
Theo menarik pergelangan tangan Freya dan membawanya ke dalam ruangannya. Namun, belum sampai di tempat tujuan, Freya mencengkeram lengan Theo dan berbalik memelintir tangan pria itu.
“Ahhh!!!” Theo meringis saat Freya memutar lengannya.
“Jangan sembarangan denganku, Tuan Alexander. Aku bukan wanita lemah yang bisa kamu atur sesukamu. Aku akan melakukan apapun keinginanku,” bisik Freya di telinga Theo. Setelah itu ia langsung menghempaskan tangan Theo dan berlalu dari sana.
Theo mengaduh kesakitan ketika Freya telah melepaskan tangannya. Ia melihat kepergian Freya, “Apa kamu benar-benar tak akan membuka hati untukku?” gumam Theo.
Di dalam ruangannya, Theo sedikit bernafas dengan lega. Meskipun tangannya masih sedikit sakit, namun pekerjaannya sudah 80% selesai. Setidaknya ia tak perlu lembur lagi dan menghabiskan malam dengan semua dokumen di hadapannya.
Theo yang sudah beberapa lama selalu pulang malam, hari ini berencana untuk pulang lebih cepat. Ia mampir ke sebuah coffee shop dan menikmati setiap sesapan. Matanya melihat ke arah luar, menikmati orang-orang yang lalu lalang.
Tiba-tiba matanya menangkap sosok wanita yang tadi ia tinggalkan di dalam ruangannya. Crystal?
Bersama dengan teman-temannya, Crystal baru saja keluar dari sebuah resto yang berada di seberang jalan. Ia terlihat begitu bahagia dengan senyum di wajahnya, seakan hidupnya tanpa beban.
Merek masuk ke dalam mobil. Theo bisa melihat bagaimana cara teman-teman Crystal berpakaian dan ia tahu ke mana tujuan mereka. Meninggalkan kopinya, Theo mengikuti mobil yang dinaiki oleh Crystal.
__ADS_1
Seperti dugaannya, Crystal bersama dengan teman-temannya berhenti di depan sebuah klub. Mereka masuk ke dalam dan seketika hilang dari pandangan Theo.
Theo memarkirkan mobilnya, kemudian ikut masuk ke dalam. Dari kejauhan, ia mengamati tingkah laku Crystal. Ia kini menatap wanita itu dengan pandangan jijik, apalagi melihat wanita itu mabuk dan membuatkan dirinya disentuh oleh sembarang pria.
Tak ada keinginan dalam diri Theo untuk bangkit dari duduknya dan menghajar para pria yang menyentuh Crystal. Mungkin kalau dulu Crystal mengalaminya, ia akan menjadi orang pertama yang akan melindungi wanita itu.
Semakin lama melihat, Theo semakin jijik dengan apa yang dilakukan oleh Crystal. Ia bahkan bermesraan dengan pria yang Theo yakin tak Crystal kenal sama sekali. Mereka berciuman dengan mesra di sebuah sofa di dalam ruangan yang remang-remang dan musik yang gegap gempita.
Sudah hampir 2 jam Theo berada di dalam klub tersebut. Ia kini melihat Crystal berjalan bersama dengan seorang pria, menuju ke lantai atas klub. Semua orang tahu apa yang ada di atas klub, kamar-kamar yang disewakan bagi para pengunjung untuk menghabiskan malam mereka dengan kegiatan panas.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Theo pun segera keluar dari klub tersebut. Awalnya ia berniat membantu Crystal jika memang wanita itu mabuk dan tak bisa pulang. Namun kenyataan lain ia dapatkan. Kini ia sangat yakin tak akan pernah kembali dan menambatkan hatinya lagi pada seorang wanita bernama Crystal.
“Honey, lagi …,” bisik Nic di telinga Bryona.
“Aku lelah,” Bryona merasa tubuhnya sangat lelah. Bagaimana tidak, Nic terus saja menggempurnya sepanjang malam.
“Tapi aku belum. Aku ingin lagi …,” ujar Nic.
__ADS_1
“Biarkan aku istirahat dulu sebentar ya,” pinta Bryona.
Nic mendiamkan Bryona sebentar, namun matanya terus saja menoleh ke arah istrinya itu. Sesekali ia melihat ke arah senjata pamungkasnya yang sudah kembali tegak berdiri. Setiap kali ia melihat tubuh polis Bryona, membuatnya ingin kembali merasakan nikmatnya surga dunia.
Nic mendekatkan tubuhnya ke arah Bryona. Ia mulai mencium pipi istrinya itu dengan lembut dan perlahan, kemudian turun ke leher jenjangnya. Sementara itu tangan sebelahnya mulai menaiki gunung kembar yang sangat mudah untuk didaki. Kadang mendaki gunung, kadang menuruni lembah.
Bryona yang kembali merasa tidurnya terganggu pun akhirnya membuka matanya meskipun ia benar-benar masih sangat mengantuk.
“Aku masih mengantuk,” kata Bryona pelan.
“1 kali lagi saja … ya … ya. Aku benar-benar tak bisa tidur. Lihatlah bagaimana ia berdiri dengan tegaknya,” kata Nic sambil memperlihatkan senjata pamungkasnya.
Bryona yang awalnya sangat mengantuk, langsung membulatkan matanya. Ia mulai berpikir apakah suaminya itu minum obat kuat atau semacamnya, karena ia tak merasa lelah sama sekali, bahkan meminta lagi dan lagi.
Nic mulai kembali menciumi istrinya itu. Ia memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada tubuh istrinya hingga membuat kulitnya meremang. Ketika Nic menyentuh titik sensitif milik Bryona, tubuh wanita itu langsung bereaksi dan itu membuat Nic semakin bergairrah.
Setelah melakukan pemanasan, Nic langsung masuk pada intinya. Ia tahu Bryona sangat lelah. Oleh karena itulah ia yang bergerak. Nic terus menghentakkan miliknya ke milik Bryona, membuatnya sedikit mengerrang dan Bryona mendessah.
__ADS_1
Suara-suara memenuhi kamar tidur mereka, hingga pada akhirnya mereka mencapai puncak secara bersamaan. Nic menjatuhkan tubuhnya di samping Bryona. Ia memberikan kecupan di kening istrinya kemudian mengelus punggung mulus itu. Nic dan Bryona pada akhirnya sama-sama terlelap kembali.
🌹🌹🌹