
Tak ada pembicaraan sama sekali di antara Theo dan Freya di dalam mobil. Theo akhirnya mengalah dan membawa Freya pulang kembali ke hotel. Sesekali Theo melihat ke arah Freya yang hanya memperhatikan ke arah jendela, membuatnya menghela nafas pelan.
Sesampainya di hotel, mereka juga langsung menaiki lift menuju kamar mereka. Theo mengantar Freya sampai di depan pintu kamarnya, setelah itu ia pun menuju kamar yang persis di sebelahnya.
Cklekkk …
Theo langsung memutar tubuhnya saat melihat Nic yang sedang berada di atas tubuh seorang wanita. Mata tajam Nic seakan menghunus tepat ke jantungnya.
“Bisakah kalian melakukannya di kamar lain? Ini adalah kamarku juga,” kata Theo yang menyadarkan Bryona. Ia segera kembali mengancingkan piyamanya, mengambil kotak obat yang ada di atas nakas dan dengan cepat keluar dari kamar itu.
Ia berusaha menetralkan nafasnya setelah berhasil keluar. Ia berjalan ke kamarnya dan membuka pintu menggunakan kartu pass-nya.
“Frey.”
“Bry, kamu dari mana?” tanya Freya yang sedang mencoba membuka pakaiannya.
“Sini kubantu,” Bryona dengan perlahan membuka T-shirt milik Freya dan melihat perban di lengan atas milik Freya, “Apa ini sakit?”
“Sedikit. Aku tidak apa. Oya, kamu belum menjawab pertanyaannku, kamu dari mana?”
“Aku habis mengobati Tuan Nic. Sudut bibirnya berdarah dan dadanya mengalami lebam.”
“Ooo, baiklah. Aku akan mandi dulu kalau begitu. Tubuhku terasa sangat lengket.”
“Apa kamu memerlukan bantuanku?” tanya Bryona.
“Tidak, aku masih bisa melakukannya sendiri. Terima kasih,” Freya menghilang di balik pintu kamar mandi. Bryona bernafas dengan lega, setidaknya Freya tidak mencurigai kepergiannya. Ia benar-benar merutuki dirinya sendiri yang begitu mudah terbuai dengan sentuhan dan ciuman dari seorang Nicholas Gerardo.
**
“Sialannn kamu Nic, mau bermain dengan wanita di kamarku!” Theo melempar bantal kebarah wajah Nic.
“Hei!!”
“Jadi kamu menyukai gadis itu?” tanya Theo setelah meletakkan jas-nya di sandaran kursi.
“Memangnya kenapa?”
“Kamu benar-benar mencemari mataku yang suci ini. Aku kira kamu menyukai Freya.”
Nic sedikit terkekeh, “Apa kamu cemburu denganku jika aku menyukai Freya?”
__ADS_1
“Aku tidak mengatakan itu. Aku hanya tidak suka jika kamu menyukainya.”
“Hei, dia wanita single. Jadi tidak ada salahnya jika pria manapun menyukainya. Lagipula, kurasa Freya cantik. Pasti banyak pria yang ingin menjadi kekasihnya.”
“Tapi dia tidak ingin menikah,” kata Theo pelan.
“Maksudmu?”
“Ya, dia mengatakan bahwa dia tak ingin menikah, denganku atau dengan pria manapun.”
“Wah kalau begitu kamu beruntung. Kamu tidak perlu susah payah melawan perjodohan ini, karena melihat dari sikap Freya selama ini, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa dia yang akan memastikan pembatalan perjodohan ini.”
Theo duduk di kursi, mengusap wajahnya kasar, “bagaimana dengan lukamu?”
“Lukaku? Tidak masalah. Hanya saja kamu membuat obatku pergi, jadi pengobatanku belum selesai secara sempurna.”
“Ck,” Theo berdecak kesal. Ia kembali memikirkan perkataan Freya, ntah ia harus senang ataukah justru menjadi ragu.
**
Keesokan paginya, mereka langsung menuju bandara dan bertolak ke Campeche. Pulang, itulah yang ada di dalam pikiran Bryona. Saat ini ia sudah menganggap Kota Campeche sebagai kota tempatnya pulang.
“Tentu saja, ini rumahku saat ini,” senyum Bryona pada Freya.
Seluruh team menuju kediaman Rodriguez yang berada di Campeche. Kediaman Rodriguez cukup besar sehingga mampu menampung seluruh team. Namun, untuk sementara waktu Bryona akan tidur di kamar Freya dan kamar Bryona digunakan oleh Nic dan Theo.
“Aku akan pergi ke resto dulu untuk melihat perkembangan kerja mereka,” ujar Bryona.
“Aku ikut denganmu. Sudah lama aku juga tak ke sana.”
Bryona pergi bersama Freya, meninggalkan Nic, Theo, dan team-nya untuk beristirahat.
“Selamat siang!” sapa Freya pada seluruh pegawainya. Mereka tersenyum melihat kedatangan Freya.
“Bry!” seorang wanita keluar dari dapur saat terdengar suara riuh di depan. Ia menarik nafasnya dan mulai melakukan aktingnya dengan sempurna.
“Kamu cantik sekali, dan ini …,” tanya Adela penuh rasa ingin tahu.
“Ini Freya Rodriguez, pemilik resto La Siera. Frey, ini temanku di kampus, Adela.”
Ouuu, jadi ini sahabat yang sering dibicarakan oleh Bryona. Sepertinya aku harus mulai mendekatinya dan mengambil hatinya. Sepertinya keuntungan besar bisa berteman dengannya, siapa tahu aku bisa menjadi aktris juga. - batin Adela sambil tersenyum.
__ADS_1
“Adela,” ia mengulurkan tangannya. Adela sangat senang ketika Freya tersenyum dan menyambut uluran tangannya.
Freya berjalan masuk ke dapur dan menemui Uncle Tito, “Uncle! Bagaimana kabarmu?”
“Halo Frey! Hmm, apa aku bisa bicara denganmu?” tanya Tito.
“Tentu saja Uncle, ayo ke ruanganku,” Freya mengajak Tito ke dalam ruangannya. Mereka duduk bersama.
“Maafkan aku sebelumnya, Frey. Hmm … ini mengenai staf baru itu.”
“Adela maksud Uncle?”
“Ya. Ia benar-benar tidak bisa bekerja. Belum 1 minggu di sini, dia sudah memecahkan hampir berpuluh-puluh piring. Ia sama sekali tak bisa mencuci piring. Bahkan aku memintanya memotong sayuran, dia juga tidak bisa. Kami memindahkannya ke bagian waiter, ia malah memarahi pembeli. Apa kamu bisa membawa Bryan kembali? Aku lebih menyukai dia,” ujar Tito.
Bryan ada di dekatmu, Uncle. Apa sebaiknya aku meminta Bryona kembali menjadi Bryan untuk menyenangkan Uncle Tito? - batin Freya dan tertawa dalam hatinya.
“Apa ini berat, Frey?” tanya Tito.
“Aku akan membicarakannya dengan Bryona. Uncle jangan khawatir. Untuk Bryan, nanti aku akan bertanya padanya, apa dia mau kembali bekerja di sini?”
“Jangan Frey! Bryan sangat gesit dan cekatan. Ia pantas mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dibanding seorang tukang cuci piring. Hanya saja, aku merindukannya,” kata Tito sambil mengulas senyum kecil.
Setelah kepergian Tito, Freya memanggil Bryona ke dalam ruangannya, “Bry, sepertinya kita harus memindahkan temanmu. Para staf di sini tidak cocok dengan cara kerjanya.”
“Benarkah? Aku memang belum pernah melihat cara kerjanya secara langsung karena ia baru masuk sekitar 1 minggu.”
“Uncle Tito mengatakan kalau Adela tak bisa berurusan dengan dapur, ia memecahkan banyak piring, bahkan ia juga memarahi pembeli kita.”
Bryona membulatkan matanya seakan tak percaya, “benarkah ia melakukan itu? Sepertinya kita harus memecatnya.”
“Aku juga berpikir begitu. Tapi bukankah kamu mengatakan kalau ia membutuhkan pekerjaan. Bukankah kita akan terlihat sangat jahat jika membuatnya luntang-lantung di jalan dengan keahlian yang begitu minim?” Kata Freya.
“kamu benar. Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
“Bagaimana kalau ia menjadi bagian kasir saja? Bukankah ia seorang mahasiswi, seharusnya hal seperti itu mudah untuknya,” saran Freya.
“T-tapi …,” masih ada keraguan di dalam hati Bryona untuk menempatkan Adela di bagian kasir. Ia masih belum 100% percaya dengan kinerja Adela.
“Tenang saja, percayakan padaku.”
🌹🌹🌹
__ADS_1