
Bryona turun ke lantai bawah, untuk kembali melihat bagaimana kinerja para stafnya. Sebenarnya ia jarang melakukannya dan terbiasa melihat melalui CCTV. Hal itu karena Bryona pernah bekerja bersama mereka dan tahu bagaimana kerja mereka. Tanpa diawasi-pun mereka akan bekerja dengan keras dan giat untuk memajukan resto La Siera.
Bryona mendekati koki utama mereka, Uncle Tito, “Uncle, apa aku bisa berbicara sebentar?”
Tito melihat ke arah Bryona, “tentu saja, sebentar,” Tito mencuci tangannya terlebih dahulu, setelah itu ia keluar dari dapur.
“Ada apa?”
“Aku sudah memberhentikan Adela,” tuturnya pelan.
Tito tersenyum seakan sudah tahu apa yang terjadi, “sepertinya kamu sudah mengetahui semuanya.”
“Apa Uncle juga sudah mengetahuinya? Mengapa tidak mengatakan padaku?”
“Aku tak ingin dianggap sebagai seorang penjilat apalagi aku tahu bahwa ia adalah temanmu.”
“Uncle, maafkan aku. Kalau hari ini aku tidak melihat CCTV, aku tidak tahu bahwa ia berani melakukan hal seperti itu,” Bryona merasa sangat bersalah. Saat Freya ingin menempatkan Adela di resepsionis, sebenarnya perasaannya juga tidak enak. Namun ia tak bisa merubah keputusan Freya yang notabene adalah pemilik La Siera.
“Tidak apa. Tenanglah. Uncle mendukungmu,” Bryona tersenyum ketika mendapat tepukan di bahunya. Ia seperti memiliki dukungan yang jarang ia dapatkan.
Tito akhirnya kembali ke dapur dan Freya berjalan di lantai bawah untuk melihat situasi.
Klining ning …
Lonceng di pintu masuk kembali berbunyi, namun kali ini ia melihat sosok pria yang sudah lama tidak ia lihat. Rindu? Ya. Namun ia juga merasa malu karena pernah mengharapkan sentuhan dari pria itu.
“Tuan Nic, silakan duduk,” Bryona mengambilkan buku menu dan memberikannya kepada Nic. Ia memanggil seorang waiter untuk memberikan sebuah tablet yang mereka gunakan untuk mencatat pesanan.
“Berikan saja kopi pahit untukku,” pinta Nic sambil menatap tajam ke arah Bryona.
__ADS_1
“Tunggu sebentar,” Bryona tak mencatat pesanan tersebut. Ia meminta waiter untuk membuatkan secangkir kopi untuk Nic.
“Apa kita bisa bicara di ruanganmu?” tanya Nic.
“Apa ada hal penting?”
“Ya, sangat penting,” jawab Nic. Bryona akhirnya membawa Nic ke ruangannya. Ia juga meminta kopi tadi diantar ke atas.
Mereka duduk di sebuah sofa panjang yang ada di ruangan tersebut, “Silakan duduk.”
Tokk tokk tokkk …
Seorang waiter masuk dan meletakkan secangkir kopi di sebuah meja kaca yang berhadapan dengan sofa panjang itu.
“Terima kasih,” ucap Bryona.
Nic tak henti-hentinya melihat ke arah Bryona, membuat Bryona sedikit merasa gugup.
Nic mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah kacamata yang ia yakini sama persis dengan milik Bryan Martin. Ia memasangkan kacamata tersebut pada Bryona. Tepat sekali hari ini Bryona menguncir kuda rambutnya.
Setelah memasangkannya, Nic mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Bryan Martin. Ia menekan sebuah tombol pada layar ponselnya, tak lama ia mendengar suara ponsel berbunyi.
“Sepertinya ponselmu berbunyi,” Nic mengarahkan pandangannya pada Bryona. Bryona bangkit dari duduknya dan mengambil ponselnya. Matanya membulat ketika melihat nama siapa yang tertera di sana.
Bryona langsung melepaskan kacamata yang dipasangkan oleh Nic dan meletakkannya di atas meja. Tubuhnya sedikit menegang ketika Nic terus menatap tajam ke arahnya.
“Kita bertemu kembali Bryan Martin. Aku baru tahu kalau ternyata Bryan adalah seorang wanita,” perkataan Nic pelan namun begitu tajam menusuk.
“Maaf, bukan maksudku untuk menipumu. Lagipula tak masalah bukan aku pria ataupun wanita, karena tujuanku hanya bekerja,” balas Bryona.
__ADS_1
Nic bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Bryona, “Hmm, bagimu memang tak masalah. Tapi tahukah kamu kalau aku menyangka diriku sendiri menderita kelainan?”
Bryona memundurkan tubuhnya ketika Nic terus berjalan mendekatinya, “Aku tak mengerti maksudmu.”
“Mungkin kamu akan tahu maksudku setelah ini,” Nic mengungkung tubuh Bryona di dinding dengan wajah yang saling berdekatan. Ia melummat dengan buas bibir Bryona hingga tak membiarkan gadis itu untuk bernafas.
Bryona memukul dada Nic, namun tangan Nic menahan tangan Bryona. Ia menggigit bibir gadis itu agar terbuka. Ia kembali melummatnya, hingga ia merasakan bulir air mata jatuh di pipi gadis itu.
“Jangan menangis di hadapanku, bukankah ini yang kamu incar? Kamu menyamar menjadi seorang pria dan mendekatiku. Kamu sama dengan wanita lainnya yang hanya mengincar diriku karena harta san kekuasaan.”
Plakkk!!
Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Nic, “keluar dari ruanganku.”
“Siapa yang kamu tiduri hingga bisa berada di posisimu saat ini? Menjadi manager di restoran terkenal di Kota Campeche dan menjadi model serta bintang iklan yang mulai terkenal?”
Plakkk!!
Untuk kedua kalinya Bryona menampar Nic. Ia tak menyangka pria di hadapannya sama saja dengan pria lainnya. Ia mengira Nic berbeda. Nic yang ia kenal adalah Nic yang begitu baik dan ramah, yang tak pernah menilai seseorang dari kaya atau miskin.
“Keluar dari ruanganku. Aku minta maaf jika kamu merasa aku menipumu. Tapi aku tak akan memaafkanmu karena perkataanmu barusan. Sekarang keluar! Keluar!!”
Nic memegang pipinya yang terasa begitu sakit, sesakit hatinya saat ini. Ketika ia mencintai seorang wanita, ternyata wanita itu sudah menipunya sebelum hubungan mereka dimulai.
Tanpa meminum kopinya yang sudah berubah dingin, Nic keluar dari ruangan Bryona. Bryona mengambil tissue dan mengusap bibirnya yang baru saja dicium oleh Nic. Kalau saja Nic melakukannya dengan lembut, mungkin Bryona akan dengan senang hati menerimanya.
Nic membanting pintu mobilnya dengan kasar. Ia mengacak-acak rambutnya dan memukul kemudi mobilnya, “Argghhh!!”
Ia akhirnya terbang kembali ke Kota Meksiko, meninggalkan semua kenangannya di sana.
__ADS_1
🌹🌹🌹