
Nic dan Bryona pulang ke kediaman Gerardo. Setelah 2 malam menginap di penthouse, Nic dan Bryona memutuskan untuk pulang. Mom Paula sudah menghubungi mereka sejak kemarin agar menginap di rumahnya sebelum mereka tinggal di kediaman Martinez.
Setelah berdiskusi bersama, akhirnya diputuskan bahwa Nic akan tinggal di kediaman Martinez bersama dengan Bryona. Mereka merasa akan buang-buang uang jika mereka membeli Mansion baru sebagai tempat tinggal mereka, terutama Bryona.
“Ahhh kalian sudah datang!” seru Mom Paula. Seketika ia tersenyum ketika melihat cara jalan Bryona yang berbeda dari biasa. Itu tanda bahwa putranya telah berhasil mencetak gol. Rasanya Mom Paula ingin melompat gembira karena itu berarti ia telah selangkah lebih dekat untuk menimang cucu.
“Mom,” Bryona memeluk Mom Paula, merasakan kehangatan wanita yang sudah ia anggap sebagai Mommy kandungnya.
“Kamu baik-baik saja kan? Nic tidak berbuat kasar padamu?” Mom Paula memutar tubuh Bryona untuk melihat keadaan menantunya itu.
“Ishhh Mom! Aku tidak kasar, bahkan sangat lembut. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada istriku ini,” Nic sedikit mengaduh kesakitan ketika Bryona memberikan cubitan kecil di pinggangnya.
“Ayo, ayo! Mom sudah memasakkan makanan untuk makan siang kita bersama.”
Mati aku! Bagaimana bisa pulang dari hotel, malah harus menikmati masakan Mom Paula yang …. Ah sudahlah! - batin Nic berkecamuk. Ia sedikit merasa tidak enak jika membiarkan Bryona merasakan masakan Mommynya itu. Namun, sepertinya tidak apa-apa jika mengerjai Bryona sekali ini. Anggap saja sebagai bentuk perkenalan dalam memasuki keluarga Gerardo.
Mereka duduk bertiga di ruang makan. Di atas meja makan telah nampak makanan yang terlihat begitu menggiurkan. Nic bahkan sampai hampir meneteskan air liurnya.
“Mari di makan sayang,” kata Mom Paula pada Bryona.
__ADS_1
“Thank you, Mom,” Bryona mengambilkan makanan terlebih dahulu untuk Nic. Sebenernya Nic nampak ragu untuk mencicipi makanan yang ada di hadapannya, namun ia tak mungkin menghindar.
Setelah selesai meletakkan makanan pada piring di hadapannya, Bryona pun mulai mencicii makanan tersebut. Ia tersenyum ke arah Nic seakan ingin bertanya apa yang harus ia lakukan. Nic yang melihatnya hanya bisa terkekeh, namun saat melihat isi piringnya yang juga lumayan banyak, membuatnya ikut menelan saliva sambil berpikir alasan apa yang bisa ia gunakan untuk kabur dari sana.
Mom Paula sudah berguru pada koki, pada buku resep, dan juga pada video yang ada di media sosial. Namun, sudah bertahun-tahun kemampuannya tidak bertambah sama sekali. Kadang Nic dan Dad Oscar juga bingung mengapa bisa seperti itu.
“Mom, maaf … Apa aku boleh memanaskan ulang makanan-makanan ini?” tanya Bryona.
“Ahhh sudah dingin ya? Mom sudah memasaknya sejak tadi. Mom akan meminta koki memanaskannya lagi,” jawab Mom Paula.
“Tidak Mom, biar aku saja. Aku juga ingin melihat dapur milik Mom. Siapa tahu nanti aku bisa berguru pada Mom.”
“Di sana, sayang,” ujar Mom Paula.
“Baiklah, Mom tunggu di sini sebentar. Aku akan memanaskannya,” dengan cepat Bryona membawa masakan-masakan tersebut ke dapur. Ia mencicipinya sedikit sebelum memperbaiki rasa masakan tersebut. Untung saja ia bisa memasak meskipun bukan ahlinya.
Dengan cekatan Bryona mulai menambahkan beberapa bumbu dapur, kemudian membawanya keluar. Ia meletakkan semuanya kembali di atas meja makan. Mata Nic kini semakin tertarik dengan apa yang ada di hadapannya, bahkan perutnya ikut berbunyi dan memainkan genderang perang.
Nic yang merasa lapar hingga tak sabar, langsung mengosongkan piringnya dan mengisinya dengan yang baru. Lidahnya yang merasakan masakan tersebut, langsung tak memikirkan yang lain. Ia melahap habis hingga Mom Paula dan juga Bryona merasa heran.
__ADS_1
“Sepertinya kamu sangat lapar sekali, Nic,” tanya Mom Paula.
“Tentu saja, Mom. Bukankah membuat cucu untukmu juga memerlukan tenaga? Aku sedang menimbun tenaga itu,” ujar Nic yang membuat Bryona langsung mencubit pinggang suaminya itu.
“Cucu? Baiklah, makanlah yang banyak. Kamu juga yona, makanlah,” dengan semangat Mom Paula menambahkan lauk ke dalam piring Nic dan juga Bryona. Ia sudah tak sabar untuk menimang seorang cucu.
**
Crystal yang tidak terima saat Theo meninggalkannya di dalam ruang CEO, mulai melampiaskan kemarahannya pada minuman. Setelah pulang dari AR Group, ia menemui temannya dan mereka berbincang-bincang hingga malam.
Saat malam, teman-temannya mengajak Crystal untuk pergi ke klub bersama dengan mereka.
“Ayolah, Crys! Bukankah kamu ingin melupakan kekecewaanmu pada pria itu? Ini adalah tempat yang tepat. Aku sangat yakin kamu akan melupakan semuanya dan menikmati malam ini,” ujar teman-temannya.
“Baiklah! Lagi pula aku tidak ada kerjaan. Aku bisa mati bisan di dalam apartemen jika menunggu seorang Theo Alexander. Aku ingin bersenang-senang dan menikmati masa-masa kebebasanku sebelum nanti aku menikah dengannya,” Crystal akhirnya mengikuti teman-temannya untuk datang ke sebuah klub yang kini telah ramai oleh pengunjung.
Dentuman musik dan lampu-lampu temaram menjadi saksi dari seorang Crystal yang kini banyak meneguk minuman beralkohol dan mulai bergoyang di atas lantai dansa.
Suara hiruk pikuk seakan tak terdengar lagi oleh Crystal karena ia tengah menikmati pikirannya sendiri. Minuman beralkohol itu sudah menutupi akal sehatnya. Goyangannya yang begitu seksie langsung menarik perhatian para pria yang juga datang ke sana. Mereka berdiri dan mendekati Crystal, bergoyang bersama dan menyentuh tubuh Crystal dengan mudahnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹