
Chris dan Maria kaget karena tiba-tiba putranya itu duduk di hadapan mereka dan minta untuk dinikahkan. Benar-benar suatu keajaiban.
“Menikah?”
“Ya, bukankah Dad dan Mom mau aku menikah?” tanya Theo.
“Awalnya kami memang ingin kamu cepat menikah. Tapi setelah kami berpikir lagi, kami akan membiarkanmu mencari jati diri hidupmu. Kamu bisa mencari wanita baik-baik yang kamu cintai, kami tak akan memaksa,” jawab Maria.
“Aku sudah menemukan wanita itu,” ujar Theo.
“Benarkah?”
“Ya, mengapa kalian kaget?”
“Baiklah, bawa dia pada kami.”
“Sebaiknya langsung melamarnya saja, Dad. Aku tidak mau terlalu lama. Kalau bisa aku menikah bersamaan dengan Nic,” kata Theo.
“Kamu kira pernikahan itu main-main? Kita juga harus berbicara dengan keluarga mempelai wanita.”
“Aku yakin mereka akan menerima lamaran kita, Dad.”
“Jangan terlau percaya diri. Bukankah Freya saja menolakmu,” ungkap Chris.
“Tidak kali ini,” jawab Theo.
“Baiklah, sekarang katakan pada kami siapa wanita itu,” tanya Chris.
“Freya Rodriguez,” jawab Theo.
“Jangan macam-macam Te! Dad tidak bercanda.”
“Aku juga tidak bercanda. Aku ingin perjodohan itu tetap ada dan segera nikahkan aku dengannya,” Theo kemudian meninggalkan kedua orang tuanya yang saling berpandangan. Mereka sangat bingung dan heran dengan keputusan Theo. Bukankah dulu putranya itu menolak perjodohan, lalu kenapa sekarang malah memaksa.
Theo masuk ke dalam kamar tidurnya. Ia sendiri merasa bingung dengan keputusannya. Namun, hanya dengan cara itu ia bisa tetap berada di dekat Freya. Wanita itu seperti magnet yang membuatnya ingin terus melihat apa yang akan ia lakukan ke depannya.
**
Chris tidak langsung percaya begitu saja dengan perkataan Theo. Ia tak ingin salah langkah lagi, yang justru akan membuat hubungan persahabatannya dengan Hector rusak dan merenggang.
__ADS_1
Hari ini, ia berjanji bertemu dengan Hector di sebuah coffee shop. Mereka mencari tempat duduk yang agak dalam dan tidak terlalu ramai. Mereka sangat merindukan suasana coffee shop di mana mereka duduk bersama dan menikmati orang-orang saling bertemu di sana.
“Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan denganku?” tanya Hector. Tidak biasanya sahabatnya itu mengajaknya bertemu di luar kantor. Mereka baru bertemu di luar kalau hanya sekedar berkumpul atau bersenang-senang.
“Hmm … aku memerlukanmu untuk mengatasi masalahku kali ini.”
“Ada apa? Jangan membuatku takut,” ujar Hector.
Chris menghela nafasnya dalam kemudian melihat ke arah Hector, “Theo memintaku untuk melamar Freya.”
“Benarkah?” mata Hector turut membulat mendengarnya, “Bukankah mereka berdua sudah setuju untuk membatalkan perjodohan ini?”
“Itulah yang membuatku bingung,” kata Chris.
Hector menyandarkan tubuhnya ke sandaran sifa di belakangnya, “Freya malah mengatakan padaku bahwa ia akan keluar dari AR Group.”
“Maksudmu?”
“Ia akan menyerahkan sepenuhnya kepemimpinan AR Group kepada Theo. Ia hanya akan membantu sedikit dan jika memang benar-benar dibutuhkan.”
“Lau apa yang akan Freya lakukan setelah meninggalkan AR?” tanya Chris.
“Ia akan bergabung dengan M-Tech.”
“Mungkin sebaiknya kita mempertemukan mereka berdua. Biarkan mereka saling bicara. Aku tidak bisa mengambil keputusan begitu saja,” usul Hector.
“Baiklah, besok kita bertemu lagi di sini. Aku akan memesan sebuah ruang VIP agar kita lebih leluasa berbicara.”
“Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu. Aku harus mempersiapkan diri untuk perang dunia esok hari,” Hector sangat tahu bahwa hubungan antara Theo dan Freya tidak begitu baik. Oleh karena itu juga mereka membatalkan perjodohan di antara keduanya. Lebih baik melihat keduanya tidak bersama dari pada bersama tapi dalam pernikahan yang tidak sehat.
**
Freya melipat kedua tangan di depan dada. Ia terus melihat ke arah Theo dengan tatapan tajam seakan ingin membunuh pria di hadapannya itu. Bukankah dulu pria itu yang dengan terang-terangan menolak perjodohan dengannya, lalu kenapa sekarang dia ingin melanjutkan?
“Sebenarnya apa yang kamu inginkan?” tanya Freya.
“Tentu saja melanjutkan keinginan orang tua kita.”
Kedua orang tua Theo dan juga Dad Hector, hanya bisa melihat mereka berdua dengn bingung. Mereka bertuga tak mengeluarkan suara apa-apa, hanya menjadi penonton setia layaknya sebuah drama seri yang sedang seru-serunya.
__ADS_1
“Jangan berputar-putar! Aku tahu perjodohan hanya sesuatu di baliknya. Katakan padaku apa sebenarnya keinginanmu,” Freya bukanlah wanita yang suka basa-basi, apalagi tak ada keinginannya untuk menikah, sudah pasti ia akan terus mencari cara untuk menolak keinginan Theo.
“Aku ingin kamu tidak mengundurkan diri dari AR!” jawab Theo.
“Jadi hanya karena itu … begini saja. Aku akan tetap membantumu, tapi aku tak akan berada di sana. Kamu bisa menghubungi asistenku jika membutuhkan sesuatu, maka aku akan membantumu.”
“Tidak bisa!”
“Kalau begitu, carilah orang lain untuk menggantikanku. Lagipula dengan tidak adanya diriku, seluruh keputusan berada di tanganmu. Kita juga tak perlu bertengkar karena perbedaan pendapat.”
Ketiga pria dan wanita paruh baya itu hanya menoleh ke kiri kemudian ke kanan, mengikuti pembicaraan mereka. Hal itu membuat Chris sedikit mengantuk, ia pun menguap.
“Kamu ini, jangan menguap di hadapanku. Sudah tahu menguap itu menular,” bisik Hector dengan kesal. Ia ingin fokus mendengar pembicaraan antara Freya dengan Theo, tapi sejak Chris terus menguap, matanya juga ikut mengantuk, hingga akhirnya kedua pria paruh baya itu pun terlelap.
Sampai 2 jam lebih di dalam ruang VIP tersebut, tetap tidak ada kesepakatan di antara keduanya. Tak ada satupun yang mau mengalah.
“Baiklah, kita sepakat bahwa kita tak akan pernah sepakat. Sebaiknya kita saling menjauh!” ungkap Freya, kemudian mendekati Dad Hector yang masih terlelap.
“Dad, ayo kita pulang!” Freya langsung membangungkan Dad Hector dan mengajaknya pulang. Ia tidak tahan berada 1 ruangan bersama dengan Theo, pria yang hanya mau menang sendiri. Menyebalkan!
**
Sementara itu di dalam sebuah apartemen, seorang wanita sedang menggoyangkan pinggulnya untuk memuaskan seorang pria. Meskipun pria ini sudah berumur, tapi wanita ini tahu bahwa ia akan mendapatkan uang.
“Ayo, gerakan bokkongmu.”
“Tapi aku lelah. Sedari tadi aku terus yang bekerja dan memuaskanmu.”
“Aku akan membayarmu, tentu saja kamu harus memuaskanku.”
“Apa kamu tidak ingin mencoba bermain sedikit kasar?” Tanya sang wanita.
“Apa maksudmu?”
Wanita itu berjalan ke sebuah lemari, kemudian mengambil 2 buah ikat pinggang.
“Ikatlah aku,” dengan sensasi dan cara permainan baru, pria itu pun menuruti. Ia mengikat kedua tangan wanita itu ke atas kiri dan kanan. Kini tubuh wanita itu terpampang sangat jelas, membuat liur pria itu menetes.
“Bagaimana? Bukankah ini akan luar biasa?” Pria itu langsung naik ke tubuh wanita itu dan memasukkan miliknya. Ia menghentakkannya dengan kasar, membuat wanita di bawahnya terus mengerangg danmendesaah tak karuan.
__ADS_1
Brakkk!!!
🌹🌹🌹