BIG BIG Girl

BIG BIG Girl
#45


__ADS_3

“Honey, apa kamu sudah selesai?” tanya Nic yang kini berdiri di sebelah Bryona dengan menempelkan dagunya ke atas bahu Bryona.


“Duduklah dulu, kamu membuatku geli,” kata Bryona yang tidak tahan dengan hembusan nafas Nic di bahunya.


“Baiklah, aku akan menunggumu, tapi jangan terlau lama,” Nic mengecup pipi Bryona, kemudian duduk di sofa sambil memperhatikan calon istrinya itu.


Setelah penantian yang cukup panjang sejak pertemuan pertama mereka dan melalui berbagai masalah, akhirnya ia bisa bersama dengan Bryona. Ia tersenyum melihat wajah cantik tunangannya itu yang baru menerima dirinya setelah ia membuktikan dirinya selama 1 tahun.


Nic yang sedang memperhatikan Bryona, merasakan getaran pada ponsel yang ada di sakunya. Ia melihat nama sahabatnya tertera di sana.


“Halo.”


“Nic, apa kamu bisa mengatakan pada Bryona untuk mengembalikan Freya padaku?”


“Apa maksudmu? Aku tak mengerti.”


“Istrimu itu mengambil Freya dari AR Group. Aku memerlukannya di sini.” ujar Theo dengan nada sedikit kesal.


“Kamu memerlukannya atau kamu mulai menyukainya?” goda Nic.


“Jangan menggodaku, Nic. Aku sedang tidak bercanda. Minta pada istrimu itu untuk mengembalikan Freya padaku.”


“Mintalah sendiri. Lagipula bukankah itu keputusan Freya sendiri jika ia akhirnya ingin pindah? Seharusnya kamu sendirilah yang menahan kepergiannya.”


“Ahh kamu bukannya membantuku.”


Nic tertawa kemudian Theo pun memutus sambungan ponselnya. Ia melihat ke arah Bryona yang kini tengah melihat ke arahnya.

__ADS_1


“Sudah selesai?” tanya Nic.


“Sudah. Aku mendengar kamu menyebut nama Freya, apa ada sesuatu dengannya?” tanya Bryona.


“Theo mengatakan kalau Freya mengajukan pengunduran diri dari AR Group, padahal ia sangat membutuhkannya.”


“Ya ampun, sepertinya aku membuat kesalahan,” Bryona menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Kamu tidak salah. Bukankah itu juga keputusan Freya mau pindah atau tidak.”


“Iya kamu benar, tapi akulah yang membuatnya ingin pindah juga. Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Bryona.


“Biar mereka berdua yang menyelesaikan itu. Bukankah seharusnya mereka berdua yang memikirkan kelangsungan AR Group?” jawab Nic.


“Ayo kita pulang. Aku sudah lapar.”


“Kalau boleh, aku ingin memakanmu saja,” bisik Nic di telinga, membuat tubuh Bryona langsung meremang dan terasa panas. Nic baru saja menyentuh titik sensitifnya.


“Sudah jangan mesum. Ayo!” Bryona menarik tangan Nic untuk mengikutinya. Sepertinya ia harus menjauhi pria itu sedikit sebelum terjadi sesuatu di antara mereka.


**


Pranggg!!!


“Kerjamu bagaimana?!! Sudah beberapa tahun ini aku sulit mendapatkan kontrak kerjasama,” Leticia yang berang mulai membanting barang-barang yang berada di dalam apartemennya.


“Bukan aku yang salah, tapi memang namamu yang sudah tidak laku lagi di pasaran,” kata sang manager.

__ADS_1


“Tidak laku? Berani sekali kamu mengatakan itu di depanku. Kamu sebagai manager seharusnya mencarikan pekerjaan untukku, bukan hanya duduk diam menunggu. Kamu kira aku bisa terus membayarmu?”


“Sejak kamu marah-marah di AR Group beberapa tahun lalu dan mengatakan tak ingin bekerja sama lagi dengan mereka, di situlah awal kehancuranmu. Apa kamu tidak tahu kalau G-Corp adalah penyokong AR Group dan G-Corp adalah salah satu perusahaan yang memiliki dampak besar di Meksiko.”


“Cihhh!!! Bilang saja memang kerjamu yang tidak becus. Aku ini aktris, sudah seharusnya sedikit menjual mahal agar nilaiku naik,” kata Leticia sambil melipat kedua tangan di depan dada dan mendengus kesal.


“Kalau begitu jual saja dirimu sana. Mulai hari ini aku berhenti!” Sang manager langsung melemparkan tas yang berisi barang-barang milik Leticia yang menjadi referensi baginya untuk membuat Leticia kembali bekerja. Namun usahanya sama sekali tak dihargai.


Brakkk!!!


Sang manager keluar dari apartemen dan membanting pintu. Ia meninggalkan Leticia. Memangnya hanya sang aktris saja yang bisa marah, ia juga bisa. Ia sudah lelah dan sang aktris hanya bisa mengeluarkan omelan dan sumpah serapahnya saja.


“Pergi sana! Dasar manager tidak berguna! Dia kira aku membutuhkannya. Aku tidak memerlukanmu, bahkan aku tidak hidup bergantung padamu!” teriak Leticia sambil menjatuhkan kembali tubuhnya di atas sofa.


Ia mengambil ponsel dan mulai menge-scroll seluruh nama yang terdapat pada kontaknya. Ia tersenyum ketika melihat sebuah nama.


**


“Dad!” teriak Theo dari arah pintu masuk.


Chris yang sedang duduk di teras taman belakang sambil menyesap teh hangat bersama istrinya hanya diam dan menunggu Theo menghampiri mereka. Jarang sekali putranya itu mencarinya, kalau sampai itu terjadi berarti ada sesuatu yang sangat ia butuhkan atau ia inginkan.


Theo langsung mendudukkan diri di hadapan kedua orang tuanya. Ia menatap wajah mereka bergantian.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Chris sambil kembali menyesap teh miliknya.


“Nikahkan aku!”

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2