
Terdengar suara dessahan dan errangan dari dalam sebuah kamar hotel. Hentakan terus dilancarkan oleh senjata sang pria ke dalam gua milik sang wanita.
Mereka sudah melakukannya hingga 3 kali dan hanya beristirahat selama 15 menit antara 1 ronde dengan ronde lainnya. Wanita itu dibayar oleh sang pria untuk memuaskan hasrattnya yang tengah membara karena sedang berada jauh dari istrinya.
Sang pria memuntahkan benih-benihnya ke dalam gua dengan semburan yang tak terlalu kuat. Tentu saja, di usianya yang sudah 50 tahun, ia tidak akan sekuat saat muda dulu. Namun, gairrah dan hasrattnya masih terus menggebu-gebu.
Sang wanita yang adalah sekretarisnya di kantor, sangat senang bisa melayani atasannya itu. Ia berencana untuk terus membuat atasannya itu bergantung padanya, meskipun dengan cara hubungan baddan.
Uang, kekuasaan, dan pengakuan, membuatnya mengambil jalan pintas. Apalagi ia pernah bahkan sering mendapatkan celaan dan ejekan dari istri atasannya itu, sehingga membuatnya benci dan secara tidak langsung ingin membalaskan dendamnya.
“Apa kamu puas dengan pelayanan yang kuberikan?” Wanita yang bernama Esme itu memposisikan dirinya menyamping dan menatap ke arah sang pria.
“Kamu memang hebat. Apa kamu ingin mengulanginya sekali lagi?” tanya sang pria.
“Tentu saja. Kali ini biarkan aku yang bekerja. Kamu hanya perlu menikmati, mendessah dan mengerrang di bawahku,” ucap Esme dengan nada genit dan manja.
Esme langsung berpindah ke atas tubuh pria itu dan mulai mencium bibirnya serta memberikan lummatan. Tangan Esme bergerak dan memberikam rangsangan dari kepala ke leher, dada, hingga ke tempat senjata pria itu.
Esme mendekatkan kedua aset kembarnya ke arah bibir pria itu sementara tangannya terus bekerja di senjata milik pria itu. Kedua aset tersebut langsung dilahap dan dilummat, membuat Esme menggeliat dan merasa panas.
Ia memutar tubuhnya hingga wajahnya kini menghadap senjata milik pria itu. Ia memainkan senjata itu dengan lidahnya dan sedikit menungging agar sang pria bisa melihat bokongnya yang sangat padat dan bulat.
“Ahhh!!” dessah sang pria saat Esme kembali memasukkan senjatanya ke dalam mulut dan memberikan kenikmatan. Ia langsung mencengkeram dan meremas bokongg Esme yang menghadap ke arahnya. Ia yang sudah tak bisa menahan akhirnya memberikan permainan lidah di pinggir gua milik Esme, membuat wanita itu mendessah panjang.
Setelah permainan itu, Esme kembali memutar tubuhnya dan memasukkan senjata pria itu kembali ke gua miliknya, “Ahhh,” rasa hangat dan kenikmatan yang tercipta membuat Esme kembali melummat bibir pria itu sambil menggoyangkan pinggulnya.
__ADS_1
Suara sentuhan antar kulit dan kecapan bibir mereka berdua kembali memenuhi kamar hotel tersebut. Pendingin ruangan rasanya tak mampu mengimbangi panasnya percintaann mereka.
“Ahhhh!!!” Keduanya berteriak bersama ketika kembali mencapai puncaknya secara bersamaan.
Pria itu sangat bergairahh saat bertemu Esme, apalagi melihat tubuh wanita itu yang terlihat begitu padat berisi, jauh berbeda dengan milik istrinya yang sudah kendur di mana-mana. Bahkan untuk melihatnya saja ia malas. Untung saja istrinya itu tidak pernah memaksa untuk berhubungan karena baginya yang penting hanyalah uang.
“Ahhh nikmatnya,” kata sang pria ketika mereka telah menyelesaikan permainannya.
Esme yang kelelahan akhirnya terlelap tanpa mendengar perkataan sang pria lebih lanjut.
**
“Yona!” panggil Nic yang sudah berusaha berbicara dengan Bryona sejak kedatangannya ke Kota Campeche 2 hari yang lalu.
Bryona memutar tubuhnya melihat ke arah Nic yang terua mengikutinya. Ia sudah berusaha untuk menghindari pria itu. Bukan apa-apa, ia hanya tak ingin lagi mendengar perkataan buruk tentangnya yang keluar dari mulut pria itu.
“Maaf. Tak bisakah kamu memaafkanku? Aku tahu kesalahanku sangat besar, hingga kamu tak ingin lagi mengenalku,” tiba-tiba saja Nic berlutut di hadapan Bryona. Untung saja resto belum dibuka sehingga yang berada di sana hanyalah para karyawan.
Bryona tak ingin menyimpan dendam, tapi ia juga tak ingin luluh. Akhirnya ia langsung naik ke lantai atas dan masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Nic yang berlutut di dekat meja kasir.
Bryona tak mengindahkan Nic. Ia langsung berfokus pada pekerjaannya. Ia sudah menceritakan semua pada Freya, mulai dari Tuan Oscar Gerardo yang meminta asistennya menjemputnya, serta pertemuannya dengan pengacara.
Freya mendukung Bryona, bahkan ia akan membantu sahabatnya itu untuk memajukan M-Tech, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan konstruksi. Freya berpikir bahwa AR Group nantinya akan diserahkan pada Theo, sehingga akan lebih baik jika ia memiliki pekerjaan lain.
Berita dari Bryona membuatnya sangat senang karena M-Tech merupakan salah satu perusahaan besar yang menjadi incarannya untuk bekerja. Ia mengijinkan Bryona untuk melepas pekerjaannya di resto La Siera dan akan mengangkat Uncle Tito sebagai pimpinan di sana menggantikan Bryona.
__ADS_1
Waktu berputar sangat cepat hingga sudah melewati jam makan siang. Bryona yang akan keluar mendapati Nic yang masih dalam posisi berlutut di dekat meja kasirnya. Ia menjadi tontonan pengunjung yang datang ke sana, namun sepertinya ia tak terlalu peduli akan hal itu.
Bryona menghela nafasnya pelan. Ia berjalan mendekati Nic, “bangunlah. Apa kamu ingin membuatku terlihat seperti orang yang tidak punya hati?”
Nic menengadahkan kepalanya ke atas, melihat wajah Bryona yang tengah memandanginya, “Aku tak akan berdiri kalau kamu tidak memaafkan aku.”
“Baiklah, aku memaafkanmu.”
“Jangan mengusirku lagi dari hadapanmu dan memintaku menjauh darimu,” pinta Nic.
“Hmm …,” untuk saat ini Bryona tidak memiliki pilihan. Ia tak ingin para pengunjung menatap buruk dirinya, juga resto La Siera. Ia akan pergi meninggalkan La Siera, tapi tak ingin menimbulkan kesan buruk bagi tempat yang telah banyak membantunya.
Nic langsung bangkit dari berlututnya dan tiba-tiba saja memeluk Bryona, “terima kasih.”
Bryona hanya diam tanpa membalas pelukan Nic, “bisakah kamu melepaskanku? Aku sudah memaafkanmu, tapi bukan berarti kamu bisa berbuat seenaknya padaku,” bisik Bryona di telinga Nic.
“Maaf, aku sangat senang mendengar kamu memaafkanku.”
Bryona kemudian keluar dari La Siera, diikuti oleh Nic, “Ke mana kamu akan pergi?”
“Bukan urusanmu. Sebaiknya kamu pulang ke Kota Meksiko.”
“Tidak. Aku tak akan pulang jika tak bersamamu,” kata Nic.
Bryona berdecak kesal. Akhirnya ia membiarkan Nic mengikutinya untuk makan siang di salah satu tempat yang dekat dengan kediaman Rodriguez. Ia sedang ingin makan salah satu makanan di sana, padahal biasanya ia akan makan di resto.
__ADS_1
Ia pasti akan sangat merindukan Kota Campeche, tapi ia memang harus meninggalkannya. Semua ini demi perusahaan keluarganya. Ia harus belajar dan membuatnya berjalan sebagaimana mestinya. Ia tak ingin menghancurkan sesuatu yang telah dibangun dengan susah payah oleh kedua orang tuanya.
🌹🌹🌹