
Sore harinya, Lia sudah selesai dengan pekerjaannya, dia diberi tugas oleh Vero untuk belajar memahami aktivitas Abigail selama di kantor sampai membuatkan kopi dan teh hijau.
Aneh memang, perdebatan demi perdebatan menjadi topping spesial untuk memperdalam rasa kekesalan Lia.
"huuuhh akhirnya, selesai juga. dasar Vero gila, gimana bisa aku yg lulusan hukum malah disuruh kerja ginian" Lia mendengus kesal sambil mengaduk teh hijau milik Abigail
Lia berjalan ke ruang Abigail sambil membawa gelas teh hijau buatannya beserta cemilannya.
"sayang, ini aku bawakan teh hijau dan biskuit non kalori untukmu"Lia tersenyum manis sambil meletakkan bawaannya di atas meja kerja Abigail
"terimakasih Li, kamu sekarang sudah tau kan kerjaan kamu di kantor ini?" Abigail mengelus rambut panjang Lia dengan lembut
"aku disini hanya OB ya?" Lia menundukkan kepala untuk menyembunyikan raut sedihnya
"loh?? kau adalah pelayan khusus ku Lia, kamu tidak mau?" Abigail masih terus mengelus rambut Lia
"aku kan ingin menjadi orang penting di perusahaan ini" Lia mendongak dan menatap wajah Abigail
"kau sedih rupanya, baiklah besok aku akan diskusikan masalah ini dengan Vero ya? tersenyum lah, aku mencintaimu sayang" Abigail mengecup pucuk kepala Lia dengan mesra
"makasih Gail, kalau gitu kita pulang yuk! aku capek" ucap Lia dengan nada manja
"baiklah" Abigail me nonaktifkan laptop dan menutupnya
"cium dulu baru kita pulang" ucap Abigail sambil mendekatkan pipinya ke wajah Lia
"Gail, kau tidak malu apa? nanti saja di rumah ya?" wajah Lia sudah berubah merah seperti tomat
"kau malu? disini kan cuma ada kita berdua"
"aaiisshh, ribet sekali, tuh apa di sana?" Lia menunjuk sesuatu yg berada di dinding tepatnya di atas pintu
"itu cctv"
"tuuu kaannn?? kalau pak satpam liat gimana?"
"heh dasar bodoh! cctv di ruang ini khusus, hanya aku dan Vero yg bisa melihatnya, bisa juga menghapusnya
"oohh ya udah kita pulang yuk! aku lapar"
"cium dulu" Abigail melipat tangannya di depan dada
"haish baiklah" Lia mendekati wajah Abigail dan mencium hidungnya
"sudah, kita pulang sekarang"
"kenapa hidung, aku minta bawahnya hidung"
__ADS_1
"bawahnya hidung masih kaku dan kering, belum bisa di cium, nanti retak kulitnya"
"ehhh" seketika wajah Abigail memerah menahan malu
"kering tu bibir kamu, dasar mesum! pasti otak kamu ngeres deh! hahaha.."
"ti..tidak, kau saja yg tidak bisa menggunakan bahasa dengan benar"
"sudah ah, aku nggak mau banyak debat sama kamu, ayo kita pulang sekarang!" Lia menggandeng tangan Abigail dan menariknya agar berdiri dari kursi kebanggaannya
"sebentar, aku minum teh kamu dulu"
srutup..
"lumayan, besok kurangi gulanya sedikit ya"
"kenapa?"
"yg buat kan sudah manis, kalau teh nya manis takut aku diabetes"
"hahahaha, sayang darimana kau bisa gombal gitu?"
"aku mempelajari buku panduan membuat hati perempuan berbunga"
"hahaha, intonasimu belum benar Gail, sudah ah, yuk pulang"
"permisi, maaf aku mengganggu ya hehe" ucap wanita itu dan tersenyum penuh arti
"sudah tau mengganggu kenapa tidak cepat keluar!" bentak Abigail
"maaf, aku hanya ingin menyampaikan pesan papa untukmu,, papa ingin kau datang di acara ulang tahun papa besok malam itu saja" wanita itu tanpa malu menyingkirkan tangan Lia yg sedang mencengkeram erat tangan Abigail,
"maaf ya, ini kan kantor, kau tidak malu ya dengan tingkahmu yg sok ganjen itu? lepaskan tanganmu! dasar wanita rendahan!" wanita itu menatap tajam Lia, dan mendorong tubuh Lia hingga mundur beberapa langkah dari posisinya
"hei kau siapa berani beraninya menyentuh kulit calon istriku hah!" Abigail menatap tajam wanita itu dengan aura dinginnya
"apa?! jadi kau tidak sabar menungguku ya! kan aku sudah bilang tunggu aku, setelah aku selesai dengan pendidikan ku, aku akan pulang dan menjawab perasaanmu!"
ciihh, dasar Abigail, katanya aku cinta pertamanya, jadi wanita ini ya cinta pertamanya, siaall aku sangat mudah terbuai omong kosong Abigail gumam Lia dalam hati, Lia sangat kecewa dengan apa yg dikatakan wanita itu, ia(Lia) merasa dibodohi selama ini. dan akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan ruang Abigail
"maaf, sepertinya masalah ini harus kalian selesaikan ya! lebih baik aku pergi dulu!" Lia mencoba sekuat tenaga untuk menahan air matanya
"kita akan pergi bersama, jangan dengarkan omong kosong wanita sinting ini!" Abigail mendorong tubuh wanita itu sedikit kencang hingga wanita itu terjatuh di lantai
"aawwww Abigail, kau keterlaluan ihhh"
"o iya, sampaikan pada papamu, aku akan datang bersama calon istriku," Abigail tersenyum dingin kepada wanita itu
__ADS_1
SKIP_
tap tap tap
suara langkah kaki
Lia berjalan mendekati ruang tv dimana Abigail berada, terlihat Abigail sedang sibuk dengan laptopnya.
Lia duduk di sofa, dekat dengan Abigail.
"Gail, perempuan tadi?"
"ehhh? apa?"
"jelaskan!" Lia melipat kedua tangan di depan dadanya
"ohhh Bunga?" Abigail tersenyum manis dan mengelus rambut Lia dengan mesra
"iisshhh, hentikan Gail, rambutku berantakan jadinya!" Lia mengerucutkan bibirnya,
menggemaskan!! _abigail
"Bunga itu putri salah satu partner kerjaku, sekaligus teman sekolahku dulu"
"dia bilang kau tidak sabar menunggu"
Abigail mendesah kesal,
"itu ulah Noval, sahabatku. Dia menyukai Bunga tapi tidak berani mengungkapkannya, setiap hari dia menggunakan namaku agar dia bisa melihat Bunga."
"maksudnya?"
"aku dan Noval itu satu kelas, sedangkan Bunga di kelas sebelah, setiap hari sehabis istirahat Noval selalu menghampiri kelas Bunga, dan katanya aku mencarinya. Padahal itu hanya alasan saja agar dia bisa bertemu dengan Bunga, sejak saat itu Bunga menaruh harapan kepadaku, padahal kau tau sendiri kan aku tidak berani dekat dengan wanita selain kau!" Abigail mencubit hidung Lia
"lalu dia bilang kau akan menunggu" Lia masih memasang muka cemberut yg bagi Abigail itu malah tambah imut dan menggemaskan
"saat itu hari kelulusan, Bunga mengirim kertas kecil untukku, katanya dia akan meneruskan pendidikannya di Amerika, aku biasa saja, tapi Noval malah syok dan menemui Bunga, dia bilang aku akan menunggunya, padahal dia sendiri yg akan menunggunya"
"hahaha, Gail tidakkah kau tau sahabatmu itu terlalu munafik" Lia tertawa dan dalam hatinya merasa lega karena akhirnya ucapan Bunga itu hanya mengandung harapan kosong saja
"tenanglah, aku tidak mungkin berkata bohong, kau adalah cinta pertama dan terakhirku" Abigail mengelus pipi putih Lia dan menciumnya
"iya aku percaya, maafkan aku telah berburuk sangka padamu, hehe.." muka Lia bersemu merah menahan malu karena telah berprasangka buruk pada kekasihnya
tapi aku akan mengaktifkan mode waspada karena aku mencium aroma pelakor dalam tubuh Bunga_Lia
hai pembaca, semoga kalian suka dengan karyaku ya, maaf jika masih ada yg kurang nyambung atau ada kata2 yg masih kaku maklum aku orang njowo, jadi masih susah untuk menggunakan bahasa Indonesia medok hehehe
__ADS_1
o iya jangan lupa like coment favorite dan vote ya, i love you hehehe