
Siang itu, Abigail tengah ngopi santai di taman pribadi buatan Lia. Otaknya terus memutar ingatan demi ingatan yang telah Abigail dan Lia lalui hingga saat ini.
Dari Abigail yang pemurung dan menghindari dari orang luar, melindungi Lia dari beberapa serangan (sebenarnya cinta pada pandangan pertama) dan berjuang bersama melawan kerasnya perjalanan hidup seorang Lia.
Dari arah belakang datanglah dan karena sifat jahilnya itu Lia bermaksud untuk mengerjai suaminya dengan cara membuat jantung seorang hampir copot. Kalian tau kan maksudku. Perlahan tapi pasti Lia mengendap endap untuk menjahili suaminya, namun apalah daya karena tiba tiba..
"duduklah yang baik, jangan bikin ulah! baru dinyatakan sembuh saja sudah kebanyakan gaya!" cixit Abigail yang sontak membuat istri nakalnya itu terlonjak kaget.
"hehehe" Lia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dasar Lia..
Ya, Lia dan Abigail baru saja bertemu dokter Chris. Si dokter psikolog yang menangani masalah mental Lia kala itu. Dan kata Dokter Chris, Lia dinyatakan sembuh sebab sesuai keterangan Abigail, Lia tak lagi marah marah bahkan bisa meredam emosi sekalipun itu bertemu sang ayah beserta si kejam Hilda.
"sayang, apa kamu tidak ingin kita berbulan madu?" ucap Abigail kepada Lia yang baru saja mendudukkan diri di sebelah Abigail.
"pengen dong, tapi kan kerjaan kita padat banget, mana ada waktu"
"apa kamu bahagia dengan pernikahan kita ini?"
"kok kamu nanya gitu sih? kamu nggak percaya sama aku Mas?"
"ini bukan masalah kepercayaan, tapi ini menyangkut hati dan otakmu yang selalu berbeda arah". ucap Abigail yang sedikit dibumbui perasaan amarah. "aku tau kamu tak sebahagia dulu setelah menikah denganku terbukti dengan kamu yang selalu menolakku untuk melakukan itu, tapi mau sampai kapan? kita sudah menikah dan ini bukan saatnya untuk main main"tambahnya lagi.
drrt drrt..
lirikan mata Abigail tertuju pada telepon yang berada di tangan Lia. Matanya membola melihat nama yang tertera di sana.
Vero.
Untuk lebih jelasnya lagi, Abigail membiarkan Lia menerima panggilan dari asistennya itu.
__ADS_1
"....."
"ya"
"..."
"oh"
"...."
"baik"
"....."
"ya"
tut.
"eh, kenapa lagi dia? marah marah mulu deh" Liapun menyusul Abigail untuk memberi tau maksud dan niat Vero menghubunginya karena berkali kali Vero menghubungi Abigail, tak ada jawaban sama sekali.
Lia menemukan sosok yang dicarinya itu, dan dilihatnya Abigail tengah berkutat dengan laptopnya. Sok sibuk! batin Lia.
"Mas, kamu kenapa sih? apa salahku?" ucap Lia setelah berhasil memeluk pinggang suaminya yang tengah duduk bersandar di ranjang.
"aku ada kerjaan, tolong jangan ganggu" jawab Abigail yang setengah mengusir.
Tanpa menjawab, Lia malah menutup laptop Abigail dan tanpa pikir panjang Lia mencium bibir suaminya itu. Biasa, biasa, sedikit naik level dan level atas. Ciuman itu berlangsung memanas. Meski sepasang suami istri tak begitu liahi mengingat mereka yang sangat jarang berciuman.
apa ini saatnya untukku menyerahkan mahkotaku, suamiku... _Lia
__ADS_1
Ciuman itu berakhir kala Abigail tak dapat lagi menahan gairahnya, matanya memerah dan nafasnya memburu. Lia seolah mengerti dengan apa yang dirasa Abigail. Dan dengan mantap Lia mengangguk tipis sebagai jawaban atas kode suaminya. Abigail tersenyum dan langsung melanjutkan aktivitasnya. Ia mendaratkan beberapa gigitan serangga di bagian leher dan dada istrinya. Apalagi ditambah dengan desahan yang begitu bergelora dari mulut Lia seolah meminta lebih.
"sayang, kita mulai ya" ucap Abigail lirih yang dibalas dengan anggukan Lia.
"aauuhhs saa...kii..t" lirih Lia menahan tangis.
"sakit sebentar kok, tahan sebentar ya"
Dan pada siang bolong itu terjadilah olahraga tanpa busana oleh sepasang suami istri yang beberapa hari lalu baru saja mengucapkan lavaz Qabiltu.
...********...
"Mas kamu KDRT tau nggak!" ucap Lia sembari menaikkan selimut setinggi dada.
"maaf, aku nggak sengaja" jawab Abigail yang tangannya masih bermain di puncak gunung Sumbing-Sindoro.
"lihat, daguku berdarah seperti ini" Lia mendengus.
Ya, pergulatan seni perkembang biakan siang bolong itu terjadi sedikit kekerasan karena Abigail tak dapat menahan puncak kenikmatannya hingga tanpa ia sadari, ia menggigit dagu istrinya hingga berdarah.
"dan lagi ya Mas, ini bukan malam pertama tapi siang pertama, kamu nggak wow dech!!!" Lia mendengus kesal. Yang dimarahi malah cengengesan dan memeluk istrinya erat.
"terimakasih untuk semuanya, terimakasih telah menjaga kesucianmu untukku" Abigail menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lia.
"iya, tapi kejadian tadi jangan diulang lagi kalau kamu masih ingin begitu"
"aku janji sayang" ..
**maaf telah membuat kalian menunggu, selama ramadhan ini aku sibuk banget jualan di warung, hehehe...
__ADS_1
tapi aku usahain lho ini, meskipun tiap hari hanya beberapa kosakata yang aku dapatkan tapi aku langsung masukin ke draft biar nggak lupa, setelah penuh baru deh aku up..
😘😘😘 semoga kalian mengerti ya**