BLACKMAN

BLACKMAN
38. PICTURE


__ADS_3

Aku sedang menikmati acara TV kesukaanku, tiba-tiba ada berita terbaru muncul. ada berita kebakaran disebuah apartemen.


aku lalu menyimak berita itu, sampai habis.


"kenapa dia bisa selalu ada dimanapun ada kejadian yang berbahaya?! sebenarnya siapa blackman itu." ucapku lirih.


"blackman itu, apa benar dia itu Aldi?" pikirku.


lalu tiba-tiba terbesit di pikiranku soal Aldi. aku teringat saat aku dan Aldi mensurvei beberapa tempat markas gelandangan. aku teringat saat aku memeluk dia. Aku malu sekali, sampai sekarang saja masih merasakan malunya. lalu aku tersenyum-senyum sendiri tanpa aku sadari.


Tiba-tiba Mamih menepuk pundakku.


"hayoo kenapa? senyum-senyum sendiri?" tanya Mamih.


"eh ... hehe, ini mih kebayang aja waktu aku ditolongin sama blackman. sebenarnya Blackman itu orangnya peduli, baik, dan romantis." ucapku seraya membayangkan.


"romantis? darimana romantisnya?" tanya Mamihku lagi.


"kan dia suka ngelindungi atau menolong orang-orang, jadi kalau dia punya pacar dan pacarnya dalam bahaya pasti dia langsung melindungi pacarnya. itu kan romantis banget mih." jawab ku.


"hm ... kamu pasti ngebayangin kalau kamu jadi pacarnya Blackman kan?" tanya Mamih.


"ehe ... kan ngebayangin nggak apa-apa mih." ucapku.


"awas nanti jadi kepikiran terus rindu." kata Mamih.


"hehe, ah mamih. kan aku juga nggak tahu Blackman itu siapa? ngobrol aja nggak pernah." kata ku.


"hm siapa tau ternyata dia teman kamu." jawab Mamih.


hatiku langsung berdebar-debar.


"mih, kira-kira siapa ya si Blackman itu?" tanya ku.


"mamih juga penasaran, malah mamih pikir dia itu Aldi yang kemarin kita ketemu waktu joging, kakaknya Gista." jawab Mamih.


"hm ...?" kataku.


"mamih juga berpikiran seperti apa yang aku pikirkan." ucapku dalam hati.


"karena dari postur tubuhnya mirip banget, bentuk kakinya yang panjang, otot tangannya yang besar." tambah mamih.


Aku semakin yakin dengan dugaanku.


"tapi ... kita nggak tau siapa si Blackman sebenarnya." kata Mamih.


lalu Mamih beranjak pergi ke dapur untuk meletakkan gelas-gelas yang sudah tidak dipakai lagi.


"aku harus cari tau siapa Blackman sebenarnya, apakah Aldi atau bukan !" ucapku dalam hati.


Dengan sangat yakin aku ingin mencari tahu sosok misterius Blackman sebenarnya. aku ingin mengungkapkan takbir dunia.


"oh ya fir? si Rey kok nggak pernah ngajak kamu kencan lagi gitu?" tanya Mamih tiba-tiba.


"hm ... iya mih, mungkin karena dia tahu kalau aku belum sehat banget." jawabku.


"tapi dia juga sudah jarang banget lagi mampur atau main ke sini, kamu masih pacaran kan sama Rey?"


"masih kok mih. emang lagi senggang mih." jawabku.


Lalu aku tiba-tiba memikirkan Rey. dia juga tidak menelepon ku atau sekedar ngechat. entah ada apa dengan Rey. Aku juga tidak begitu memikirkannya, karena dia semakin membosankan.


###

__ADS_1


Keesokan harinya.


Gista sedang bercerita dengan teman-temannya mengenai gelangnya itu.


"akhirnya gelang ini udah kembali ke tanganku lagi." ucap Gista


"syukurlah Gis." kata Lisa.


sambil berlari-lari mengelilingi lapangan karena sedang ada jadwal olahraga, pada hari itu. tiba-tiba ada sebuah bola menyasar dan jatuh menimpa kepala Gista.


DUAAKKKHH!


"Aduh ..." teriak Gista.


"aduh, gista kamu nggak papa?" tanya Lisa.


Gista terjatuh karena tersambar bola basket. tiba-tiba seorang cowok datang menghampirinya, ternyata dia Rey.


"maaf, aku nggak sengaja. kamu nggak apa-apa?" tanya Rey.


Gista hanya menatapnya lalu meggelengkan kepalanya.


"kalau sakit, ke uks aja ya?!" kata Rey lagi.


lalu Gista mengangguk-angguk. Reypun mengambil bolanya dan pergi meninggalkan Gista.


"Gista, dia itu Rey. pacar kamu dulu." kata Lisa.


"uh gantengnya ..." puji Monik.


lalu Lisa menyenggol sikutnya Monik.


"ih kamu ini !" kata Lisa.


Gista memperhatikan punghung Rey yang sedang berjalan sambio membawa bola.


"dia ... sangat tampan." ucap Gista dalam hati.


tiba-tiba Rey berbalik badan dan wajahnya memandang ke arah Gista yang sudah melanjutkan larinya lagi. lalu Rey tersenyum.


###


Setelah selesai sudahbjam sekolah berakhir. Aku menunggu Rey didalam mobil. Rey sedang ke toilet karena ingin buang air kecil. lalu mataku tertuju pada selembar kertas yang ada dibawah rem mobil. aku memungut secarik kertas itu yang ternyata adalah sebuah foto. lalu kulihat foto itu perlahan, dan mataku terbelalak, mulutku terbuka, jantungku berdegup kencang. ini adalah kesaksian pertamaku atas kebohongannya Rey selama ini.


"hah ... ini kan, Gista dan Rey ..." ucapku lirih.


Foto itu adalah foto Rey dan Gista, aku tidak tau kapan mereka sempat bersama tapi itu benar-benar membuatku sangat terkejut.


Lalu ketika aku ingat ucapan Gista sore itu, bahwa pacarnya Gista namanya Rey ternyata adalah Rey yang sekarang menjadi pacarku.


Aku sangat tidak menduga bahwa Rey adalah orang yang tega meninggalkan pacarnya saat dalam keadaan koma.


Hatiku mulai sakit, bibirku mulai bergetar, mataku mulai hangat. lalu air mataku mulai menetes. sungguh sangat menyakitkan.


Lalu Rey sudah kembali, aku segera menyeka air mataku dan kusimpan foto itu sebagai bukti, kalau saja suatu saat nanti aku butuh foto itu. aku mengepalkan tanganku. saat itu aku benar-benar marah dengan Rey. akupun hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun. karena aku ingin mendengar sendiri dari mulut Rey. apakah dia akan jujur dan menceritakannya padaku atau dia akan menyembunyikannya dari ku, dan kuanggap itu adalah sebuah kebohongan.


ketika sampai dirumah, aku langsung turun dan masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam perpisahan atau menciumnpipi Rey. Rey tampak kebingungan.


"fira ..." ucap Rey.


"dia kenapa?" tanya Rey pada diri sendiri.


Lalu Rey kemudian mengabaikannya dan lalu pergi pulang.

__ADS_1


Kemudian hari bergantu malam. Aku tengah merenung dengan apa yang kulihat. masih tidak percaya dan sangat tidak menyangka.


"ternyata Rey ... orang yang sudah ninggalin Gista." ucapku lirih.


tak lama kemudian air mataku menetes.


"aku ingat ketika pertama kali Rey dekat denganku dia juga sedang sakit. karena jidatnya diplester dan kakinya juga pincang. ternyata itu adalah hari dimana setelah Gista kecelakaan, dan dia mulai mendekatiku. benar-benar brengsek ..." kata ku dalam hati.


Hatiku remuk dan hancur, aku benci dengan Rey. tiba-tiba kepalaku seakan berputar-putar, dan mataku berkunang-kunang.


"ah ... kepalu pusing banget. mih ..." ucapku.


Aku berusaha memanggil Mamih, tapi sepertinya suaraku tidak terdengar. lalu aku merasakan sesuatu menetes dihidungku. lalu aku mengelapnya, dan ternyata darah keluar melalui hidungku. aku mimisan dan aku sudah tidak kuat lagi, aku pusing sekali dan pandanganku kabur.


BRUUGGHHK !


Fira terjatuh, dia pingsan. lalu tak lama kemudian Mamih melihat Fira tertidur dilantai dengan darah dihidungnya, dia pun langsung menelepon ambulance. dan dibawakannya Fira ke rumah sakit.


Terlihat Mamih menangisi anaknya, sambil mengiringi Fira.


setelah beberapa saat Fira diperiksa Dokter pun mengumumkan hal yang penting.


Ternyata Fira harus segera mengambil tindakan. ini keputusan untuk Mamih. Lalu mamih memilih untuk dioperasi.


lalu Keesokan harinya, Aisyah, Hana, dan Stefi datang menjenguk Fira. Aisyah menenangkan Mamih Dira lalu mengajaknya untuk sholat.


Operasi sedang berjalan, lalu Merekapun akhirnya menuju ke masjid yang ada di rumah sakit. mereka lalu berdoa bersama.


Tak lama kemudian Rey datang karena dihubungi Hana. Rey juga terkejut karena mendengar kabar dadakan yang begitu mengejutkan. semua sedang mendiakan Fira, menhkhawatirkan Fira, juga mengharapkan Fira akan baik-baik saja.


###


"kenapa Fira ... tidak masuk?" gumam Aldi ketika sudah sampai dirumahnya.


"apa terjadi sesuatu padanya?" gumamnya lagi.


lalu dua mengecek nomor WA Fira, dan ternyata terakhir dilihatnya itu kemarin.


"apa yang terjadi pada Fira?" kata Aldi dalam hatinya.


"ahk ... kenapa aku kepikiran dia sih ..." celetuk Aldi.


"kak Aldi kenapa? kok gelisah gitu?" tanya Gista tiba-tiba.


Lalu Aldi tiba-tiba pergi dan mengenakan hoodienya. dia berjalan menuju ke rumah Fira. karena dia sudah tau ternyata rumah Fira tidak jauh dari rumahnya.


"kenapa rumahnya gelap? dan sepi ..." ucap Aldi.


"pak, maaf ini orangnya ya?" tanya Aldi pada Bapak yang sedang duduk di gubuk seberang jalan.


"neng Fira dirumah sakit, katanya dioperasi."


Lalu Aldi terkejut dan hatinya mulai panik. dia lalu pulang kerumahnya lagi. dia tidak bisa apa-apa, dia cuma bisa memikirkannya dan mendoakan Fira.


"semoga operasinya lancar ..." ucap Aldi dalam hati.


Aldi lalu membuka bukunya, buku yang berisi foto-foto masa kecil dan kenangan lainnya, termasuk ada foto Fira. lalu dia memandangi Foto Fira dan mengelus-elus fotonya.


"apa yang terjadi padaku? ... kenapa aku sangat khawatir padanya?" kata hatinya.


"aku tidak bisa berhenti memikirkannya, sejak ... menyelamatkan Sari." katanya.


Lalu Aldi tersenyum dan tersipu malu. pipinya merah dan matanya berbinar-binar.

__ADS_1


__ADS_2