
Luna membanting sebuah majalah fashion ke atas meja dengan geram. Ia segera berteriak memanggil Ayah dan Ibunya.
“Mom! Dad!” teriak Luna dan membuat keduanya mendatangi putri tunggalnya itu.
“Sayang, ada apa? Mengapa kamu berteriak seperti itu?” tanya Dorothy.
“Lihatlah Mom,” Luna memberikan sebuah majalah ke tangan ibunya, “Bagaimana bisa si kutu ini menjadi seorang model, bahkan ia bisa berdiri bersebelahan dengan Nicholas Gerardo, sang pewaris G-Corp.”
Dorothy memegang majalah tersebut dan memperhatikannya dengan seksama,” Wah ternyata anak ini bisa hebat juga di luar sana. Apa ia sudah berhasil menjual tubuhnya hingga bisa meraih kesuksesan seperti ini?”
“Mom, aku juga mau menjadi model,” pinta Luna.
“Kamu kira mudah? Ia pasti punya koneksi yang besar dan sudah menjajakan tubuhnya itu pada peringgi dunia periklanan dan permodelan. Apa kamu juga mau seperti itu?” tanya Dorothy sedikit ketus.
“Aku akan melakukan apapun, Mom. Lihatlah, ahhhh … ia berdiri dekat sekali dengan Nicholas. Aku tidak terima!” Luna menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras.
“Luna!” teriak Thomas dengan keras, “jangan melakukan hal bodoh hanya karena ingin menjadi seorang artis. Dad tidak suka.”
“Aku tidak peduli Dad! Bagaimanapun caranya, aku harus melampaui keberhasilannya. Aku juga akan merebut Nicholas darinya dan akan aku buat dia kembali seperti dulu, hidup mengenaskan!” Tatapan tajam diperlihatkan oleh Luna. Ia tak ingin kalah dengan Bryona dan tak akan pernah kalah.
Lihat saja nanti, aku pasti akan membuatmu kembali menjadi pembantuku. Saat itu kamu akan menyadari bahwa hidupmu tak lebih dari sampah! - batin Luna.
**
Acara makan malam antara Bryona dan Nic berjalan dengan lancar, meskipun Bryona merasa tak tenang karena ia takut jika identitas dirinya sebagai Bryan Martin diketahui oleh Nic.
Bryona hanya menjawab pertanyaan Nic seperlunya dan ia tak banyak bertanya tentang kehidupan Nic. Ia tahu batasan dirinya. Status antara dirinya dengan seorang Nicholas Gerardo sangatlah jauh, jadi ia sudah mulai membuat batas itu. Ia akan menganggap makan malam ini sebagai pertemuan antara rekan kerja saja.
__ADS_1
Nic secara diam-diam selalu memperhatikan Bryona. Ia masih terus mencoba untuk mengingat di mana pertama kali ia melihat Bryona, namun belum menemukannya.
“Apa betul sebelumnya kita tidak pernah bertemu?” tanya Nic sekali lagi.
“Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah ounya kesempatan untuk bertemu dengan orang penting seperti anda, Tuan Nicholas,” jawab Bryona.
“Bisakah kamu memanggilku Nic saja? Panggilan Tuan itu sepertinya membuatku terlihat tua berkali-kali lipat,” ujar Nic.
“Baiklah, Nic,” Nic tersenyum, membuat Bryona kembali menundukkan sedikit wajahnya agar pipinya tidak terlihat memerah.
Dari tempat tersembunyi, sebuah kamera tengah memata-matau gerak-gerik mereka berdua dan mengambil beberapa gambar dari berbagai sudut. Bagi para pemburu berita, kejadian sekecil apapun, akan menaikkan nilai jual media mereka.
Nic mengantarkan Bryona hingga sampai di depan kediaman keluarga Rodriguez, “Apa lain kali kita bisa pergi berdua lagi?”
Bryona tersenyum, “lihat nanti saja,” lalu ia segera melepas seatbelt dan turun dari mobil. Ia melambaikan tangan pada Nic, kemudian menghilang di balik pagar yang tinggi.
**
Freya telah kembali ke New York dan kini Bryona mulai mengisi hari-harinya dengan kuliah. Ia sama sekali tidak menggunakan make up bila pergi ke kampus, karena itu bukan kebiasaannya.
Dengan menggunakan T-shirt dan celana jeans, rambut dikuncir kuda, serta sepatu kets, Bryona masuk ke dalam kelasnya sambil membawa ransel. Kini ia tak akan mau dibully lagi, ia sudah berubah.
Bila dulu saat di bangku sekolah ia akan memilih duduk di kursi paling belakang, maka kini ia bebas memilih. Tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Tubuhnya sudah terlihat begitu proporsional. Bagian dadanya juga besar tapi terlihat begitu pas, sehingga tak perlu menjadi bahan olok-olokkan lagi.
“Hi!” seorang wanita menghampirinya, “Apa kursi ini kosong?”
“Ya, silakan,” Bryona merasa senang. Dulu hanya Freya yang berani menyapanya terlebih dahulu dan kini ada yang lain.
__ADS_1
“Kenalkan namaku Adela, senang berkenalan denganmu,” wanita itu mengulurkan tangannya.
Bryona yang sudah lama tak mengalami ini merasa lebih senang lagi. Ia langsung menyambut uluran tangan Adela, “Bryona Martinez.”
“Aku seperti pernah melihatmu, tapi di mana ya?” Adela tampak berpikir sambil mengetukkan jarinya ke pipi.
“Mungkin kamu pernah melihatku di jalan atau di Mall mungkin. Bisa juga ada seseorang yang mirip denganku,” jawab Bryona.
“Kamu benar juga, Bry,” Adela pun tertawa.
Hari demi hari, mereka menikmati masa perkuliahan mereka dengan baik. Mereka menjadi sahabat di kampus dan kadang bertemu di luar kampus jika memang ada tugas yang harus dikerjakan bersama. Mereka pergi ke kantin bersama dan menikmati makanan sambil bercerita.
Ponsel Bryona berbunyi, tertulis nama Freya di sana. Wajah Bryona langsung cerah dan bersinar.
“Halo, Frey!” Bryona selalu bertukar pesan dengan Freya, namun untuk saling menelepon, mereka akan benar-benar memilih waktu. Selain karena kesibukan masing-masing, Bryona juga tak ingin mengganggu Freya yang harus kuliah 2 jurusan sekaligus.
“Hmmm, baiklah. Aku akan menunggumu,” setelahnya Bryona menutup sambungan ponselnya dan kembali menikmati makanannya.
“Temanmu?” tanya Adela.
“Ya, sahabat dan juga saudaraku. Ia sedang kuliah di New York,” jelas Bryona dan Adela hanya tersenyum.
Sepulang dari kampus, Bryona langsung pergi ke resto La Sierra untuk mengerjakan beberapa laporan. Meskipun Bryona sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya, tapi ia tak pernah mengesampingkan tanggung jawab yang diberikan oleh Freya.
Bryona mengerjakan semuanya dengan senang hati, apalagi tadi Freya menghubunginya dan mengatakan kalau ia akan kembali dari New York malam ini. Mereka akan mengadakan launching produk liptint besok.
🌹🌹🌹
__ADS_1