BIG BIG Girl

BIG BIG Girl
#48


__ADS_3

Thomas menjambak rambutnya dengan kasar. Ia tak menyangka bahwa dirinya akan memiliki seorang anak, namun akibat kesalahannya kini anak itu bahkan tak akan bisa melihat ke dunia. Bahkan berkembang saja tidak karena kini ia sudah tidak ada lagi.


Dulu, Thomas selalu percaya kalau istrinya, Dorothy mengatakan kalau dirinya mandul. Karena itu jugalah ia dengan terpaksa menyayangi Luna. Namun ternyata ia salah, ia tidak mandul. Itu semua hanya akal-akalan Dorothy saja karena ia menginginkan Luna menjadi pewaris seluruh harta milik keluarga Alberto, yang meskipun tak seberapa.


“Esme, bangunlah! Mau sampai kapan kamu tertidur? maafkan aku,” Thomas yang berada di sebelah brankar di mana Esme berbaring, terus berbicara sambil memegang tangan sekretarisnya itu.


Esme yang terusik dengan suara isakan Thomas, mengerjapkan matanya. Ia melihat pria yang adalah kekasihnya, teman tidurnya, sekaligus atasannya, kini berada di sampingnya.


Melihat Thomas yang menangis di sampingnya, ia sudah tahu apa yang terjadi dengannya. Awalnya Esme ingin memberitahukan kabar bahagia itu pada Thomas. Memang setiap kali berhubungan, mereka tak pernah menggunakan pengaman, karena menurut mereka rasanya kurang nyaman.


Thomas juga mengira dirinya mandul, jadi tidak akan masalah dia membuang di mana saja bibit miliknya. Namun kali ini ia sungguh menyesal. Ia telah lama menunggu seorang anak yang adalah miliknya sendiri, tapi justru dirinya sendirilah yang membunuh calon anaknya itu.


“Apa yang sedang kamu tangisi? Mulai hari ini aku berhenti jadi sekretarismu. Aku tak mau lagi menjadi penghangat ranjang pria yang akan jatuh miskin. Apalagi dia sudah membunuh anaknya sendiri.”


“Maafkan aku, Es. Aku tidak tahu kamu sedang hamil,” ungkap Thomas.


“Ooo, jadi kalau aku tidak hamil, kamu tidak akan menyesal melakukannya? Pergilah, aku tak ingin melihatmu lagi.”

__ADS_1


“Es!” Esme memalingkan wajahnya dari Thomas. Ia masih muda, ia akan mencari pria lain yang lebih segalanya dari Thomas. Ia tak peduli. Tak ada lagi yang mengikat di antara mereka berdua dan ia juga bisa menghindar dari kemungkinan hidup miskin bersama Thomas yang kehancuran perusahaannya sudah mulai terlihat.


**


Di sebuah butik, Bryona dan Nic sedang mencoba gaun pengantin dan juga tuxedo yang akan mereka gunakan pada acara pernikahan mereka nanti.


Di depan sebuah cermin besar, Bryona melihat pantulan dirinya dengan gaun sederhana, namun terlihat sangat elegan dan berkelas.


Dad, Mom, aku akan menikah. Aku percaya Nic adalah pria yang baik, begitu juga keluarganya. Aku sangat berharap kalian merestui kami. - batin Bryona.


Nic terpesona dengan penampilan Bryona dengan gaun putih tersebut. Ia bahkan sampai tak mengedipkan mata saat melihatnya.


“Kamu sangat cantik,” puji Nic.


Bryona merasa sangat beruntung memiliki Nic yang sangat mencintainya, meskipun pernah ada kesalahpahaman di antara mereka, namun pada akhirnya bisa selesai. Ia juga akan memiliki mertua yang baik luar biasa, bahkan menyayanginya seperti putri mereka sendiri.


Ia mulai mengingat kembali masa-masa di mana ia harus menerima hinaan, cacian, bahkan pukulan. Ia sungguh bersyukur saat ini semua yang ia dapat adalah kebalikannya. Takdir sudah berubah. Ia akan menemukan jalannya sendiri ketika kita berada di jalan yang benar.

__ADS_1


Bryona sudah mendengar tentang kematian Bibi Dorothy. Ia sangat menyesali hal itu. Kalau saja ia tahu lebih cepat, mungkin ia bisa membantu. Ia tak ingin menaruh dendam terlalu lama dalam hatinya karena dendam dan sakit hati adalah awal dari kerusakan jiwa yang akan menimbulkan penyakit.


Ia percaya balasan itu datangnya dari Tuhan. Jika ia juga jahat dan membalas, lalu apa bedanya dirinya dengan mereka. Ia sebenarnya ingin tahu mengenai keadaan Paman Thomas dan juga sepupunya Luna, namun niat itu ia urungkan untuk sementara ini. Ia akan mencari tahu setelah ia menikah.


“Kamu sangat tampan,” Bryona berbalik memuji calon suaminya itu.


“Ahhh kalau itu aku sudah tahu, kamu tidak perlu memberitahuku,” Bryona langsung berdecak kesal karena Nic terlalu narsis dengan dirinya sendiri.


“Tidak jadi kalau begitu,” ucapnya sambil memutar tubuh ingin mengganti kembali gaunnya.


“Hei, hei, honey bunny sweety baby,” Nic menarik pergelangan tangan Bryona dan meraih pinggang calon istrinya itu. Tubuh mereka begitu dekat dan tak ada jarak lagi diantara wajah mereka. Nic langsung memberi lummatan pada bibir Bryona dengan sebelah tangan menahan tengkuk gadis itu.


“Aku tampan karena aku memiliki dirimu di sisiku. Kamu membuat hatiku selalu cerah dan bahagia. Itu membuatnya terpancar ke wajahku,” gombalan Nic membuat Bryona tertawa, lalu mengecup pria itu.


“I love you.”


“I love you more, baby,” balas Nic.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2