
“Kamu baru pulang?” tanya Dorothy yang melihat Thomas baru saja memasuki ruang tamu.
“Ya, aku lelah sekali,” ujar Thomas.
“Bagaimana? Apa perusahaan sudah ada perkembangan?” tanya Dorothy lagi.
“Belum. Aku harus mencari investor untuk menanamkan modal hingga perusahaan ini bisa bangkit dan berkembang.”
“Jangan-jangan kamu saja yang bodoh! Kita sudah berhasil mengambil perusahaan dari anak sialann itu. Jangan sampai kita tidak bisa mengembangkannya dan kembali hidup miskin.”
“Bisakah kamu diam? Aku baru pulang, tapi mulutmu itu tidak berhenti mengoceh,” Thomas sangat kesal karena setiap kali pulang, ia hanya mendengar ocehan istrinya dan yang dibahas selalu mengenai materi.
“Jadi kamu tidak suka? Aku hanya bertanya, apa susahnya menjawab.”
“Aku sudah menjawabnya, apa kamu tidak mendengarnya? Kalau begitu, telingamu itu yang perlu dibersihkan. Biasakanlah mendengar, jangan hanya bicara saja!” Ucap Thomas ketus.
Namun, perkataan Thomas justru membuat amarah Dorothy semakin bangkit. Ia mengambil sebuah vas bunga dan ingin memukulnya ke arah Thomas. Namun dengan cepat Thomas berbalik dan menangkap tangan Dorothy hingga membuat vas-nya terjatuh. Ia balas mendorongnya, hingga membuat Dorothy terjerembab dan kepalanya mengenai ujung meja. Ia langsung tak sadarkan diri.
Thomas yang panik langsung keluar lagi dan pergi dari sana. Ia tak memeriksa lagi bagaimana keadaan Dorothy. Ia berpikir akan lebih baik kalau ia pergi ke kantor sebagai alibi.
**
Setelah menyerahkan semua tanggung jawabnya pada Uncle Tito, Bryona pamit pada semua rekan kerjanya di sana. Ia mengenal mereka sejak ia tinggal di Kota Campeche, meskipun mereka mengenalnya sebagai Bryan.
Nic telah menunggunya untuk kembali ke Kota Meksiko, kota yang akan menunggu kedatangan mereka.
Dengan pesawat jet pribadi milik keluarga Gerardo, Nic dan Bryona menuju ke Kota Meksiko. Tak ada pembicaraan di antara mereka selama perjalanan. Bryona masih memikirkan apa yang akan ia lakukan ke depannya.
__ADS_1
Sesampainya mereka di Kota Meksiko, Leo telah menunggu mereka. Dengan sebuah mobil mereka diantar menuju ke tempat tujuan.
“Kamu akan membawa kamu ke mana, Leo?” tanya Nic yang merasa jalan itu bukanlah jalan menuju kediaman Gerardo.
Nic berdecak kesal karena Leo tidak menjawab pertanyaannya. Leo memang diperintahkan untuk diam jika ada yang bertanya. Saat ini tugasnya hanya mengantarkan ke tempat dimana Tuan Oscar dan Nyonya Paula berada.
Masuk ke sebuah komplek perumahan, Bryona melihat sepanjang jalan rumah-rumah yang terlihat mewah baginya. Mobil berhenti di sebuah rumah dengan pagar tinggi. Seorang security membukakan pintu dan tersenyum ke arah Leo yang sudah membuka kaca jendelanya.
Nic bisa melihat ke dalam ada mobil orang tuanya dan beberapa mobil lain. Bryona menatap ke arah rumah tersebut dan langsung mengeluarkan air matanya. Sudah lama sekali ia tak menginjakkan kaki di rumah itu, rumah milik keluarga Martinez.
“Daddy?” Bryona langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam. Nic yang melihat Bryona turun pun langsung mengikutinya.
Saat memasuki rumah, Bryona langsung melihat keberadaan Uncle Oscar dan Aunty Paula, “Uncle, Aunty?”
“Akhirnya kamu tiba juga, sayang,” sapa Paula yang langsung mendekati Bryona, “apa semua urusanmu sudah beres di Campeche?”
“Sudah, Aunty. Terima kasih.”
“Apa kamu senang kembali ke sini?” tanya Oscar pada Bryona.
“Sangat. Tapi, bagaimana caranya Uncle mendapatkan kembali rumah ini? Setahuku rumah ini sudah dijual oleh Paman dan Bibiku. Mereka mengatakan kalau menggunakan uangnya untuk membayar biaya pemakaman, juga hutang-hutang keluargaku.”
Oscar tertawa mendengar perkataan Bryona, “dan kamu percaya akan semua ucapan keluarga pamanmu?” Bryona menganggukkan kepalanya.
“Mereka tak akan bisa menjual aset-aset milik keluarga Martinez karena semua itu sudah dipindahkan atas namaku. Aku dan Carlos adalah sahabat sejak kecil. Kami sudah saling berjanji untuk menjaga keluarga sahabat kami jika terjadi sesuatu pada kami. Jadi, kami membuat sebuah surat di hadapan pengacara kami bahwa semua harta kami akan berpindah tangan jika salah satu dari kami meninggal.”
“Setelah kecelakaan itu, suasana sangat tidak kondusif. Bahkan aku kesulitan mencari keberadaanmu. Saat itu aku memang bukan siapa-siapa dan tidak memiliki akses yang luas.”
__ADS_1
“Paman dan Bibi memang membawaku ke kota kecil, tempat keluarga Bibi, setelah kecelakaan itu. Mereka mengatakan kalau itu baik untuk penyembuhan dan pemulihan kesehatanku.”
“Ahhh ternyata seperti itu. Bahkan mereka tidak mengijinkan siapapun menghadiri pemakaman. Mereka menuliskan nama kedua orang tuamu, juga namamu di batu nisan. Aku bodoh sekali percaya begitu saja,” Oscar merasa sangat menyesal karena ia tak mencari Bryona lebih lagi. Saat itu ia sangat terpukul dengan berita kecelakaan itu hingga ia sempat berdiam diri beberapa hari.
“Sudahlah sayang. Bukankah sekarang kita sudah menemukan Yona. Bagaimana kalau kita mengangkat Yona sebagai putri kita?” tanya Paula.
“Idemu boleh juga,” jawab Oscar.
“Tidak!” Mereka semua menoleh ke arah Nic yang berteriak.
**
Luna yang baru saja pulang sehabis bertemu dengan kekasihnya, langsung berteriak, “Ahhhh!!”
Ia langsung menghampiri Mom Dorothy dan memeriksanya. Untung saja masih terasa denyut nadi. Ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi ambulans.
Kalau saja tadi kekasihnya mengantarnya sampai ke dalam, mungkin ia bisa meminta tolong. Namun kekasihnya tak pernah mau untuk masuk ke dalam rumahnya. Bahkan ia belum pernah memperkenalkan kekasihnya itu kepada keluarganya.
Luna masih ada di tahun terakhir kuliahnya. Ia sempat cuti selama 1 tahun karena ingin fokus dengan dunia model dari agency yang ia masuki. Di sanalah ia pertama kali mengenal kekasihnya. Ia sudah beberapa kali menjadi model di acara pameran produk ataupun mobil. Ia juga mendapatkan uang yang lumayan.
Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menunggur di depan ruang ICU, tempat Mom Dorothy ditangani. Seorang dokter keluar dari sana, “keluarga pasien?”
“Saya anaknya, Dok.”
“Kami akan melakukan CT Scan untuk melihat kondisi di kepala pasien. Anda bisa membayar semua biaya administrasi terlebih dahulu di bagian kasir.”
Luna sedikit menggeram kesal, saat ini uangnya sudah menipis karena baru saja ia pakai bersenang-senang dengan kekasihnya. Kini ia harus mengeluarkan uang lagi untuk biaya rumah sakit Mom Dorothy.
__ADS_1
Luna mengeluarkan ponsel dari tas-nya dan menghubungi Dad Thomas, “Dad, apa Dad belum pulang dari luar kota? bisakah transfer uang padaku? Aku memerlukan uang untuk biaya rumah sakit Mom.”
🌹🌹🌹