
“Frey!” panggil Theo.
“Apa anda sudah selesai, Tuan Alexander?” tanya Freya sambil melihat ke pergelangan tangannya, “Aku tak punya banyak waktu. Hari ini banyak hal yang harus kuurus di M-Tech.”
“Bukankah kamu berjanji akan membantuku?” tanya Theo.
“Tentu saja, aku tak akan melanggar janjiku sendiri,” jawab Freya.
“Ikutlah ke ruanganku, banyak berkas di sana yang harus kamu lihat.”
“Panggil aku jika tamumu sudah pergi. Aku tak ingin mencampuradukkan urusan kantor dengan urusan pribadi.”
Theo berdecak kesal. Ia bahkan lupa kalau Crystal berada di ruangannya, “Ikutlah denganku, aku akan memintanya pergi.”
“Tidak perlu, bawa saja berkas itu ke ruanganku. Aku akan mempelajarinya.”
“Frey!” Freya melihat ke arah Theo dan menautkan kedua alisnya seperti menunggu Theo melanjutkan perkataannya, “Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya.”
“Maaf, Tuan Alexander. Apa bisa kita kerjakan secepatnya,” Freya mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin kembali mengungkit masalah pribadi, apalagi pernikahan.
Untuk sementara ini Theo akan mengesampingkan tentang pernikahannya. Ia harus fokus dengan perusahaan, karena kalau tidak AR Group akan hancur di tangannya.
**
“Honey, aku lapar. Apa kamu akan terus membuatku berada di atas tempat tidur ini, tanpa memberiku makan?” tanya Bryona yang merasa sangat lelah karena Nic sepertinya tak berhenti untuk memberikan sentuhan pada tubuhnya.
__ADS_1
“Maafkan aku, honey,” Nic mengambil telepon wireless yang ada di atas nakas. Ia langsung menekan tombol layanan servis kamar dan meminta mereka menyiapkan makan pagi … eh bukan, makan siang tepatnya.
“Aku akan mandi dulu,” kata Nic, kemudian meninggalkan Bryona yang masih bergelung di bawah selimut. Sebuah senyuman terbit di wajahnya ketika mengingat apa yang terjadi antara dirinya dengan Nic dari malam hingga pagi. Meskipun sakit, tapi lama kelamaan menjadi nikmat, bahkan Bryona menjadi ketagihan hingga ia tak pernah menolak jika Nic memintanya lagi dan lagi.
Setelah Nic keluar dari kamar mandi, kini gantian Bryona yang akan membersihkan diri. Namun saat ia akan berdiri, ia merasakan rasa nyeri di inti tubuhnya.
“Apa sakit?” tanya Nic yang melihat Bryona meringis.
“Tentu saja sakit, apa kamu tidak sadar berapa kali kamu melakukannya?” Nic langsung tersenyum kemudian menggendong Bryona hingga ke kamar mandi. Ia menurunkan Bryona di samping bathtub.
“Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu, berendamlah sebentar,” Bryona tersenyum dan mencium pipi Nic. Nic yang mendapat sebuah ciuman, langsung memegang dagu Bryona dan memberikan lummatan di bibir pink istrinya itu.
Sesappan mereka berhenti ketika terdengar suara bel di pintu, “Aku akan keluar, mandilah. Kalau begini terus, kurasa kita akan kembali berakhir di tempat tidur.”
Bryona yang lelah tak ingin meladeni Nic lagi. Ia langsung masuk ke dalam bathtub untuk berendam sebentar. Ia tak ingin terlalu lama berada di dalam kamar mandi karena perutnya sudah berteriak minta segera diisi.
“Makan yang banyak karena kita membutuhkan tenaga yang banyak,” Bryona langsung menelan salivanya karena ia sangat mengerti apa maksud dari perkataan Nic.
**
Freya menghabiskan waktu hingga selepas jam makan siang. Ia sengaja tidak mengambil jam makan siangnya agar semua pekerjaan di AR Group bisa cepat selesai. Bukan apa-apa, tapi saat ini ia juga memiliki tanggung jawab di M-Tech. Ia tak mau dianggap menggunakan jabatan dan kedekatannya dengan Bryona sebagai suatu alasan.
“Aku sudah selesai,” kata Freya sambil menutup map terakhir. Theo sangat takjub dengan kecepatan Freya dalam menganalisis dan menemukan jalan keluar pada tiap hal yang terjadi di perusahaan.
Freya segera bangkit dari duduknya dan ingin keluar dari ruangannya. Namun, perkataan Theo kembali mengusiknya.
__ADS_1
“Apa kamu sudah memikirkan baik-baik semuanya? Aku menunggu keputusanmu.”
Freya menoleh ke arah Theo. Ia menautkan kedua alisnya dengan sedikit heran. Bukankah pria di hadapannya akan mempertimbangkan kembali mengenai pernikahan mereka? Apakah kehadiran Crystal belum cukup untuk dijadikan sebagai batu penghalang dari hubungan mereka?
“Sudah kukatakan bahwa aku akan tetap di M-Tech dan aku tak akan mau menikah denganmu. Bukankah akan lebih baik seperti ini? Buktinya aku datang memenuhi panggilanmu dan aku membantumu. Aku tidak lepas tangan.”
Theo bangkit dari duduknya dan mendekati Freya, “Tidak bisa! Aku memintamu memilih, kembali ke sini atau kita menikah 1 bulan lagi.”
“Sudah kukatakan aku tidak mau menikah denganmu!” Kata Freya.
“Memangnya kenapa? Apa ada sesuatu yang kurang dari diriku?” tanya Theo.
“Tak ada, orang lain pasti akan mengatakan dirimu tampan, gagah, mapan, dan yaaaa … semuanya. Tapi aku tidak membutuhkan semua itu. Raihlah kebahagiaanmu, maka hidupmu akan jauh lebih sempurna. Aku sendiri telah menemukan kebahagiaanku,” jawab Freya.
“Apa maksudmu? Apa kamu memiliki seorang kekasih?” Theo menatap Freya dengan tajam.
“Ya, memangnya kenapa kalau aku sudah memiliki kekasih? Itu urusan pribadiku, Tuan Alexander.”
“Tidak! Aku pastikan tidak akan ada pria manapun yang akan bisa menikah denganmu.”
“Dasar egois! kamu sudah menemukan wanita yang kamu cintai. Bukankah aku juga berhak untuk mengatur diriku sendiri?” ungkap Freya kesal.
Theo tidak bisa mengatakan kalau kini ia memiliki rasa pada Freya, meskipun masih sedikit. Oleh karena itulah ia tak ingin ada pria lain yang berada dekat dengan diri wanitanya.
“Freya Rodriguez!”
__ADS_1
🌹🌹🌹