Bidadari Dari Neraka

Bidadari Dari Neraka
lamaran kedua


__ADS_3

Abigail mengusap wajahnya kasar


salah lagi salah lagi... emang ya perempuan emang selalu bener!!! _ Abigail


Hanya sesama wanita yang bisa saling mengerti. Bagaimana tidak! seorang wanita akan mengeluarkan seribu ajian tersembunyi ketika ingin membuat pasangan bahagia. Termasuk gombalin pasangan seperti yang dilakukan Lia. Tapi kalian percaya tidak? ketika wanita gombal itu 95% akurat dengan perasaan mereka lho, sedangkan gombalan cowok cuma 30% aja.


Makanya buat kaum cowok, hargai gombalan wanita kalian ya😉 (wanita ingin dimengerti)


Abigail sudah tidak sanggup lagi dengan mode diam Lia, apalagi di dalam selimut Lia malah mabar sama orang luar. Berbagai cara sudah dilakukan, dari menggelitik kaki, pura pura pingsan, pura pura keluar kamar, pura pura kambuh, sampai pura pura membencinya agar kamu percaya wkwkwkwk.


"Lia, kali ini aku akan benar benar pergi. jangan cari aku! mengerti!" Abigail pergi begitu saja, benar benar pergi kali ini.


a fiew moments later___


Lia membuka selimutnya, dia merasa kali ini Abigail benar benar marah. Abigail pergi sejak pukul 17.00 dan sekarang sudah pukul 17.30.


"Abigail benar, dia pasti sangat kecewa dengan sikapku, harus gimana aku?" sekarang gantian Lia yg gelisah.


biasanya Abigail hanya diam ketika marah, bahkan tidak marahpun banyak diamnya. Dan akhirnya Lia memutuskan untuk pergi mencari Abigail.


Dengan langkah tertatih, Lia keluar dari ruangan dengan membawa tiang infus di tangan kirinya.


"Abigail.. kamu benar benar marah"


"maafkan aku, aku benar benar menyesal telah mengabaikanmu"


Lia telah berjalan selama lima belas menit, dan dia baru berhasil turun ke lantai bawah saja. Tenaganya hampir habis. nafasnya tersengal, keringat bercucuran. Lia duduk lemas di kursi dekat ruang tunggu. Dia hendak istirahat. Namun apalah daya, tiba tiba ada Herman di pintu dekat kursi yang Lia duduki.


"pak nafas tua, tolong biarkan aku istirahat sejenak, aku begini karena kau, dan sekarang aku kelelahan karena anakmu itu" Lia menyembunyikan tubuhnya yang bergetar.


"sayangku, kali ini aku juga tidak ada tenaga untuk mengganggumu, aku juga dirawat di sini"


"hah! kenapa? encok? atau urat saraf ruwet barang kali?" Lia menautkan alisnya, sebenarnya tangannya mencengkeram erat baju dan tiang infus, keringat dingin bahkan mulai menetes dari sela sela jari

__ADS_1


"bocah kecil...."


Herman dan Lia menoleh bersamaan ke arah suara itu. Mulut Lia melongo.


"AYAH!!!!" bibir Lia gemetar, matanya berkaca kaca menahan air mata


Harditama mendekati Lia dan tanpa aba aba pelukan hangat mendekap tubuh Lia, mengelus rambut dan punggung sosok putri kecil yang sangat haus kasih sayang.


"ayah, hiks hiks" Lia mengeratkan pelukannya


"nak maafkan ayah, ayah tidak berfikir jauh hingga kamu seperti ini, ayah merusak masa depanmu nak, maafkan ayah hiks hiks"


"ayah, aku benci ayah.. aku benci ayah" Lia memukul punggung ayahnya, namun itu hanya bentuk kerinduannya saja, bukan dendam atau benar benar benci.


"maafkan ayah telah mengambil langkah yg salah Ya, ayah menyesal telah mengenalkanmu dengan duda kadaluwarsa itu" Harditama melirik Herman, Herman hanya berpaling muka saja, di dalam hatinya tetap dia mencintai putri sahabatnya itu.


"ayah, aku tidak akan memaafkanmu, aku benar benar membencimu" Lia melepas pelukannya.


"bencilah ayah nak, bunuh ayah. Ayah telah salah memilih ibu baru untukmu, ayah telah salah mencintai wanita itu"


"benar, ayah khilaf sayang. Ayah telah membuat kesalahan fatal, ayah menyesal nak, izinkan ayah menebus kesalahan ayah ya"


"bagaimana? menceraikan wanita iblis itu?"


"tidak! ayah tidak bisa menceraikan dia, bagaimanapun juga masih ada Geza nak"


"lalu?"


"ikut ayah"


Harditama menggenggam tangan Lia, memapahnya menuju lantai atas, di ruang Lia rawat.


"kenapa kembali ke kamarku yah, dan itu,kenapa dia mengikuti kita" jari Lia menunjuk laki laki tua yang tangannya juga memegang tiang infus, kalian tau kan siapa😂

__ADS_1


"sudah jangan hiraukan dia, dia dalam pengawasan polisi"


"oh" Lia menganggukkan kepalanya


ceklek..


Harditama membuka pintu kamar VVIP milik Lia. Namun betapa takjubnya Lia melihat suguhan kemewahan di dalam kamar itu. Ranjang pasien, sofa, nakas, dan peralatan lain sudah tidak ada. Semuanya diganti dengan sepasang kursi cantik berbalut bunga mawar dan meja bundar yang sudah penuh dengan taburan bunga mawar. Lilin lilin kecil berbentuk huruf L dan A berada di samping kanan kursi dan meja berada. Wangi bunga semerbak menambah suasana romantis yang melekat di ruang itu.


"welcome my Queen"


Harditama telah berdiri di samping pintu dengan memakai jas formal berwarna hitam, entah kapan gantinya. Lia sampai dibuat bingung, apa yang terjadi?


Namun karena sihirnya terlalu kuat, Lia menurut saja, dengan dibantu oleh ayahnya, Lia memasuki ruang itu. Samar samar Lia mendengar langkah kaki mendekat, dan Harditama melepas genggaman tangannya.


ada apa ini? kenapa suasana ini memacu adrenalin ku?_ Lia


"di dunia yang fana ini, aku mengenal dua sosok yang mampu membuatku rapuh, yaitu ayahku dan ibuku, mereka merubah hidupku. Satu persatu saraf ketangguhanku hilang karena mereka. Darah dalam tubuhku tak lagi hangat, bahkan hatiku beku. Namun kehadiranmu, mampu mengembalikan kehangatan yang pernah kurasa dulu. Bukan hangatnya seorang ibu, melainkan hangatnya cinta yang kau berikan padaku. Dan aku memutuskan untuk memilikimu seutuhnya dan selamanya. Aku ingin kau menjadi pelabuhan terkahir setelah perjalanan panjangku. Dan izinkan aku untuk menghabiskan sisanya, bersamamu. Lia, will you marry me!" Abigail berlutut di depan Lia, dengan kaki kanan sebagai penopangnya. Diapun membawa cincin yang sangat indah.


tak terasa buliran air mata membanjiri pipi Lia,


"ayah, ini mimpi kan?" Lia mencubit tangan kirinya yang masih terpasang selang infus.


"tidak sayang, ini benar benar nyata, jawablah lamaran itu" Harditama tersenyum


"yes i do" Lia menyentuh bahu Abigail, menyuruhnya berdiri.


"terimakasih sayang..." Abigail memakaikan cincin lamarannya di jari manis Lia


"aku yang terimakasih Gail, aku tidak pernah berfikir sejauh ini, ini rumah sakit kenapa kamu bisa melakukan ini?" Lia memandangi ruangan itu dengan tatapan masih tidak percaya


"apapun yang tuan muda inginkan pasti akan terwujud nona, karena rumah sakit ini adalah rumah sakit milik keluarga Sentosa. Apa nona tidak tau nama rumah sakit ini saja Harapan Sentosa" Zio masuk dengan kursi roda yang didorong Vero


"ZIOOOOO!!!!!" Lia berhambur memeluk Zio dengan tangis tumpah ruah

__ADS_1


lamaran kedua, maaf aku nggak bisa bikin kata kata romantis, kalau kalian ada masukan ketik di kolom komentar ya, nanti aku masukkan di episode selanjutnya


__ADS_2