia melipat tangan di dedan dadanya, bibirnya mengerucut dan matanya menyipit.


"jangan marah, kamu bidadariku, besok kamu harus tampil cantik seperti bidadari sungguhan, mengerti"


"bodo!!!"


"marah??"


"bodo!!!"


"maaf deh"


"bodo"


"mau berlian"


"bodo!! eh iya"


"telat"

__ADS_1


"tuh kan ayaahhh..." Lia merengek manja di pangkuan sang ayah, Geza sampai menangis karena cemburu


"hahaha, Lia kamu sudah besar, jangan seperti anak kecil"


"Geza nggak asik, gitu aja nangis, dah ah aku mau pulang dulu" Lia beranjak bangkit dari pangkuan sang ayah.


"loh, besok pernikahanmu nak, nginaplah disini"


"o iya aku lupa, besok aku akan menjadi pengantin muda hahaha 20 tahun menikah hahaha muda sekali" Lia menertawai dirinya sendiri, bangga karena di usianya yang masih muda itu dia sudah menyelesaikan kuliahnya dan bahkan mampu menaklukkan hati seorang Abigail


"kamu menyesal??" Abigail menatap Lia, tatapan sayu penuh cinta


"aku akan lebih menyesal jika aku tidak bisa menikah denganmu"


Abigail memeluk Lia, melihat situasi ini pak Arta mengajak Geza ke kamar dan menidurkannya. Pernah muda gitu lhoo..


"terimakasih telah memilihku" ucap Lia lirih


"terimakasih telah menerimaku" jawab Abigail


perlahan Abigail mencium bibir Lia, tidak bermain,. cuma nempel. Lia terdiam, bingung dengan situasi ini. Akhirnya Lia melepas ciuman itu, dan berpindah mencium hidung Abigail


"i love you Abigail Fardan Sentosa"


"i love you more sayang" Abigail menempelkan keningnya dengan kening Lia.


nafas mereka memburu, jantungpun berdegup tak beraturan. Nafsu... namun Lia tetap dengan pendiriannya, meski sempat goyah namun Abigail yang melindunginya


"Lia, besok bukankah kamu harus ke dokter psikolog?"


"iya, besoknya saja setelah acara pernikahan selesai"


"baik, kalau gitu aku pulang dulu"


"iya,"


Abigail berdiri dan berjalan keluar menuju teras rumah Lia. Lia mengikutinya dari belakang,


"hati hati ya" Lia menggenggam tangan Abigail


"iya, kamu.. selamat istirahat"


"iya.." tanpa melepas genggaman


"dan juga lepaskan tanganmu, kalau begini terus aku nggak rela pulang lho"


"ah iya, aku lupa" Lia salah tingkah, pipinya merona


"kamu ini, aku jadi nggak sabar buat besok malam"


"besok malam?? apa??"


"lihat saja besok, aku pulang sekarang, aku harus menghubungi Vero dan Zio agar persiapan segera dilaksanakan"


"oke, jangan capek capek"

__ADS_1


"iya" Abigail mengecup kening Lia dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Lia sendiri di depan pintu utama kediaman Arta Harditama.


__ADS_2