
Lia telah pulih kembali, Zio masih dengan bantuan tongkat untuk jalan. Lia juga sudah mulai bekerja di perusahaan. Karena tuntutan sang ayah yang telah mewariskan perusahaan untuk Lia sepenuhnya. Inilah yang menimbulkan masalah baru untuk Lia. Sang ibu tiri tidak terima dengan keputusan suaminya. Bahkan mengancam akan membahayakan nyawa Lia. Dengan alasan Geza juga butuh warisan. Padahal Geza mendapatkan rumah, villa, dan perkebunan. Namun Lia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena menurutnya perusahaan lah peninggalan sang bunda, sedangkan rumah dan segalanya milik ayahnya.
Hari ini Abigail akan menemui calon mertua untuk membahas tanggal pernikahan.
"Hallo.. sayang.. hari ini aku akan ke rumahmu untuk membicarakan tanggal pernikahan kita"
"kenapa tiba tiba sekali, aku sibuk dengan urusan kantor hari ini. Aku akan pulang malam" ucap Lia dari seberang sana
"kalau begitu kapan kita akan membahas tanggal pernikahannya?"
"besok malam saja ya, aku usahakan!"
"baik aku tunggu"
"iya, nggak sabaran banget sih, kita nikmati saja dulu masa pacarannya, biar kaya anak ABG gitu loh"
"aku tidak bisa menunggu lagi, matamu terlalu bar bar, lirik sana lirik sini"
"ya mau bagaimana lagi, cogannya banyak banget"
"cogan? apa cogan?"
"corong gantung, ngerti"
tut.. telepon dimatikan.
"gini amat punya cewek! nggak tahu apa kalau ada drakula jomblo" Abigail berdecak sebal.
Lia memang tidak tinggal lagi bersama Abigail, namun juga tidak tinggal bersama ayahnya. Lia memutuskan untuk tinggal di rumah pemberian Abigail. Dia bersama Surti, pembantunya. Namun Abigail sering menginap di rumah itu, alasannya atap bocorlah, listrik mati lah, nggak punya nasi lah, pokoknya dari sekian ribu alasan paling hanya ada satu alasan yang masuk akal.
Dan Drakula jomblo yang dimaksud Abigail tak lain adalah Vero, padahal Vero sudah ada calon istri. Dikabarkan Vero akan menikah akhir bulan, yang artinya 3 minggu lagi.
"o iya, cogan ya tadi.. aku tanya di internet aja artinya" gumam Abigail.
jangan heran ya, Abigail orangnya tertutup dan tidak mudah bergaul. Berbeda dengan Lia dan Zio. Mereka tipikal orang yang mudah bergaul dan sedikit bar bar. Makanya selalu berbeda pendapat dengan Abigail.
__ADS_1
"HAH!!!! cowok ganteng!! cih! tidak akan ada yang mampu menandingi ketampananku Lia" Abigail berdecak sebal sambil tangannya masih memegang handphone yang baru saja dia gunakan untuk mencari arti cogan tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"dasar Abigail!!! kampungan banget sih! harusnya kan kita menikmati masa masa seperti ini, dinner kek, jalan jalan kek, yah pokoknya kencan lah" Lia memainkan bolpoin ke kanan dan ke kiri, dia merasa ada perasaan bosan menghadapi calon suaminya yang selalu menuntut untuk segera menikah. Padahal Lia masih ingin menikmati suasana lajangnya.
tok tok tok..
"masuk!"
"nona, ini ada beberapa berkas yang harus nona tanda tangani" ucap wanita dengan nada lembut.
"oh.. oke. taruh saja di meja,. saya akan memeriksanya terlebih dahulu" Lia tersenyum
"baik"
setelah menaruh berkas berkas tersebut, Dara segera keluar meninggalkan ruangan presdir mudanya itu.
"cihhh.. sok cantik banget kamu Lia!!" gumam Dara dalam hati
Dara, sekertaris presdir sekaligus pelatih ballerina, sama seperti Lia. namun Lia tidak mengingatnya karena mereka jarang bertemu. Diketahui Dara sangat membenci Lia karena Lia begitu digemari banyak anak ballerina, dan begitu dikagumi oleh semua orang. Berbeda dengannya yang selalu dicibir karena dia selalu meniru gerakan gerakan Lia tanpa mencari ide lain.
"Dara ya.. sepertinya familiar sekali denganku, apa aku cari tahu saja ya??" Lia menggigit ujung bolpoinnya. kebiasaan nikmat terhqq katanya.
namun tiba tiba pintunya terbuka lagi tanpa ada ketukan terlebih dahulu, Lia begitu terkejut karena ternyata yang datang adalah calon suaminya.
"sayang..kamu ngapain ke sini?" bukannya senang Lia malah memutar bola matanya malas
"nggak suka?" ucapnya dingin.
Vero yang berada di belakangnya malah melambaikan tangannya dan tersenyum ramah.
"bukan seperti itu, aku sibuk ini.. lihat begitu banyak berkas yang harus ku urus! pusing kepalaku!" Lia menepuk kepalanya lembut, memang pekerjaan memeriksa berkas adalah paling membosankan bagi Lia, namun dengan terpaksa dia harus menyelesaikannya.
"Vero, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?"
__ADS_1
"tentu bos!" Vero berjalan mendekati meja Lia, dan langsung menyambar berkas berkas itu.
"apa yang kau lakukan? ini rahasia perusahaan!"
"hanya perusahaan kecil! aku saja mampu membelinya, apalagi menghancurkannya!" Abigail menyeringai
"sombong banget, apalah arti kekuasaanmu jika menyenangkan hati wanita saja tidak bisa!" Lia melipat tangan di depan dadanya.
"apa maksudmu!"
"tidak ada!!"
"kalau begitu ikut aku, biar tugasmu Vero yang menyelesaikannya"
"hah baiklah baiklah.. sultan mah bebas kali ya" gerutu Lia
"kalau tidak mau, kerjakan saja sendiri, aku beri waktu 12 menit"
"ganjil amat waktunya, 15 gitu loh biar genap"
"bodo"
"haisshh,, baiklah, ayo pergi.."
Lia menarik tangan Abigail kasar
tanpa menjawab Abigail mengikuti langkah Lia dari belakang.
Ke nyinyiran pun dimulai. Banyak karyawan yang ber kasak kusuk melihat ada dua manusia yang tak biasa wajahnya. pertama presdir cantik yang kedua laki laki tampan dari segi manapun, bahkan dari belakangpun sudah terlihat tampannya.
Dara merasa iri melihat Lia yang begitu beruntung. Menjadi pelatih ballerina terbaik dan termahal, menjadi presdir di perusahaan Harditama, dan lagi dia memiliki kekasih yang begitu tampan dan tajir.
Dara menatap lekat Abigail, meski Abigail tidak menggubrisnya,
kau milikku.._ Dara
__ADS_1
Karena Dara belum tahu siapa lelaki yang ada di depannya, Dara lebih memilih bermain api dengan cara ingin merebut Abigail dari Lia.
Namun, Abigail sepertinya mengerti apa yang Dara pikirkan. Terlebih lagi, dia mengingat ketika kejadian di halte bus itu, Abigail melihat Dara di dekat halte itu namun tidak ada niatan sama sekali membantunya, malah yang Abigail lihat, Dara tersenyum seperti "aku bahagia kamu menderita"