BIG BIG Girl

BIG BIG Girl
#63


__ADS_3

Gregory dengan langkah tegap masuk ke dalam rumah sakit. Ia langsung menuju ke ruangan tempat di mana Theo berada. Sebelumnya, ia sudah menempatkan anak buahnya untuk berjaga.


Sampai di depan ruang rawat, kedua anak buahnya mengangguk hormat, kemudian mempersilakan Gregory untuk masuk ke dalam.


“Selamat malam,” sapa Gregory. Semua yang berada di ruangan tersebut menoleh ke arah sumber suara. Chris yang mengetahui dengan pasti maksud kedatangan Gregory pun mendekatinya.


“Kita bicara di luar,” ajak Chris yang kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Gregory pun berjalan mengikuti.


Di luar, Gregory berhadapan dengan Chris. Mereka melihat ke kanan dan ke kiri, mencari tempat yang aman dan tenang untuk mereka berbicara.


“Kamu sudah memproses kasus ini. Bukti CCTV serta barang bukti senjata sudah berada di tangan kami. Kami hanya memerlukan salah seorang dari anggota keluarga untuk menandatangani berkas perkara,” jelas Gregory.


“Terima kasih. Saya yang akan datang ke kantor dan menandatanganinya. Apa ada bukti yang diperlukan lagi?” tanya Chris.


“Jika bisa dan tidak melanggar kebijakan rumah sakit, kami membutuhkan hasil pemeriksaan terhadap saudara Theo.”


“Kamu bisa meminta pada Dokter Grace. Ia adalah dokter yang menangani putra saya. Saya yakin ia akan memberikannya, lagipula ia sangat mengenal saya,” jawab Chris.


“Baiklah, saya akan segera menemuinya,” kata Gregory, “dan saya menunggu anda di kantor secepatnya.”


“Baik, terima kasih,” Chris pun akhirnya kembali masuk ke dalam ruangan tempat Theo dirawat. Sementara itu Gregory pergi ke bagian administrasi untuk menanyakan letak ruangan Dokter Grace.


**


Freya terus berjaga di dalam ruang rawat Theo. Tak sedetik pun ia beranjak dari samping Theo. Baru beberapa jam mereka menjadi suami istri, Freya sudah melihat begitu besarnya pengorbanan Theo untuk dirinya.

__ADS_1


“Bangunlah, cepatlah sadar,” gumam Freya sambil erus menggenggam tangan Theo.


Kedua orang tua Theo dan juga Dad Hector sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing, begitu juga dengan keluarga Gerardo. Mereka akan bergantian berjaga. Freya sangat tahu kedua orang tua mereka sangat kelelahan mengingat usia mereka yang tidak muda lagi dan harus menghadapi hal seperti ini.


Lama Freya memandangi wajah Theo dan sesekali berbicara padanya, membuatnya mengantuk dan akhirnya terlelap persis di sebelah Theo, sambil terduduk di kursinya.


Menjelang pagi, Theo terbangun. Ia merasakan bau obat-obatan yang menyeruak di indera penciumannya. Tangan kanannya terasa berat, membuatnya menolehkan kepalanya ke samping. Ia tersenyum ketika mendapati Freya yang terlelap. Dengan perlahan Theo mengangkat tangannya dan memegang kepala Freya. Ia mengelus dan mengusapnya, membuat Freya terbangun. Theo sedikit meringis ketika menggerakkan tangannya.


“Kamu sudah sadar?” Freya segera menekan tombol di samping tempat tidur. Ruangan VIP yang mereka gunakan membuat mereka mendapatkan pelayanan yang lebih dari pasien yang lain. Tak lama, seorang dokter dan seorang perawat datang ke ruangan tersebut.


“Grace?” Grace tersenyum saat Theo masih mengenalinya.


“Sebelumnya aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian. Maaf aku tidak bisa hadir karena bertepatan dengan jadwal operasi dan jadwal jagaku,” Grace mengambil stetoskop yang berada di lehernya kemudian memasangnya di telinga. Ia memeriksa keadaan Theo dengan sangat hati-hati.


“Terima kasih, Grace. Tidak apa. Aku tahu kamu sangat sibuk dengan pekerjaanmu. Oya, kenalkan ini Freya, istriku.”


“Siap, Bu Dokter,” kata Theo.


Grace meninggalkan ruangan tersebut setelah selesai melakukan pemeriksaan kepada Theo. Theo menoleh ke arah Freya, “Kamu tidak apa-apa kan? Tak ada yang terluka?”


“Jangan mengkhawatirkan aku. Kamu seharusnya tidak perlu melakukan itu,” ujar Freya.


“Aku tidak akan membiarkan wanita itu melukaimu, tidak setitik pun,” kata Theo dengan marah.


“Aku sangat berterima kasih karena kamu melindungiku, tapi seharusnya tak perlu. Aku sudah bersiap-siap untuk memukulnya.”

__ADS_1


Theo tertawa saat melihat Freya yang begitu berapi-api saat menceritakannya. Tanpa sadar ia sedikit meringis.


“Apa sakit lagi?” tanya Freya.


“Sedikit. Tapi dengan adanya dirimu di sini, aku yakin aku akan segera pulih.”


“Oya, apa kamu mengenal Dokter Grace?”


“Tentu saja. Ia sudah kuanggap sebagai saudaraku. Usianya hanya berbeda 1 tahun dariku. Waktu itu, Dad dan Mom menemukannya tergeletak di pinggir jalan dengan keadaan yang sepertinya tidak baik-baik saja. Waktu itu usianya masih 15 tahun. Dad dan Mom membawanya ke rumah sakit. Sejak saat itu, kamu sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga.”


“Apa ia tak memiliki orang tua?” tanya Freya lagi.


“Kami tidak tahu. Kami sudah bertanya padanya, tapi ia enggan menjawab pertanyaan kami. Sejak itu kami tak pernah memikirkannya, yang terpenting keadaannya baik-baik saja.”


“Kisah hidupnya luar biasa, seperti Bryona.”


“Hmm … ia adalah salah satu wanita tangguh, wanita yang kuat. Aku tak pernah mendengarnya mengeluh. Bahkan sejak ia menjadi dokter, ia selalu mentransfer uang kepada Dad dan Mom. Katanya ia ingin membayar semua biaya yang telah orang tuaku keluarkan meskipun katanya tak akan pernah lunas.”


“Wanita hebat. Untung saja kamu tidak jatuh cinta dengannya,” kata Freya.


“Apa kamu cemburu padanya?” Theo tiba-tiba tersenyum dan tertawa kecil.


“Tentu saja, kamu memujinya di hadapanku, di depan istrimu sendiri.”


“Tak akan ada yang bisa menandingi kekuatan dan ketangguhanmu, yang telah mendobrak masuk ke dalam hatiku, bahkan memilikinya.”

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2