
sesampainya dirumah, tubuhku langsung ambruk karena badan sakit semua.
" aduh geulis teh kenaon? apa yang terjadi? ngomong atuh sama mamih". suara mamihku terdengar sangat lantang.
" mih, aku takut banget. tadi dijalan pas aku lagi nganterin pesenan aku hampir diculik. terus tanganku ditarik-tarik terus didorong sampai aku meluk aspal. huwaa😩 sakit banget mih badanku." kataku sambil meraba-raba punggungku sendiri.
" whatt?? diculik?? eh yang bener atuh?? kok serem pisan! terus kamu nggak papa kan? nggak diapa-apain kan? aduh harusnya kamu teh langsung lapor polisi." ucap mamih sedikit panik.
"enggak sempet lah mih, tapi untungnya ada orang yang datang nolongin aku. eh aku belum sempet ngomong terima kasih orang itu udah pergi duluan. aduh, sakit banget punggung fira mih." kataku sambil merengek kesakitan.
" hem syukurlah nak, ada yang nolongin kamu. haduh mamih teh khawatir pisan sama kamu. itu si rey kemana? dia kemana sih? gak ngerti apa pacarnya dianterin gitu kek, malah main sendiri." kata mamih sebel.
" dia ada latihan futsal mih, ya nggak bisa diganggu gugat." jawab ku.
lalu akhirnya mamih memijitkan badanku dan mengobati luka-luka kecil yang tergores aspal. dan setelah itu kita makan malam berdua. karena papih sedang ada bisnis diluar negeri untuk jangka waktu yang lumayan lama. dan mungkin terhitung sejak keberangkatan papih ke London, sudah 3 tahun papih tinggal disana. tapi kami setiap bulan selalu memberi kabar lemat email.
keesokkan harinya, seperti biasa Rey selalu menjemputku untuk berangkat bersama.
Tiin!!Tiin!! suara klakson motornya berbunyi keras dan memanggilku keluar. ya benar, Rey sudah sampai di depan rumahku. aku bergegas keluar karena sudah terlambat.
"assalamualaikum." sapa Rey dengan senyuman mautnya.
sembari bersalaman dan mencium tangan mamihku,tanda menghormatinya.
"waalaikumsalam. eh eta, kemarin si fira itu mau diculik, kamu tau nggak, kemana aja kamu?" kata mamihku denga wajah kesal.
" oh soal itu, iya semalam fira sudah cerita ke saya. maaf tante kemarin saya nggak bisa nganterin fira karena ada latihan futsal." jawab Rey selow.
__ADS_1
" etdah futsal lebih penting iya daripada nyawa pacarmu ini?" tambahnya makin kesal.
" hehe iya tante maaf, tapi . . . fira lebih penting dari apapun. saya janji saya akan berusaha untuk selalu ada buat fira dalam keadaan apapun." jelas Rey untuk mendapatkan maaf dari mamih.
mamih lalu melirik ke arahku dan menghela nafasnya.
" hm, ya sudah tante maafin kamu. tapi kamu harus buktiin janji kamu itu." kata mamih.
" baik tante. terima kasih. saya akan buktikan ke tante juga ke kamu . . fira."
Rey lalu menatapku dengan serius, tatapan yang membuatku sesak nafas. tatapan yang membuatku luluh padanya. lalu aku tersenyum padanya.
" ya udah mih, dari tadi mamih ngomel terus. fira berangkat yah mih. salim dulu." kataku sembari mengulurkan tangan.
Akhirnya kita berdua berangkat. sepertinya hari ini akan terlambat. namun, setela perjalanan beberapa menit kemudian sampailah di sekolah kita dan untung saja masih sempat baris upacara.
dan seperti biasa, aku bertemu teman-teman tercintaku dikelas dan melakukan proses belajar sampai selesai. setelah jam istirahat aku dan teman-temanku ke kantin buat ngisi perut. tapi si Aisyah lagi puasa senin kamis jadi dia hanya duduk termenung sambil mainan hp.
" eh gaes, kemarin aku liat si culun pipit boncengan sama cowok." kata Hana memulai percakapan.
" ye terus kenape? lu ngiri? lu pengen juga?" sambar si Stefi sambil memakan bakso kesukaannya.
" oh enggak, aku udah sering. tapi aku penasaran cowoknya kayak apa yah? apa pakai kacamata juga? hahaha." jawab Hana ngeledek.
" astaghfirullah, hana nggak boleh kamu ngatain orang kaya gitu. gak baik, ghibah. dosa lho." jawab Aisyah.
" aelah aisyah, kamu mah selalu dikait-kaitkan sama agama. gak boleh beginilah, gak boleh begitulah, ah ribet banget sih." celetuk Hana.
__ADS_1
" eh ini orang dibilangin gak percaya. kita semua islam toh? seharusnya patuhi semua aturan-aturan didalam agama islam. jangan cuma islam ktp!" jawab Aisyah panjang kali lebar.
lalu stefi akhirnya mendiamkan mereka berdua. aku hanya menyimak saja, karena aku masih kepikiran kejadian kemarin.
" eh fira, lu ngapa diem-diem aja?" tanya stefi mengejutkan lamunanku.
lalu akupun menceritakan apa yang terjadi kemarin tanpa kurang satu katapun. dan kulihat ekspresi mereka juga agak ngilu, ngeri gitu mungkin yah kalau membayangkan.
" jujur aja aku jadi takut kalau keluar sendirian." ucap ku di akhir penjelasanku.
" nggak papa fir. kalau mau kemana-mana selalu ucap bismillah, insyaallah kamu terjaga sama Allah." timbal Aisyah.
aku hanya mengangguk saja.
hari semakin sore, semua mata pelajaranpun sudah hampir selesai. pukul 14.15 WIB akhirnya bel pulang pun berbunyi. dan seperti biasa juga aku pulang bareng dengan Rey. setelah perjalanan pulang, Rey pun pergi ke suatu tempat.
Rey pergi tanpa bilang padaku mau kemana. dan sore itu Rey pergi ke toko bunga. sepertinya Rey akan membeli bunga, tapi untuk siapa? dan Rey membeli 2 ikat bunga mawar.
Rey pun bergegas menuju ke suatu tempat. kali ini Rey memarkirkan motornya di depan tempat seperti rumah sakit. tapi siapa yang sakit?
lalu dia menuju ke ruangan yang sepertinya ruang rawat. dibukakannya pintu secara perlahan, kakinya melangkah masuk dengan pelan-pelan. raut wajah yang kusam karena baru pulang sekolah, bibirnya mengatup. dilihatnya wanita yang sedang tertidur pulas diranjang itu. diletakkannya bunga di meja samping ranjang. diusapnya rambut wanita itu, wanita yang terbaring lemah dengan mata yang masih tertutup rapat, detakan jantung yang lemah. lalu digenggamnya jemari manis wanita itu dan Rey mencium tangannya. Rey menutup matanya dan tiba-tiba air mata jatuh dipipinya. jatuh tanpa diminta. matanya merah, menandakan dia benar-benar sedih.
seperti dirinya merasakan sakit hati yang sangat dalam. Rey hanya menatapnya beberapa saat dengan raut wajah sedih dan sembab. Dan tiba-tiba ada suara seseorang yang masuk.
Rey terkejut, tapi dia sudah menebak siapa yang datang. seseorang laki-laki seumurnya dengan mengenakan seragam yang sama.
" sampai kapan?" tanya laki-laki itu.
__ADS_1
lalu tiba-tiba laki-laki itu menjauhkan tangan Rey dari wanita itu.