
3 hari berlalu, Lia benar benar menghukum seorang Abigail, tidak bertemu sama sekali bahkan tidak membalas chat yang dikirim oleh Abigail juga, Lia hanya membuat story tentang indahnya menahan rindu.
memang harus physical distancing seperti anjuran pemerintah, agar kita mengerti arti kata rindu 🥰
lagi
ternyata lebih baik sakit rindu daripada sakit gigi😂
lagi
pelajaran hari ini adalah menahan nafas rindu yang menggebu😉
begitulah brondongan story yang dibuat Lia.
berbeda dengan Abigail,
ujian nasional berlangsung, sang pengawas gelisah sedangkan sang peserta riang gembira😏
"apa???dia gembira dengan acara pingit ini? awas saja kau Abigail.." Lia bergumam sendiri membaca story Abigail, dia menekan tombol video call untuk sang kekasih.
tak lama kemudian
"hai sayang, kenapa?" Abigail menyapa sang kekasih dengan bangganya, karena dia berhasil membuat kekasihnya itu tidak tahan dengan hukuman yang dia buat sendiri
"kenapa?? kamu bilang kenapa?? story tadi maksudnya apa?? jadi kamu senang tidak bertemu dengan aku? kamu bahagia bisa lirik sana lirik sini, peluk sana peluk sini!!" brondongan meriam keluar dari persembunyian
"anak kecil, yang memutuskan hukuman sendiri kan kamu, aku hanya pelaksana saja"
sebenarnya penyakit kerinduanku terhadapmu sudah meronta ronta Lia,tapi aku harus pasang muka cool,supaya aku terlihat lebih berwibawa_abigail
"ohhh, jadi kamu bahagia dengan hukuman ini?? YA UDAH KITA PUTUS!!!"
tut telpon dimatikan
"huaaaaa,, Abigail kamu jahat!!" Lia menangis sejadi jadinya, dia berpikir bahwa Abigail serius dengan story nya, maklum hari ini dia benar benar kedatangan tamu agung bulanan, jadi hormon emosional meningkat pesat. (bukankah begitu kaum wanita?? hehehe)
di tempat yang berbeda
"sial, Lia apa kamu serius dengan keputusanmu!" terlihat wajah Abigail memerah, tidak menyangka kekasihnya bisa membuat keputusan mematikan baginya.
tap tap tap
__ADS_1
Abigail berjalan keluar dari ruangannya dengan wajah gusar, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"aku harus menemuinya sekarang, tidak peduli apa yang terjadi, aku sudah berjanji untuk menikahinya, sial seperti ini rasanya putus cinta, cih menyebalkan!"
"Vero, kamu handle semua urusan perusahaan, aku akan menambah bonus untukmu!" ucap Abigail dengan wajah pucatnya
"ada apa tuan, apa kau sakit?" Vero bergegas menyentuh dahi Abigail
"tidak, aku putus cinta"
"APA!! mengapa tuan? apa Lia bosan dengan pacaran yang itu itu aja?" ucap Vero sambil mengacungkan jari telunjuknya dan menggerakkannya maju mundur
"diam! sialan! aku pergi dulu"
"baik tuan, semoga berhasil" Vero melangkah menuju ruangannya kembali
SKIP__
Abigail sudah berada di halaman rumah Lia, tanpa pikir panjang lagi Abigail mendekati pintu utama dan membukanya perlahan.
tidak dikunci?_ Abigail
sreeettt,
Lia mengambil tisu untuk mengusap air mata dan ingusnya, penampilannya sangat berantakan, rambut acak acakan, mata sembab, bibir kering, dan tisu yang berserakan dimana mana.
Lia,kamu benar benar gadis amatir_ Abigail tersenyum mendengar curhatan Lia
"di mana dia? apa di kamarnya?"
tap tap tap
Abigail berjalan menuju kamar Lia
"benar, dia di dalam"
ceklek, ngeekkkk
"siapa disana!!" Lia berteriak tanpa mengubah posisi tidurnya yang sedang tengkurap membelakangi pintu
grepp
__ADS_1
Abigail memeluk tubuh Lia dari belakang, posisinya menindih tubuh Lia.
"Abigail, ngapain kesini, kita sudah putus!"
"eh kau sudah tau kalau aku ya hehe" ucap Abigail tanpa melepas pelukannya
"aku tidak asing dengan bau tubuhmu" Lia segera membalikkan badannya
"wah kau sangat terpukul dengan keputusanmu ya, ada apa? ceritakan padaku" Abigail ikut membenarkan posisinya, saat ini dia duduk dan mengelus rambut Lia
"aku tidak mau bicara" ucap Lia dengan nada ketus
"mengapa? apa kau tidak mencintaiku lagi"
"....."
"kemarilah, duduklah di sampingku, kita selesaikan ujian nasional ini bersama sama" ucap Abigail sambil tersenyum manis
"uhm" Lia menganggukkan kepalanya
"kenapa?"
"aku tidak tau apa yang terjadi dengan diriku, aku tidak bisa mengontrol diri, aku juga tidak bisa menahan emosi, huaaaaa" tangis Lia kembali pecah
"tak apa, aku mengerti, kita periksa ke dokter psikolog ya, aku tidak mau putus denganmu" Abigail merengkuh tubuh Lia dengan lembut
"aku juga tidak mau, hiks hiks"
"baiklah sekarang kita pergi ke ahli psikolog ya" Abigail mengecup kening Lia
"iya"
"sudah jangan menangis lagi, mulai sekarang jangan pakai hukuman seperti kemarin lagi"
"iya maafkan aku" Lia mengeratkan pelukannya
akhirnya mereka benar benar pergi ke ahli psikolog.
"Gail aku takut"
"jangan takut, kau pasti baik baik saja"
__ADS_1