
Theo yang melihat kehadiran Crystal di resepsi pernikahan Nic dan Bryona pun sedikit heran. Theo tahu, bahkan sangat tahu siapa-siapa saja yang diundang oleh keluarga Gerardo dan Martinez. Di dalam daftar tersebut tak pernah sekalipun ia melihat nama wanita itu.
Theo yang kini berada di luar apartemen Crystal setelah ia mengantarkannya pulang, hanya bisa bersandar pada mobilnya sambil melihat ke arah salah satu unit apartemen yang baru saja menyalakan lampunya. Ia sangat yakin di sanalah Crystal kini tinggal.
Flashback on
Setelah tak melihat lagi Freya, mata Theo kini tertuju pada seorang wanita bernama Crystal. Tanpa banyak bicara, ia mendekati wanita itu.
“Crystal?” sapa Theo.
“Theo, hi!” sapa Crystal sambil tersenyum.
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Dan apa kamu sendiri? Di mana suamimu?” tanya Theo sambil melihat ke kiri dan ke kanan, seakan mencari seseorang.
“Aku datang sendiri dan sepertinya akan selalu sendiri,” jawab Crystal, membuat Theo menautkan kedua alisnya bertanya-tanya.
“Aku sudah bercerai,” kata Crystal sekali lagi agar Theo mengerti maksud perkataannya. Theo mendengarkannya, tapi di hatinya tak sedikitpun merasakan senang.
Wanita di hadapannya adalah Crystal. Wanita yang sangat ia cintai dan sangat ingin ia jadikan pendamping hidupnya, ibu dari anak-anaknya. Sekarang kesempatan itu terbuka, tapi mengapa perasaannya tak lagi seperti dulu.
“Aku ke sini ingin bicara padamu,” pinta Crystal.
“Bicara denganku?” Crystal mengangguk untuk memperjelas jawabannya.
Akhirnya Theo mengajak Crystal keluar dari hotel menuju ke taman di mana ada kursi taman sehingga mereka bisa duduk.
__ADS_1
“Katakanlah,” Mereka berdua kini tengah duduk bersama di sebuah bangku taman dengan sebuah lampu yang menerangi persis di sebelahnya.
“Aku minta maaf padamu. Aku sebenarnya tahu bagaimana perasaanmu padaku, hanya saja aku menghindar.”
Tak ada suara atau jawaban apapun dari Theo. Pria berkacamata itu hanya memandang lurus ke depan, tanpa melihat ke arah Crystal.
“Sebenarnya aku memiliki perasaan yang sama denganmu, aku mencintaimu. Hanya saja aku merasa tak memiliki masa depan jika bersamamu. Tapi kini, aku telah melihat bahwa dirimu sudah berubah. Kamu sudah menjadi seorang CEO dari AR Group, karena itulah aku yakin bahwa aku akan memiliki masa depan bersamamu,” kata Crystal secara gamblang.
Jadi selama ini kamu tak ingin bersamaku karena melihat bahwa aku tak memiliki harta dan kekuasaan yang kamu inginkan untuk menjamin masa depanmu? Kamu mencari pria lain demi kepentinganmu sendiri, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku. Sekarang kamu kembali dan berharap aku masih memiliki perasaan yang sama. - batin Theo sambil tersenyum kecil.
“Apakah sesempit itu pikiranmu padaku?” tanya Theo.
“Bukan maksudku merendahkanmu. Tapi aku seorang wanita, aku pasti akan memikirkan kehidupanku dan anak-anakku kelak. Aku tak ingin hidup susah dan membuat anak-anakku juga susah. Pikiranku tidak sempit, hanya realistis,” mendengar jawaban Crystal, Theo kembali tersenyum miris. Ternyata selama ini ia mencintai seorang wanita yang tak ingin hidup bersamanya jika dalam keadaan susah.
“Jadi sekarang kamu ingin kita bisa bersama?” tanya Theo to the point. Jika Crystal bisa berkata secara langsung, mengapa ia tidak.
“Kalau aku boleh tahu, apa yang membuatmu bercerai?” tanya Theo.
“Frederic berselingkuh dengan sekretarisnya dan ia sudah berani main kasar denganku,” jawab Crystal.
“Kamu tidak mencintainya?”
“Cinta? Aku tak pernah mencintai siapapun selain dirimu.”
Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tak akan pernah meninggalkanku dan menikah dengan pria lain. Kamu akan menungguku, menemaniku hingga meraih kesuksesan bersama. - batin Theo.
__ADS_1
“Aku akan mengantarmu pulang, ini sudah malam,” Theo bangkit dan akan mengantar Crystal pulang. Crystal merasa Theo begitu memperhatikannya. Hatinya berbunga-bunga dan semakin yakin bahwa Theo akan kembali bersamanya.
Mereka tak banyak bicara di dalam mobil. Theo hanya menanyakan di mana Crystal tinggal dan langsung mengantarnya ke sana. Bahkan ia tak menawari wanita itu untuk makan malam.
“Bolehkah aku jujur padamu?” Theo baru berbicara ketika mereka sampai di depan apartemen tempat tinggal Crystal.
“Katakanlah, aku akan dengan senang hati mendengarkan,” Crystal memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke arah Theo.
“Aku memang seorang CEO seperti yang kamu katakan, tapi AR Group bukan sepenuhnya milikku. AR Group adalah hasil merger antara perusahaan Alexander dan perusahaan Rodriguez, dan didukung dana dari G-Corp.”
“Benarkah?” Crystal sedikit bertanya-tanya.
Ahhh kalau begitu seharusnya aku menggoda Nicholas Gerardo, bukan seorang Theodore Alexander. Tapi sepertinya tidak mengapa. Aku akan memulai dari Theo untuk membuka jalan agar mendapatkan Nic. Bukankah di mana-mana janda itu lebih keren? Kami lebih berpengalaman dan aku yakin para pria tak akan menolak jika di depan mereka ada sesuatu yang menggoda. - batin Crystal.
“Ya, kamu bisa datang ke AR Group jika tak percaya.”
“Aku percaya padamu. Bagiku tak mengapa, yang penting kamu sudah menjadi seorang CEO, bukan lagi seorang asisten ataupun wakil direktur.”
Ku kira ia akan langsung menolak untuk kembali bersamaku jika mendengar bahwa aku bukanlah CEO dari sebuah perusahaan besar. Baiklah, kita lihat saja bagaimana ke depannya, karena saat ini pun aku tak tahu bagaimana perasaanku padamu. - Theo kembali bermonolog dengan dirinya sendiri.
“Aku turun dulu. Apa kamu tidak ingin mampir dulu?” tanya Crystal.
“Tidak, aku akan langsung pulang. Dad dan Mom pasti mencariku.”
“Baiklah, sampai jumpa,” Crystal tersenyum kemudian masuk ke dalam apartemennya. Theo langsung melajukan kendaraannya kembali ke kediaman keluarga Alexander. Pertemuannya malam ini dengan Crystal adalah pertemuan yang tak ia sangka-sangka, bahkan kini ia tahu bagaimana perasaan Crystal padanya.
__ADS_1
🌹🌹🌹