
Theo keluar dari kamar tidur, meninggalkan Nic seorang diri. Nic berjalan mengitari ruangan tersebut. Ia bisa menghirup harum khas Bryona di sana. ia melihat meja rias Bryona yang terlihat sangat sepi, tak seperti kebanyakan wanita.
“Apa dia tidak suka berdandan?” gumam Nic.
Ia kembali berjalan, melihat sebuah lemari yang tingginya hingga ke plafond. Di sana tersusun buku-buku yang berbau arsitektur dan seni. Keingintahuan Nic pada Bryona sepertinya sangat dalam, ia bahkan sudah berada di dalam wardrobe milik Bryona. Ia membuka satu demi satu lemari tersebut dan menyadari bahwa pakaian keseharian Bryona sangat simple, antara T-shirt ataupun kemeja, yang dipadukan dengan celana panjang.
Mata Nic menangkap sebuah pakaian yang terasa tak asing. Ia seperti pernah melihatnya, namun ia lupa di mana. Kemudian matanya menangkap sebuah kotak berwarna hitam yang berada di paling bawah lemari. Sebenarnya ia tak ingin membukanya karena merasa tak etis, namun lagi-lagi keingintahuannya tetang seorang Bryona mengalahkan segalanya.
Nic menarik kotak tersebut kemudian membukanya. Matanya membulat saat melihat apa yang berada di dalam kotak tersebut.
Apakah dia? - Nic ingin membuang prasangka buruk itu dari pikirannya, tapi bukti ada di depan matanya. Saat ini ia merasa seperti sedang ditipu mentah-mentah oleh seorang wanita.
“Apa dia sengaja mendekatiku? Apa dia sama dengan wanita lain yang hanya menginginkan ketenaran dan harta? Bagaimana bisa ia membohongiku,” gumam Nic. Kemudian ia menutup kembali kotak tersebut dan mengembalikannya ke tempat semula. Ia bersandar pada headboard tempat tidur sambil menatap ke arah jendela.
**
Freya dan Bryona sampai kembali di kediaman Rodriguez menjelang malam, setelah mereka menyelesaikan semua pekerjaan di resto La Siera. Freya telah memindahkan Adela ke bagian kasir. Ia berharap hal itu bisa diterima oleh Uncle Tito.
“Apa kalian sudah makan?” tanya Freya pada anggota team-nya saat ia dan Bryona memasuki ruang tamu. Mereka semua menjawab dengan gelengan.
Bryona terkekeh, “tenanglah, kami sudah membawakan makan malam untuk kalian dari resto La Siera.”
Hal tersebut disambut baik oleh seluruh team, mereka langsung mengambil alih beberapa kantong yang dibawakan oleh Bryona. Dari lantai atas, Nic memperhatikan Bryona. Semakin ia melihat wanita itu, keyakinannya semakin kuat. Ia pun kembali masuk ke dalam kamar dan tidur, tanpa makan malam.
Keesokan paginya, mereka semua bersiap menuju lokasi peluncuran produk yang dilakukan di pinggir pantai, berdekatan dengan resto La Siera.
“Chie, panggilkan Tuan Nic dan Tuan Theo. Katakan pada mereka kita akan segera berangkat.”
__ADS_1
“Baik, Nona,” Ichie yang adalah salah satu staf di team Freya langsung naik ke lantai atas menuju kamar tidur yang ditempati oleh Nic dan Freya. Setelah membuka pintu dan memeriksa, ia langsung kembali berlari ke bawah.
“Tuan Nic dan Tuan Theo tidak ada di kamarnya, Nona.”
“Tidak ada bagaimana?” tanya Freya. Bryona mengernyitkan dahinya karena ia juga penasaran.
“Kamar kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka, bahkan tempat tidurnya masih terlihat rapi.”
“Apa mungkin mereka langsung pergi ke sana?” tanya Bryona.
“Mungkin. Kalau begitu biarkan saja. Kita berangkat sekarang,” Seluruh team memasukkan semua property yang akan mereka pergunakan di hari terakhir acara peluncuran produk.
Di tempat acara, sebuah panggung sudah disediakan. Para tamu yang datang kebanyakan menggunakan pakaian bernuansa pantai. Bryona juga mempersiapkan diri dengan menggunakan sebuah pakaian renang one piece, dengan kain sebagai penutup dari pinggang ke bawah.
Semua yang hadir menyorakinya ketika ia naik ke atas panggung dan memperkenalkan produk tersebut. Sampai acara selesai, tak terlihat sama sekali keberadaan Nic dan Theo. Bagi Freya tidak masalah, tapi Bryona merasa kehilangan seorang Nicholas Gerardo.
**
“Tidak apa-apa, aku hanya memikirkan pekerjaan di sini yang terbengkalai,” jawab Nic.
“Terserah padamu. Aku tak percaya dengan jawabanmu, tapi aku senang kita kembali ke sini,” Theo pun masuk ke dalam kamar tamu dan beristirahat. Saat ini mereka berada di kediaman Gerardo dan langsung beristirahat.
Keesokan paginya, Nic masih saja berada di atas tempat tidurnya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
Bryona, Bryan, Bryona, Bryan, apakah mereka orang yang sama? T-tapi bagaimana mungkin? - Nic memejamkan matanya, seakan memikirkan semuanya.
Hari demi hari berlalu, mereka semua sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Nic terus memfokuskan diri pada pekerjaannya agar pikirannya tak terus tertuju pada Bryona dan Bryan.
__ADS_1
“Nic, apa kamu tak ingin pulang?” tanya Theo ketika melihat Nic masih saja bekerja, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Semua karyawan sudah pulang.
“Pulanglah lebih dulu, masih ada yang perlu aku kerjakan,” jawab Nic.
“Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu! Jangan merusak tubuhmu sendiri,” Theo mulai kesal karena melihat sahabatnya menyimpan semua masalahnya sendiri.
“Te, aku harus bagaimana? Aku menyukainya, bahkan aku sepertinya sudah mencintainya. Tapi … aku menemukan suatu kebenaran yang membuatku merasa ditipu olehnya,” ungkap Nic pada Theo.
“Berceritalah padaku. Aku akan mendengarkanmu,” akhirnya Nic menceritakan semuanya, mulai dari kejadian saat Bryan untuk pertama kalinya membantu dirinya.
“Jadi kamu berpikir bahwa dia sengaja mendekatimu seperti wanita yang lain?” Nic menganggukkan kepalanya.
“Hanya saja ia berpakaian seperti pria dan mendekatkan dirinya padaku. Kamu tahu, Te, aku sampai pergi ke tempat Luis karena mengira diriku memiliki kelainan karena menyukai sesama jenis,” Theo yang awalnya serius, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
Pletakkk!!!
Nic memukul Theo karena berani menertawakannya, “Sepertinya semua kejadian saling bertautan. Aku bisa mengambil kesimpulan bahwa memang Bryan adalah Bryona dan Bryona adalah Bryan. Barusan kamu bercerita tentang kejadian saat kita di Villahermosa dan juga saat kamu pergi ke Jepang, semuanya pas.”
Nic mulai berpikir seperti apa yang Theo pikirkan. Jadi malam saat dia mabuk di Villahermosa, dia benar-benar melihat Bryona di dalam kamar hotel Bryan. Begitu pula saat di Jepang ketika malam ia mabuk sehabis minum sake, di mana ia hampir saja menghabiskan malam panjangnya bersama Bryona.
“Tapi jika memang ia mengincar uangmu, ia pasti akan dengan senang hati memberikan tubuhnya. Tapi bukankah kamu selalu gagal?” tanya Theo.
“Aku gagal 2 kali karena mabuk dan tiba-tiba tak sadarkan diri, tapi saat kita di Acapulco … kurasa kami sudah hampir melakukannya jika saja kamu tidak masuk ke kamar … Argghhh!!” cerita Nic kesal.
“Jadi, sebenarnya kamu juga menginginkannya?”
“Aku tidak tahu, hanya saja sekarang aku jadi berpikir seperti apa yang wanita itu katakan di acara launching produk, bahwa Bryona menggunakan tubuhnya untuk menjadi seorang model dan aktris.”
__ADS_1
🌹🌹🌹