
Shobirin pulang kerja dengan tersenyum antusias, akhirnya gaji yang ia tunggu-tunggu kini telah ia Terima, uang yang ia kumpulkan pun sudah cukup untuk membelikan Zakia sebuah album yang selama ini ia incar-incar. Dengan bahagia ia langsung mengendarai motornya menuju rumahnya, ia tak sabar untuk ntuk segera meng check-out album tersebut.
sebenarnya ia bisa saja tak perlu melakukan ini semua, ia bisa saja dengan mudah meminta kepada kedua orang tuanya untuk membelikan nya, namun itu semua tidak ia lakukan karna baginya itu tak akan ada yang istimewa nantinya. Jadi ia memutuskan untuk berusaha mengumpulkan uang dengan kerja kerasnya agar mempunyai sensasi berbeda nantinya.
" langsung mandi baru makan.. " ucap Ibundanya saat ia baru tiba di rumah.
" iya bun. " ucap Shobirin seraya mencium pipi ibundanya yang sedang menata makanan untuknya di meja makan.
sesampainya di kamar ia langsung melakukan apa yang ibundanya ucap kan lalu langsung turun kebawah.
" pelan-pelan kalo makan. " ucap bunda yang melihat anaknya makan dengan lahapnya. Shobirin tersenyum dengan mulut penuh teisi nasi.
" habiskan dulu yang dimulut " ucap bunda tersenyum melihat tingkah anaknya yang sudah akan dewasa tapi masih saja seperti anak kecil ini.
" bunda nggak makan? " tanya shobirin.
" udah tadi.. sama temen bunda. " ucap bunda tersenyum.
" sama siapa? " tanya shobirin polos.
" sama ibunya zakia, tadi nemenin belanja baru sekalian kita mampir buat makan. " ucap bundanya tersenyum.
" nge girl time ceritanya nih.. " goda shobirin.
" iya donk.. " ucap bunda tertawa pelan.
" udah lanjutin makanmu.. " lanjut bunda beranjak untuk mengupas kan buah untuk anaknya ini.
" mau buah apa dek? " tanya bunda membuka kulkas.
" mau semangka! " ucap shobirin bersemangat.
selepas makan dan menghabiskan buah yang bundanya siapkan untuknya dan membereskan segalanya ia langsung kembali kekamarnya untuk segera meng check-out album.
" yes! semoga dia suka dan berhenti diet jajan.. kasian dah, badan udah kecil tambah kecil entar. " ucap shobirin sambil menatap ke arah jendela kamar Zakia yang memang berhadapan dengannya tapi terpisah oleh jalanan kompleks.
" dia udah pulang ya.. " ucap zakia menatap kamar shobirin yang lampunya masih menyala dan terlihat bayangan shobirin yang tengah belajar di meja belajarnya.
" chat nggak ya.. " ucap Zakia pada dirinya sendiri sambil mondar-mandir menatap layar handphone nya di atas kasur.
__ADS_1
" Hem.. besok aja dah.. dia juga lagi belajar. " ucap Zakia menyerah lalu menuju meja belajar nya, bukan untuk belajar melainkan membaca buku komik pemberian shobirin 2 tahun yang lalu.
" shobirin.. " ucap bunda masuk kedalam kamarnya yang kebetulan tidak dikunci dan terbuka sedikit.
" eh.. udah tidur.. hem.. " ucap bunda tersenyum menatap putra keduanya ini tengah terlelap dimeja belajar nya.
" kecapekan, sayang.. " ucap ayahnya lalu memindahkan tubuh shobirin ke atas kasur.
" Hem.. dia pekerja keras " ucap bunda menyelimuti nya, memberikan kecupan di kening nya lalu pergi.
Di sekolah, Shobirin tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat ini, ia terus saja tersenyum membuat Daniel merasa jika kawannya ini sedang tidak sehat.
" lu sakit? " tanya Daniel.
" kagak kok, cuman lagi seneng aja. " ucap Shobirin menyantap makan siangnya dengan penuh senyuman.
" kayaknya elu haris dibawa periksa ke UKS dah. " ucap Daniel agak ngeri dengan kondisi jiwa kawannya ini.
" gue sehat kok.. 100% sehat dan masih waras.. " ucap Shobirin.
" kita perlu bicara empat mata " ucap Zakia yang tiba-tiba datang membuat Daniel tak dapat melanjutka obrolan nya.
dengan langkah riang shobirin mengikuti Zakia dari belakang, sambil sesekali ia akan bersenandung tak jelas.
" lu kerjakan? " tanya Zakia to the point saat mereka sudah berada ditempat yang agak sepi.
" hah?! "
" jawab. lu selama ini sering pulang cepet tapi selalu pulang kerumah malem lu kerjakan? " ulang Zakia.
" tau dari mana lu? nggak usah sok tau dah. " ucap shobirin nyengir.
" gue tau dari kak Yuda.. bener kan lu kerja?! " ucap Zakia meminta kepastian dari Shobirin.
" iya gue emang kerja, kenapa emang? " tanya shobirin santai.
" bang*** lu ya.. seharusnya lu ngomong ke gue lah! gue ngerasa kek bukan sahabat deket lu tau! gegara gue tau ini semua bukan dari elu sendiri tapi dari orang lain, walaupun orang lagi itu kakak gue sendiri! " ucap Zakia matanya sudah akan menjatuhkan bulir-bulir mutiara cair. Dengan cekatan shobirin langsung menangkup wajah Zakia menghabiskan air matanya dengan jarinya lembut, menatap nya lekat-lekat.
" maaf ya.. gue nggak bermaksud begitu, ada sesuatu yang harus gue perjuangkan dengan usaha gue sendiri untuk seseorang yang gue anggep spesial banget setelah ibu gue. stop nangisnya ya.. cup.. " ucap shobirin halus lalu meninggalkan Zakia yang masih berdiri kaku disana, ia tak dapat menerima kenyataan jika selama ini shobirin bisa selembut itu dan dia sedang menyukai seseorang.
__ADS_1
₩₩₩
sudah seminggu lebih semenjak peristiwa shobirin mengatakan jika ada orang yang sedang ia sukai, zakia menjadi tak bersemangat sekali, rasa semangatnya kini hilang entah kemana. Membuat sang kakak tak senang akan apa yang sedang dirasakan Zakia walaupun sebenarnya dia sendiri sudah mengetahui apa yang zakia tak ketahui.
" yok ikutt gue jalan. " ucap Yuda seraya membangunkan tubuh zakia secara paksa membuatnya langsung mendapatkan tatapan menusuk zakia.
" nggak usah gitu, buruan ganti baju. " ucap Yuda.
" mau kemana sih? " tanya zakia yang hendak membaringkan tubuhnya lagi namun langsung ditahan oleh Yuda.
" buruan.. nyesel lu kalo nggak mau ikut. " ucap Yuda, dengan terpaksa zakia bangkit dari duduknya berjalan ke arah kamarnya untuk bersiap.
" kita mau kemana emang? " tanya zakia begitu masuk kedalam mobil.
" udah diem. " ucap Yuda mulai fokus menyetir. tak berapa lama mereka telah tiba di salah satu cafe yang sedang banyak didatangi oleh anak-anak muda.
" ayok buruan.. dia udah nungguin dari tadi. " ucap Yuda menarik tangan zakia agar berjalan lebih cepat.
" siapa sih??? " ucap zakia mulai kesal.
" nah.. sampek juga lu. " ucap seseorang yang langsung membuat zakia sesak.
" nggak usah gitu juga kali ekspresi nya. " ucap Shobirin mencubit pipi zakia.
" oke gue tinggal.. titip adek gue. " ucap Yuda yang langsung oergi tanpa adanya persetujuan dari zakia.
" ayok duduk. " ucap Shobirin. zakia duduk dengan perasaan canggung dihadapan Shobirin. ia sudah bersusah payah untuk menjauhi Shobirin setelah peristiwa itu namun sepertinya itu semua sia-sia.
" lu pasti masih shock gegara omongan gue minggu lalu kan" ucap Shobirin tepat sasaran.
" sebenernya gue mau kasih tau sesuatu, tapi entar jatohnya malah nggak jadi surprise. so, gue ngarang aja. " ucap Shobirin menyerahkan sebuah paperback kepada zakia.
" jahat lu " ucap zakia menerimanya.
" liat lah.. " ucap Shobirin, zakia langsung melihat nya dan wajahnya langsung menunjukkan ekspresi terkejut.
" jadi alasan lu kerja itu untuk beliin gue album ini?! " ucap zakia mengeluarkan nya dari paperback.
" iya.. semoga lu suka. gue nggak suka ngeliat lu nggak jajan , gue nggak mau elu sakit. " ucap Shobirin dengan wajah sedikit memerah.
__ADS_1
" makasih banget.. gue suka banget.. " ucap zakia menatapnya dengan tatapan penuh ketulusan dan tersenyum manis.