
“Aku tak pernah melihat Freya yang seperti ini. Bukankah kamu wanita yang kuat?”
“Aku tidak tahu, Bry. Aku juga tidak tahu mengapa aku seperti ini.”
“Apa kamu mencintainya?” tanya Bryona.
“Mencintai siapa?” tanya Freya sedikit gelagapan.
Bryona tertawa melihat tingkah Freya, “Kamu menyukainya, Frey. Kamu datang ke perusahaanku karena undanganku, namun itu juga salah satu caramu untuk melarikan diri darinya bukan?”
“Tidak!”
Tawa Bryona semakin keras. Melihat Freya yang salah tingkah adalah hal baru baginya dan ternyata menggoda Freya sangatlah menyenangkan. Ia melihat wajah sahabatnya yang kini tengah mengerut dan memanyunkan bibirnya.
“Aku tidak menyukainya. Aku datang ke sini karena aku menyukai bidang IT. Lagi pula kamu akan bertengkar terus jika berdekatan,” kata Freya.
“Kurasa bertengkar adalah cara kalian berdua untuk saling berdekatan dan mencari perhatian satu sama lain. Aku sudah banyak belajar tentang kehidupan ini Frey, bahkan aku mengenalmu bahkan sangat mengenalmu. Kamu tak seperti dulu, aku melihat sesuatu yang berbeda dari dirimu.”
**
Leticia kini berada di dalam apartemennya. Sulit sekali rasanya ia keluar dari sana tanpa harus menyamar. Dulu ia dengan mudah keluar, bahkan ia akan dikelilingi oleh para wartawan.
Sekarang pun masih seperti itu, tapi ditambah dengan ungkapan buruk, ejekan, bully-an, dan pandangan yang merendahkannya. Bahkan ia diejek memiliki tubuh yang jelek.
“Arggghhh!!!” Leticia berteriak dan mulai menghancurkan barang-barang. Rambutnya sudah acak-acakan, bahkan wajahnya sudah kusam tanpa menggunakan make up lagi. Untuk apa ia menggunakannya kalau ia tidak bisa memamerkannya.
Ia ingin keluar dari apartemen, sulit. Memasang foto di media sosialnya, ia langsung mendapatkan bully-an dan komentar pedas yang rasanya begitu menyakitkan di telinga.
__ADS_1
Ia berjalan ke arah jendela sambil sesekali meringis karena kakinya terinjak pecahan kaca dari vas bunga yang ia pecahkan. Namun, itu semua tak menghentikkan langkahnya. Ia tertawa kecil seakan menertawakan dirinya sendiri.
Ia melihat ke arah jendela, memandang ke kejauhan. Tak lama ia melakukannya karena matanya langsung menangkap segerombolan wartawan, sang pencari berita, tengah mengambil gambar dirinya dari arah bawah.
Ia langsung berjalan mundur untuk menghindari jendela dan sekali lagi kakinya kembali merasakan tajamnya pecahan kaca dari vas bunga.
“Bahkan aku tidak bisa tenang tinggal di dalam apartemenku sendiri. Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Apa kalian semua tidak bisan mencari berita tentang diriku? Apa aku begitu terkenal?” leticia tertawa terbahak-bahak, namun sedetik kemudian ia mulai mengeluarkan air mata.
Leticia duduk di bawah meja makan sambil memeluk kedua kakinya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memeriksa apakah ada yang sedang mengintai dirinya. Sesekali ia menunduk kemudian menutupi dirinya sendiri dengan kedua tangan dan mulai berteriak.
“Jangan dekati aku! Ahahahaha, aku akan segera merilis film terbaru tunggu saja. Aku tahu kalian menyukaiku, tapi aku butuh waktu sendiri,” ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan seakan menghindari kilatan cahaya dari kamera yang membidiknya.
**
Pesta pernikahan Nic dan Bryona digelar dengan sangat mewah. Mereka sudah melakukan acara pemberkatan tadi pagi di sebuah Gereja Katolik di Kota Meksiko. Tak banyak yang hadir karena acara tersebut hanya dikhususkan untuk keluarga dan kerabat dekat saja.
Malam harinya, sebuah resepsi di Hotel milik G-Corp, diadakan dengan sangat luar biasa. Sebuah ballroom yang sangat besar menjadi lokasi perhelatan acara tersebut. Bryona yang masih berada di dalam ruang tunggu hanya duduk di sofa sambil menunggu acara dimulai.
“Apa terlalu terlihat di wajahku? Tentu saja aku sangat senang dan bahagia karena sahabatku menikah hari ini. Mengapa aku harus bersedih, hmm?”
“Tapi senyummu itu sangat mencurigakan, Frey,” kata Bryona sambil memicingkan matanya.
“Sudahlah, ini adalah hari bahagiamu, mengapa jadi membahas tentang diriku?” ujar Freta yang malam ini terlihat sangat cantik. Kulitnya yang putih dan matanya yang bulat dan berwarna hijau terlihat begitu kontras dengan gaun yang ia kenakan.
Bryona bersiap akan keluar ketika seseorang telah memanggilnya. Freya pun langsung menemaninya menuju ke ballroom, tempat acara resepsi pernikahan tersebut diselenggarakan. Nic telah menunggunya di sana sambil tersenyum.
Sorot lampu langsung terarah pada Nic dan Bryona. Merekalah raja dan ratu malam ini. Terlihat ketampanan dan kecantikan keduanya yang begitu serasi, hingga para tamu undangan hanya bisa mengambil gambar sambil berdecak kagum.
__ADS_1
Freya duduk di sebuah meja bundar yang tersedia di samping panggung. Ia menyesap segelas minuman yang ia ambil dari waitress yang sedari tadi berkeliling. Sesekali Freya menggoyangkan gelas minumannya, kemudian menyesapnya.
“Ahhh nikmatnya,” katanya dengan pelan.
“Apa yang nikmat?” Freya menoleh ke samping dan mendapati seorang pria sudah berdiri di sampingnya.
“Tentu saja minumannya, apa kamu tidak mencobanya?” tanya Freya.
“Aku sudah mempersiapkan pernikahan kita. Bersiap-siaplah, 1 bulan dari sekarang.”
Theo yang duduk di sampingnya tina-tiba menjadi bingung karena Freya justru menertawakannya, “Kamu yakin sekali aku mau menikah denganmu.”
“Aku tidak peduli kamu mau atau tidak, tapi aku akan memastikan kamu menikah denganku, meskipun dengan cara paksa,” ujar Theo.
“Jangan terlalu percaya diri, Tuan Alexander. Jangan hari ini berkata A, lalu besok berkata B, lusa mungkin anda akan mengatakan C.”
“Aku akan menepati apa yang kukatakan, aku tak akan pernah ingkar,” Theo bersikukuh dengan perkataannya.
“Baiklah, kita lihat saja nanti,” Freya kembali tertawa sambil melihat ke salah satu sudut ruangan. Ia melihat seorang wanita yang ia undang secara khusus untuk datang ke sana. Tentu saja ia menggunakan nama Nic dan Bryona untuk mengundangya. Freya berharap wanita itu bisa meluluhkan hati sang Tuan Alexander.
Sementara itu Theo hanya bisa heran sambil melihat ke arah punggung Freya yang tak tertutup oleh apapun. Bahkan rambut panjangnya ia gulung ke atas dan hanya membiarkan beberapa helai menjuntai ke bawah. Setiap ia melewati sekumpulan pria di ruangan itu, ia selalu mendapat tatapan yang membuat hati Theo memanas.
Freya keluar dari ballroom, namun sebelumnya dengan sengaja ia melewati posisi di mana seorang wanita berdiri.
“Aku harap kamu melihat wanita ini, Tuan Alexander. Selamat bersenang-senang,” gumam Freya sampai akhirnya ia benar-benar keluar sari ballroom.
Theo yang mengikuti ke mana Freya berjalan pun akhirnya melihat keberadaan seorang wanita. Wanita yang telah lama menjadi penghuni di dalam hatinya selama bertahun-tahun. Ia berdiri di sana, diam dan sendiri.
__ADS_1
Crystal? - batin Theo, membuat matanya melotot seakan tak percaya melihat wanita itu di sana. Kabar terakhir yang ia dapatkan adalah bahwa Crystal pergi ke luar negeri bersama suaminya, sesaat setelah mereka melangsungkan pernikahan.
🌹🌹🌹