
Pagi-pagi, Theo sudah berada di depan rumah keluarga Rodriguez. Ia berencana untuk menjemput Freya dan mengajaknya untuk sarapan bersama.
“Pagi Uncle,” sapa Theo pada Hector yang berada di taman depan. Ia sedang berolah raga kecil.
“Theo?” Hector menatapnya heran. Ia tidak menyangka melihat putra dari sahabatnya itu di rumahnya, apalagi pagi-pagi seperti ini.
“Aku ingin bertemu dengan Freya,” jawab Theo.
“Apa ada masalah lagi di perusahaan? Biar Uncle saja yang membantumu,” ujar Hector.
“Tidak Uncle, tidak ada masalah. Aku hanya ingin menjemput Freya dan mengajaknya sarapan.” Hector cukup terkejut dengan perkataan Theo, namun di dalam hatinya ia berbunga-bunga karena putra sahabatnya itu mulai membuka hati untuk putrinya. Hanya saja Freya bukanlah wanita yang mudah untuk ditaklukkan.
“Masuklah. Tunggulah di dalam. Sebentar lagi biasanya ia akan turun.”
“Terima kasih, Uncle,” Hector tersenyum dan membiarkan Theo masuk sendiri ke dalam rumah.
Benar saja, tak sampai 10 menit Freya turun dari lantai atas. Ia melihat seseorang di ruang tamu, ia sedikit heran siapa yang bertamu pagi-pagi.
“Tuan Alexander,” kata Freya ketika melihat Theo berada di ruang tamu rumahnya.
“Frey, bisakah kamu berhenti memanggilku dengan panggilan itu?”
“Bukankah hubungan kita hanya sekedar hubungan pekerjaan? Maka akan lebih baik kalau aku memanggilmu seperti itu.”
__ADS_1
“Frey,” Theo berjalan mendekati Freya, kemudian menarik pinggangnya hingga tubuh mereka dekat tak berjarak. Freya bisa merasakan hembusan nafas Theo yang beraroma mint, membuat tubuhnya tiba-tiba merasakan gelenyar aneh.
Theo mendekatkan wajahnya ke wajah Freya hingga kening mereka bersentuhan, “Apa kamu tak bisa membuka hatimu untukku? Aku minta maaf jika kesan pertama saat kita bertemu tidak berjalan sebagaimana mestinya.”
Tubuh Freya seakan terdiam ketika Theo mendekatkan bibirnya ke bibir Freya. Kedua benda kenyal tersebut bersentuhan dan menimbulkan getaran seperti listrik di tubuh mereka.
Theo yang awalnya hanya menempelkan bibirnya, mulai melummat dan menyesapnya hingga mereka berdua kekurangan oksigen.
“Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku tidak bisa jauh darimu. Ku rasa aku … jatuh cinta padamu,” kata Theo di telinga Freya.
“Ehemm … ehemmm,” Dad Hector yang berada di pintu melihat kedekatan antara Theo dengan putrinya.
“Dad!” Freya langsung melepaskan diri dari Theo dan mendekati Dad Hector.
“Sepertinya kita harus segera menentukan tanggal baik untuk pernikahan kalian,” kata Dad Hector.
“Thank you, Uncle. Aku akan meminta kedua orang tuaku untuk datang ke mari dan melamar Freya,” Freta kembali menoleh ke arah Theo yang mengambil keputusan sendiri.
Theo berjalan mendekati Freya, “Aku pinjam putri Uncle dulu. Nanti kukembalikan,” Theo meraih pergelangan tangan Freya dan membawanya keluar dari rumah.
Mereka berdua kini berada di sebuah cafe yang menyediakan sarapan pagi. Freya menyantap sebuah croisant dan secangkir teh. Sesekali ia mencuri pandang pada pria di hadapannya.
“Apa aku terlihat sangat tampan hingga kamu memandangiku terus?” Freya langsung mengalihkan pandangannya ketika ia tertangkap basah.
__ADS_1
“Aku suka saat kamu menatapku seperti itu,” Theo menggenggam tangan Freya yang berada di atas meja dan kini ia yang menatap wajah wanita di hadapannya itu.
“Mengapa kamu melakukan semua ini?” tanya Freya pada akhirnya. Ia sedikit merasa aneh dengan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Theo.
“Bukankah tadi aku sudah mengatakan bahwa aku menyukaimu, aku jatuh cinta padamu.”
“Tapi aku tidak yakin dengan hal itu. Mungkin saja perasaanmu hanya karena kepindahanku. Kamu merasa kehilangan karena tak ada seseorang yang mengajakmu bertengkar.”
Theo berpindah tempat duduk, dari yang awalnya saling berhadapan, kini ia mengambil tempat persis di sebelah Freya, “Apa yang harus kulakukan agar kamu mempercayai semua perkataanku?”
“Bukankah kamu akan kembali bersama dengan wanita yang kamu cintai?”
“Siapa yang mengatakan padamu?”
“Tidak ada yang mengatakan padaku. Aku melihat sendiri wanita itu di ruanganmu.”
Theo sedikit memicingkan matanya dan melihat ke arah Freya, “Aku tak pernah mengatakan pada siapapun bahwa aku mencintai Crystal. Dari mana kamu mengetahui hal itu?”
Freya sedikit gelagapan karena ia memang mencari tahu informasi tersebut secara diam-diam. Bahkan ia melakukan pencurian data pada laptop dan ponsel milik Theo untuk mengetahui hal itu.
“Bukankah kamu sedang suap-suap-an saat aku memasuki ruanganmu? Aku mengetahuinya dari sana,” Freya berusaha mengelak.
Theo kembali mendekatkan tubuhnya serta wajahnya ke arah Freya, “tak ada wanita lain, hanya dirimu.”
__ADS_1
Theo kembali menarik pinggang Freya, kemudian dengan sebelah tangan ia meraih tengkuk Freya. Ia kembali melabuhkan ciumannya di bibir Freya, tanpa mempedulikan sekitarnya.
🌹🌹🌹