BLACKMAN

BLACKMAN
32. CURHAT


__ADS_3

Sampailah aku dirumah dan disambut oleh tante yang paling aku sayang dan paling akrab denganku, tentu saja Tante Diana.


saat bertemu kami berpelukan, karena sudah sekitar satu bulanan tidak bertemu.


"ah ... tante, kangen banget deh." ucapku sambil memeluk erat tanteku.


"eh iya, tante juga. kamu udah sehat kan, katanya kemarin kamu masuk rumah sakit?" tanya Tante Diana.


"yah begitu deh, masih belum sehat banget. tapi udah biasalah tante." jawabku.


"ya sudah, diana, fira, ayok masuk ngobrolnya jangan diluar." kata Mamih.


"iya mih. yuk tante masuk." kata ku.


lalu kami pun masuk kedalam rumah. kita makan cemilan sambil mengobrol-ngobrol. hingga kita nonton film bareng. selera Tante Diana sama seperti selera ku.


"kita nonton movie yuk tant, aku punya kaset film terbaru nih." kata ku.


"oh ya? film apa? coba deh." jawab Tante Diana.


"oke. tapi ini genrenya thriller tan?!" tanyaku ragu.


"bagus dong pasti seru nih." jawab Tante Diana.


"ya udah. okey kita nonton !" kata ku penuh semangat.


lalu aku memasukkan kasetnya ke dalam DVD dan film pun siap ditonton. aku memposisikan duduknya agar nyaman. kami sudah menyiapkan beberapa cemilan dan minuman untuk mengisi perut. benar-benar terniat sekali. lalu tiba-tiba Mamih masuk ke kamarku.


"lagi nonton apa?" tanya Mamihku.


"ini kak, nonton film thriller. seru nih, yuk ikutan." jawab Tanta Diana.


"ayok mih, sini nonton bareng. pasti seru nih." timbal ku.


"oke deh. mamih ikutan." jawab Mamih.


"yeay." jawab ku.


Lalu kami bertiga akhirnya menonton film bersama. film sudah diputar dan sudah mulai ada adegan menegangkan. sesekali Mamih terkejut dan teriak. aku hanya tertawa saja melihat Mamih yang ketakutan seperti itu. Mamih memang jarang banget nonton film seperti ini, dia lebih suka drama Indonesia yang alur ceritanya sudah bisa ditebak.


Dan sepertinya jam berjalan dengan cepat, 2 jam sudah kita menonton filmnya, tanpa sadar aku ternyata ketiduran dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa.


Mamih tiba-tiba mengajak Tante Diana keluar kamar. seperti akan membicarakan sesuatu.


"Diana, fira sebenarnya menderita sakit yang cukup serius." kata Mamih sedikit memelankan suaranya.


"sakit serius? sakit apa kak?" tanya Tante Diana.


Lalu Mamih diam sebentar, wajahnya berubah menjadi sendu. dia ragu untuk menceritakannya.


"... fira ... belum tahu penyakitnya, karena aku takut dia akan drop dan semakin buruk keadaanya. tapi aku tidak tahu harus cerita ke siapa lagi, ayahnya sangat sibuk jadi sangat tidak mungkin aku mengganggunya." jelas Mamih.


"nggak apa-apa kak, cerita padaku saja. aku juga seorang dokter, barangkali aku bisa memberikan solusi." kata Diana.


"tapi kamu jangan kasih tahu dulu sama fira, ya?" ucap Mamih.


"iya kak, tidak akan. memangnya sama siapa sih kak, aku juga tantenya fira dan adik ipar kakak." kata Tante Diana.


"tapi ... aku sangat khawatir pada fira. dia sempat penasaran dengan penyakitnya." ucap Mamih yang matanya sudah basah.


Air matanya menetes. Tante Diana yang melihatnya merasa sedih juga.

__ADS_1


"kak, memang apa penyakit yang diderita fira? coba cerita sama aku." tanya Tante Diana.


"lebih baik, kamu baca sendiri surat diagnosanya ya." kata Mamih.


Mamih lalu memberikan kertas hasil diagnosa Dokter. dan Tante Diana mulai membacanya.


"jadi ... fira kena Koarktasio Aorta?! ... " kata Tante Diana.


lalu Mamih mengangguk. Tante Diana mulai menunjukkan wajah takut.


>> Koarktasio Aorta merupakan cacat bawaan (kongenital) dari aorta yang mengalami gangguan berupa penyempitan. Aorta merupakan pembuluh darah besar yang bercabang dari jantung, untuk membawa darah yang mengandung oksigen ke seluruh tubuh. Akibat dari penyempitan ini, jantung harus bekerja keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Penyakit ini biasanya terjadi saat lahir. Kondisi ini dapat mempunyai gejala, mulai dari ringan sampai berat, dan terkadang tidak terdeteksi sampai dewasa. Hal ini tergantung tingkat keparahan penyempitan yang terjadi pada aorta. Koarktasio aorta biasanya sering timbul bersamaan dengan kelainan jantung lainnya. Pengobatan pada kondisi ini biasanya dapat berhasil. Namun, kondisi ini membutuhkan pemantauan seumur hidup.<<


lalu Tante Diana memeluk Mamih yang sudah meneteskan air matanya dengan deras.


"kak, ini bisa disembuhkan. jadi jangan khawatir." ucap Tante Diana.


"tapi pilihannya hanya ada dua, Ballon Angioplasty atau pembedahan." kata Mamih.


>> Balloon Angioplasty (Angioplasti dengan balon)


Prosedur ini bertujuan untuk melebarkan arteri dengan menggunakan balon dan kateter. Dokter akan memasukkan balon dan kateter tersebut ke dalam arteri yang tersumbat. Selanjutnya, balon tersebut akan dikembangkan dalam arteri. <<


"ini masalah serius kak, kakak harus mendengar pendapat mas Agus. kalian harus berdiskusi masalah ini berdua, mau mengambil pengobatan seperti apa, karena ini berkaitan masa depan Fira, anak kalian." jelas Tante Diana.


"tapi ... Agus, dia pasti akan marah kalau aku memberitahu disaat dia sedang bertugas." jawab Mamih.


"ya udah, sebagai adik kandung mas Agus, aku yang akan mengabarinya ya,?" kata Tante Diana.


"tidak usah diana, ini masalah keluarga ku jadi kamu tidak usah repot-repot." kata Mamih.


"kak, Fira itu keponakan aku juga. aku juga sayang sama Fira. jadi biarkan aku membantunya, membantu kakak. yah, ... kaka tenang saja, aku tidak akan langsung meneleponnya. aku akan kirim via email dulu." kata Tante Diana.


"kak, semua pasti akan baik-baik saja. percaya sama Diana!" kata Tante Diana meyakinkan Mamih.


lalu Tante Diana memeluk Mamih, dan malam itu berlalu begitu cepat bagi Fira. namun tidak bagi Mamih dan Tante Diana. karena mereka begadang memikirkan cara pengobatan Fira.


###


Esok hari telah tiba.


pukul 06.35 WIB. Aldi berangkat sekolah seperti biasa, bersana adik tersayang, Gista.


Di kelas Gista duduk termenung karena masih memikirkan gelangnya yang hilang.


tiba-tiba Lisa dan Monik baru sampai di kelas. mereka meletakkan tasnya di kursi masing-masing.


"gimana gista, udah ketemu?" tanya Monik.


Gista menggeleng-gelengkan kepalanya.


"hm ... ya sudahlah, mending kamu beli lagi yang baru." kata Monik lagi.


"enggak mau, pokoknya gelang itu harus ketemu. itu gelang pemberian dari seseorang, dan aku rasa gelang itu bagus, aku suka sekali gelang itu. selama dirumah sakit gelang itu tidak pernah lepas dari tanganku. kata bunda." jelas Gista dengan wajah cemberut.


"hm ... pemberian seseorang?!" kata Lisa.


Lisa lalu memikirkan tentang sesuatu.


"Monik, ... kamu ingat seseorang nggak?" tanya Lisa.


"siapa?" jawab Monik.

__ADS_1


lalu mata Lisa melirik-lirik ke arah Gista kepada Monik.


"hm ... gista?" jawab Monik.


"kenapa sama gista?" tanya Monik bingung.


"haduh ... sekarang aku punya pacar gak?" tanya Lisa kepada Monik.


"haha, masa pacar sendiri tidak dianggap sih. kamu kan punya pacar, namanya Tara." jawab Monik.


"nah, kamu punya pacar gak?" tanya Lisa lagi.


"aku punya dong. Budi." jawab Monik.


"dan gista punya pacar nggak?" tanya Lisa lagi.


lalu Monik terkejut.


"hah ... kamu punya pacar gista?" tanya Monik.


lalu Lisa memukul kepala Monik.


"aduh ... kok dipukul sih. sakit tau!" kata Monik kesakitan.


"kamu ini gimana sih, Gista dulu punya pacar sebelum kecelakaan. inget nggak?" tanya Lisa.


"oh, itu ... Rey!" jawab Monik.


"nah. iya." kata Lisa.


"kalian ngomongin apa sih? maksudnya gimana?" tanya Gista yang semakin kebingungan.


"jadi dulu, kamu itu punya pacar, namanya Rey. dia kakak kelas kita. kita tau karena kalian sudah pacaran cukup lama, sejak pertama masuk ke sma ini kalian udah pacaran, jadi mungkin sudah setahunan." jelas Lisa.


"hah ..." ucap Gista yang masih bingung.


"duh, gista apa sekarang kalian sudah putus? atau sewaktu dirumah sakit ada yang menjengukmu nggak? maksudku ... selain kita dan teman-teman mu?" tanya Monik.


"hm ... aku nggak tahu, yang aku tahu setelah siuman cuma ada kakak sama bunda saja." kata Gista.


"iya yah, kamu mana tau kamu kan sedang koma." kata Lisa.


"hm ... lagian kalaupun aku punya pacar, sudah pasti dia akan menemuiku ketika aku kembali ke sekolah ini lagi." kata Gista.


lalu Lisa dan Monik bertatapan secara bergantian.


"tapi ... apa hubungannya punya pacar sama gelang?" tanya Gista.


"iyaa, kemungkinan saja itu gelang pemberian dari Rey. makanya kamu merasa gelang itu berharga kan buat kamu?" tanya Lisa.


Gista hanya diam karena dia tidak tau harus menjawab apa.


"aku tau gimana rasanya kehilangan, aku juga tau gimana rasanya dikasih sesuatu yang sepele, tapi buatku itu berharga bila yang memberi dari seseorang yang kita cinta." jelas Lisa.


"kamu tau? aku juga pernah dikasih cincin plastik sama pacarku, walaupun bukan emas asli tapi aku senang sekali." kata Lisa.


"ya sudah, nanti kita bantu cari gelang kamu lagi deh." kata Monik.


"hm ... makasih ya. kalian baik sekali." ucap Gista merasa terharu.


lalu bel masuk sudah berbunyi, pertanda kelas akan dimulai.

__ADS_1


__ADS_2