
Aldi segera membersihkan dirinya dan mandi. lalu makan malam sambil nonton film. dengan tenangnya dia menyantap makanan buatan sendiri.
dia lalu mengecek informasi-informasi seputar berita yang sedang viral, ada tiktokers, artis, selebgram, dan kecelakaan-kecelakaan.
lalu dia melihat sebuah artikel tentang kejadian perampokan bank, dan ada yang menuliskan kalau seseorang telah menjadi pahlawan kota itu yaitu 'Blackman'.
Aldi hanya tersenyum bangga sembari mengunyah makanan dimulutnya.
Esok haripun telah tiba, tepatnya pukul 06.35 WIB. Aldi sedang memakai sepatu dan tiba-tiba dering telepon berbunyi. dilihatnya dilayar ponselnya ternyata dari budhe.
" iya budhe, aldi mau berangkat sekolah." kata Aldi yang sedang memakai kaos kaki sebelah kirinya.
" gista . . . gista sudah siuman." kata Budhe diseberang telepon.
seketika Aldi terkejut dan menghentikan
aktivitasnya. terdengan suara isakan tangisan dari Budhe.
" . . nanti sepulang sekolah, kamu kesini ya?!" kata Budhe.
" baik budhe."
Aldi terharu dan tersenyum. dia sangat terkejut dengan berita pagi itu. lalu dia menjadi semangat dan melanjutkan memakai kaos kakinya. dia tersenyum bahagia karena adiknya kini sudah sadar. Aldipun segera berangkat ke sekolahan.
###
Di rumah sakit, Budhe sedang duduk disamping ranjang Gista yang sedang diperiksa dokter. memang mata Gista terbuka, tapi bibirnya masih mengatup dan bisu.
" bu elis, gista memang sudah sadar. tapi karena dia mengalami koma yang panjang, jadi kemungkinan dia mengalami hilang ingatan ringan juga mulutnya belum bisa berbicara karena pita suaranya masih lemah, begitu juga detak jantungnya. namun nafasnya sudah normal. tinggal menunggu saja, ibu lebih bersabar ya. ajak dia bicara atau cerita sesuatu yang membangkitkan memori dia, tetapi pelan-pelan."
Budhe yang sedari tadi mendengarkan penjelasan dokter, hanya memgangguk dengan tangisannya yang menggebu.
" baik bu, itu saja. kalau begitu, saya permisi dulu." ucap Dokter.
" baik dok. terima kasih." jawab Budhe Elis.
__ADS_1
lalu Dokter itu keluar dari ruangan itu dan diikuti perawatnya dibelakangnya.
Budhe lalu mendekati anak gadis itu dengan berjalan pelan-pelan. karena air matanya masih mengalir.
gadis itu melirik kearahnya dengan sangat perlahan. lalu Budhe tersenyum dan mengelus rambut gadis itu.
" kamu pasti tidak ingat kan? kamu pasti lupa." kata Budhe membuka percakapan pertamanya pada anak gadisnya itu.
" ini budhe elis. tapi kamu biasanya manggil budhe dengan sebutan bunda. karena kamu anak bunda." kata Budhe itu lagi dengan senyuman paksa.
Sebenarnya Budhe sangat terharu karena anak gadisnya kini sudah tersadar dari komanya tetapi yang bikin sedih adalah karena semua tak lagi sama seperti dulu.
Gadis itu hanya menatapnya saja, tanpa berkata apa-apa. matanya merah, kelopak matanya sayup-sayup, dan bibirnya pucat.
" ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu aja ya sayang. bunda akan temani kamu sambil bernyanyi." ucap Budhe.
lalu Budhe duduk disamping ranjang itu, dan mulai mengelus-elus rambutnya gadis itu sambil menyanyikan lagu yang sering dinyanyikan dulu ketika masih anak-anak. lalu perlahan-lahan mata gadis itu sayup-sayup dan tidak lama kemudian dia tertidur lagi. Tapi Budhe masih bernyanyi karena dia sangat rindu saat-saat seperti itu, menjadi ibu penggantinya, setelah 9 tahun yang lalu orang tuanya meninggal karena tragedi hebat.
###
" fira, masalah kamu sama rey gimana? udah jelas?" tanya Hana penasaran.
" oh gitu. " jawab Hana.
" semoga masalahmu cepat selesai ya fir. gak baik kalau marah-marahan terus. tau gak? kalau marahan lebih dari 3 hari maka akan dosa loh."
" iya aamiin, masa sih syah? aku baru tau ini. untung kamu bilangin." jawab ku.
" iya fir, mumpung aku masih ingat dan bosa mengingatkan." kata Aisyah.
" iya, makasih yah. " kata Ku sambil mencubit pipinya Aisyah yang gembil.
hari itu, aku akan berusaha menemui rey. tapi sepertinya akan susah karena tidak mengirim pesan terlebih dahulu. lalu dia mencoba membalas pesan dari Rey sejak dua hari yang lalu. aku membalasnya dengan ingin bertemu disuatu tempat. Tak lama kemudian pun, Rey membaca pesanku dan langsung membalasnya. hari itu aku putuskan untuk tidak egois dan bersabar dalam menghadapi segala permasalahanku dengan Rey. karena aku juga tidak tahan jika berlama-lama menjauh dari orang yang ku cintai.
lalu kita berempat pergi ke kantin karena saat itu sudah istirahat kedua. hari begitu cepat berlalu, seperti angin lewat yang hanya sekajap lalu menerbangkan debu-debu kecil tak berdaya.
__ADS_1
hari itu lumayan cerah, tidak semendung hari kemarin. namun tidak ada sinar matahari yang biasa menyinari dengan kekuatan cahaya agungnya.
sorepun tiba, aku bersiap-siap untuk kencan hari itu. Reypun datang menjemputku, selama diperjalanan aku merasa canggung, karena ini adalah kali pertamaku bertengkar sampai semarah itu dan kencan pertama setelah pertengkaran itu. kita hanya diam-diaman saja, sambil aku memeluk perut Rey dari belakang.
hingga tibalah di tempat favorit aku dan Rey. kafe yang biasa aku datangi kalau ada hari spesial. lalu kita memesan meja dan duduk berdua, dengan posisi saling berhadapan.
" rey, sekarang aku mau dengar penjelasan dari kamu." ucap ku membuka percakapan.
Rey menatapku, lalu dia menggenggam tanganku. kubiarkan saja dia begitu.
" hm. sebenarnya aku ke rumah sakit dan bawa bunga waktu itu, aku . . . itu . . . jengukin . . seseorang." jawab Rey.
" siapa?" tanyaku.
" kamu tenang dulu. ini nggak seperti yang kamu pikirkan, aku gak akan selingkuh dari kamu. percayalah ! " kata Rey meyakinkanku.
" terus siapa dia? kenapa kamu bertele-tele." ucapku sedikit emosi.
Rey masih terdiam dengan tatapan keragu-raguannya. sinar dimatanya membuatku tidak tahan menatapnya dengan emosiku.
" rey, plis jawab." kataku yang mulai melemah.
" aku nggak mau kamu marah. kamu harus janji dulu sama aku, kalau aku jawab kamu jangan marah."
aku bingung, haruskah aku jawab iya ataukah tidak. keduanya memungkinkan kalau jawaban yang akan kudengar adalah kabar buruk bagiku.
lalu akupun mengangguk.
" tapi sebelum itu aku mau kamu percaya sama aku. aku sayang banget sama kamu fira, kamu ingat kan aku sudah janji sama mamih kamu kalau aku akan selalu menyayangimu."
aku hanya diam dengan tatapn tidak sabar. Rey pun sapertinya memahami bahasa mataku. dia lalu membenarkan posisi duduknya dan mulai memasang raut wajah serius.
" jadi . . aku kerumah sakit waktu itu . . . aku jengukin . . . "
Belum selesai berbicara, dering telepon berbunyi. itu dari ponsel Rey. tertulis nomer asing. diapun segera mengangkat telefonnya.
__ADS_1
" ini dari pihak rumah sakit xxx, hanya ingin memberi tahu kalau saudari gista sudah siuman." kata penelepon.
mendengar kabar itu Rey menjadi sangat terkejut.