
Freya tak terlalu banyak bicara saat berada di hadapan Nic dan juga Theo. Ntah mengapa ia tak suka melihat keberadaan Theo di sana. Pria itu selalu saja memandang sinis ke arahnya seakan ingin mengulitinya hidup-hidup. Ia tidak tahu bahwa Freya juga bisa melakukan itu padanya.
“Kamu sudah selesai, Bry?” tanya Freya.
“Sudah.”
“Ayo kita kembali ke kamar. Nic, aku kembali ke kamar dulu, di sini panas,” ujar Freya yang pamit pada Nic, tanpa melihat ke arah Theo.
Di dalam kamar hotel,
“Apa kamu ada masalah dengan Tuan Theo?” tanya Bryona.
“Tidak ada, hanya saja aku tidak suka dengannya. Keluarga kami menjodohkan kami berdua. Ia mengira aku menyetujui hal tersebut. Ia kan laki-laki, seharusnya ia memiliki prinsip sendiri dan berani berbicara pada kedua orang tuanya. Ini malah menyalahkan aku,” ungkap Freya kesal.
“Kalau begitu, kita bicarakan hal lain saja. Oya, aku belum melihat asisten barumu,” Bryona mengernyitkan dahinya.
“Ia akan menyusul ke sini. Ia harus menyelesaikan beberapa hal agar proyek selanjutnya bisa segera kita kerjakan.”
“Sepertinya asistenmu sangat cekatan.”
“Tentu saja. Ia adalah mantan manager dari seorang aktris di Eropa sana, hmm … Aurora Frederica, ya itu nama aktrisnya.”
“Wow, bukankah dia aktris terkenal?”
“Ya, dan aku juga akan membuatmu terkenal seperti itu, Bry. Tunggu saja!”
Mereka akan mengadakan peluncuran produk besok siang. Hari ini mereka hanya beristirahat dan sebagian team sudah berada di lokasi untuk memeriksa persiapan dan kelengkapan semuanya.
Keesokan harinya, acara peluncuran berjalan dengan sangat lancar. Nicholas turut naik ke atas panggung dan menemani Bryona. Mereka menarik perhatian pria dan wanita yang berada di Mall tersebut. Sementara Theo hanya menyaksikan dari samping panggung.
Mereka selesai menjelang sore, para kru diperintahkan oleh Freya untuk mengambil barang-barang yang penting saja, sisanya akan diurus oleh management Mall. Mereka semua kembali ke hotel dan beristirahat.
__ADS_1
Malam itu, Nic mengajak Bryona dan Freya untuk keluar menikmati Kota Guadalajara. Nic meminta pihak hotel untuk menyediakan sebuah mobil, agar ia bisa berkeliling kota.
Mereka duduk di sebuah cafe dan menikmati makan malam bersama, “Ke mana kita setelah ini?” tanya Nic.
“Acapulco,” jawab Freya.
Mendengar Acapulco, Nic langsung melihat ke arah Theo, seakan mengatakan mengapa kamu membiarkan mereka memilih kota itu.
“Kamu yakin?” tanya Nic.
“Sangat yakin. Mengapa? Apa kamu takut?”
“Tidak, aku tidak takut. Tapi bukankah sebaiknya kita menghindarinya?”
“Aku dan team akan pergi sendiri jika kamu tak ingin ikut. Bagi kami tidak masalah.”
Bryona hanya memperhatikan pembicaraan antara Freya dengan Nic. Ia tahu bahwa Acapulco bukan lagi kota yang aman. Perdagangan narkoba dan pembunuhan menjadi kasus terbesar di kota itu saat ini. Namun, Freya melihat peluang besar di sana, karena itulah ia memilih Acapulco.
**
Tak ada hambatan berarti selama peluncuran produk, dan semuanya sesuai dengan ekspektasi Freya. Begitu banyak yang tertarik dengan produk liptint tersebut.
“Riana, perkenalkan ini adalah Bryona, My Scarlett. Bry, ini Riana, asistenku,” Freya memperkenalkan Bryona pada Riana dan begitu pula sebaliknya.
“Jadi dia yang mempersiapkan semua ini?” tanya Bryona saat melihat tempat peluncuran produk. Semua rapi dan terkendali, sehingga acara berjalan dengan lancar dan cepat selesai.
“Hmm, bagaimana? Tidak salah bukan aku memilihnya,” jawab Freya tersenyum.
Bryona mengangkat kedua ibu jarinya di hadapan Riana. Usia Riana saat ini sudah 30 tahun, tapi ia bisa mengimbangi dengan cara kerja Freya, sungguh luar biasa.
Seluruh team beristirahat karena besok pagi mereka akan pergi ke Kota Campeche, kota terakhir sebelum mereka kembali ke Kota Meksiko.
__ADS_1
“Aku akan keluar sebentar, apa kamu ingin ikut?” tanya Freya pada Bryona.
“Aku ikut,” Bryona tak ingin membuarkan Freya pergi seorang diri, mengingat Kota Acapulco bukanlah kota yang aman. Setidaknya jika berdua, mereka bisa saling melindungi.
Bryona dan Freya berjalan keluar hotel dan itu disaksikan oleh Nic dan Theo, “Kemana mereka mau pergi?” tanya Nic.
“Mana ku tahu,” Theo menjawab sambil mengendikkan bahu.
“Ayo kita ikuti mereka,” ujar Nic. Bagaimanapun ia harus melindungi kedua wanita itu, terutama Bryona. Ia tak ingin wanita itu terluka sedikit saja.
Dari kejauhan, mereka bisa melihat kalau Bryona dan Freya masuk ke dalam satu minimarket. Setelah selesai membeli, mereka keluar. Namun, mereka langsung dihadang oleh segerombolan preman yang sepertinya berniat untuk mengganggu mereka
“Te, kita harus ke sana!” Kata Nic.
“Ke sana? Untuk apa? Cari mati?” Theo berpikir dengan logikanya. Jika ia ke sana, yang ada ia sama saja dengan mengantarkan nyawanya, karena bagaimana cara ia membantu jika ia tak bisa berkelahi. Yang ia miliki saat ini hanya otak, sehingga saat Nic menghampiri kedua wanita itu, Theo membuka ponselnya dan mulai menekan beberapa tombol untuk menghubungi pihak kepolisian.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Freya. Bryona dan Freya berdiri tanpa rasa takut. Empat orang preman di hadapannya sepertinya ingin meminta uang dari mereka. Semuanya akan mudah … jika Nic tidak datang menghampiri.
“Hei!! Jangan mendekati mereka,” kata Nic sambil berjalan mendekati Bryona dan Freya, kemudian berdiri di depan kedua wanita tersebut untuk melindungi mereka.
“Ck ,” Freya berdecak kesal ketika melihat Nic berada di depannya, sementara Bryona tersenyum karena Nic berusaha melindungi mereka.
“Berikan aku uang, semua uang kalian. Cepat!!” teriak sang preman.
“Berapa yang kamu inginkan? Aku akan memberikannya,” kata Nic.
“Kami tidak akan memberikan sepeserpun! Sebaiknya kalian bekerja, bukan hanya memeras orang lain,” kata Freya.
“Ouuu jadi kamu berani dengan kami, gadis cantik. Kalian berdua terlihat lezat. Sepertinya kami akan mengikat pria ini agar melihat kami mencicipi kalian berdua,” ujar sang preman.
“Baiklah kalau begitu, majulah!” Nic menoleh ke arah Bryona ketika wanita itu mengatakan apa yang tidak seharusnya. Sementara Freya tersenyum mendengar ucapan Bryona. Sepertinya inilah saatnya mereka untuk mengasah kemampuan bela diri mereka.
__ADS_1
Bughh!!!
🌹🌹🌹