
Tak lama kemudian, suara sirine mobil polisi datang. mereka pun langsung berusaha melarikan diri tapi Aldi berhasil membuatnya terkapar. lalu polisi segera mengevakuasi mereka, mereka diborgol, lalu Sari di bawa ambulance untuk diperiksa kesehatannya.
"fir,aku sendirian, aku nggak punya siapa-siapa lagi." kata Sari yang menarik tanganku.
Aku kasihan melihatnya. penampilannya kini berantakan dan terlihat seperti orang gila. tapi bagiku, tatapan matanya menunjukkan kalau dia sekarang butuh bantuanku.
"iya,aku akan menemanimu." ucapku.
lalu aku menghampiri Aldi.
"aldi, kamu boleh pulang sekarang, aku akan mengantar sari."
Aldi hanya menatapku dengan penuh keraguan.
"aku akan ikut." kata Aldi.
lantas aku terkejut karena aku pikir dia tidak akan mengucapkan apa-apa.
"heh,aku bilang kamu pulang saja. dia temanku,jadi nggak usah khawatir." kata ku kepada Aldi.
"ketika aku hanya menunggumu dimotor 1 menit saja kamu masuk ke perangkap tadi." kata Aldi.
"hey,mana aku tau kalau dirumah itu ada . . ." kata-kata ku terhenti ketika terbesit dipikranku tentang 3 orang tadi.
"haah, ya sudah kamu ikut tapi aku akan bersama sari." jelas aku.
lalu kamipun membawa Sari ke rumah sakit untuk di cek psikisnya, dan tentu saja fisiknya.
setelah selesai di cek segala macam pengecekan, akhirnya kamipun menunggu untuk mengambil obat.
"sari,apa kamu kenal mereka?"
"iya, ... mereka adalah teman-teman ayahku. mereka datang karena ingin menagih hutang ayahku. tapi ayahku meninggal 1 tahun lalu, dan ibuku bekerja diluar negeri sebagai TKW. aku hidup sendirian, kadang aku mencari kerja sampingan untuk mengumpulkan uang untuk bayar hutang. tapi aku ... hiks .. hiks ... aku tidak sanggup membayar hutang yang begitu banyaknya." kata Sari.
Sari menangis tiba-tiba. Aku yang melihatnya begitu iba kepadanya. lalu akupun memeluknya.
"sekarang kamu mau tinggal dimana?" tanyaku.
"entahlah, mungkin aku akan pergi ke rumah bibi." jawab Sari sendu.
" hm, begitu yah. lalu untuk membayar hutangmu bagaimana?" tanyaku lagi.
"itu ... aku tidak tahu." jawab Sari.
" hm ... sari, aku punya cafe dan masih butuh seorang pelayan, kamu bisa bekerja di cafe ku."
Sari yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya saja, dia kini mulai menatap wajahku dan bibirnya mulai mengembangkan senyuman. wajahnya berseri-seri.
lalu Saru mengangguk-angguk. akupun tersenyum.
__ADS_1
aku melihat Aldi yang sedari tadi diam dan hanya menyimak pembicaraan ku dan Sari saja.
"oh ya, kamu mau pulang naik apa?" tanya ku.
" naik angkot aja." kata Sari.
" em ... gimana kalau diantar aldi saja, tenang, dia teman ku kok." kata ku.
" ah, nggak usah fir. aku bisa naik angkot kok." kata Sari.
" hm, nggak papa. aldi, kamu mau kan nganterin sari ke rumah bibinya?" tanya ku pada Aldi.
Aldi langsung terkejut.
" eh ... iya, boleh." jawab Aldi spontan.
"nggak usah fira, nggak papa. aku sangat berterima kasih sama kamu, mau menolongku. terima kasih banyak yah." ucap Sari sambil memelukku.
"hm, iya sari. sama-sama." jawab ku.
"nggak salah dulu aku memilih kamu menjadi temanku, teman baikku." ucap Sari lagi.
"hm, iya sari. aku juga beruntung bisa berteman sama kamu. kalau kamu butuh bantuan, bilang aku saja yah." ucap ku.
"iya,terima kasih fira."
GLUDUK!!!CETARRR!!!!
" hm ... hujan ya, aldi minggir dulu."
Hujan turun dengan derasnya, diikuti suara petir yang menggelegar. aku dan Aldi menepi di depan toko pinggir jalan.
Angin mulai berhembus kesana-kemari, menusuk-nusuk pori-pori kulit ku, merinding sudah terasa. aku mulai kedinginan. karena aku hanya memakai sweater rajut saja. tapi dingin masih terasa.
"hujannya deras banget." ucapku.
Aldi hanya meliriku saja, dia tidak membalas ucapanku. memang dia itu pelit bicara, diam seribu bahasa.
Namun aku sudah kedinginan, sampai bibirku bergetar.
"masa aku harus pinjam jaketnya aldi sih?" kataku dalam hati.
"tapi aku sudah kedinginan." ucapku lagi dalam hati.
"ahk tidak apa-apa, sebentar lagi pasti hujannya reda." gumamku.
tiba-tiba, Aldi melepas jaketnya dan dia memandangku.
"ini pakai jaketku saja, kamu kedinginan." ucap Aldi yang langsung memakaikan jaketnya ke pundakku.
__ADS_1
Aku terkejut bukan main, aku hanya bisa diam karena bibirku gemetaran dan aku rasa tidak masalah. lagi pula, disaat sepertu itu pasti Rey juga akan melakukan hal yang sama.
"makasih." ucapku lirih.
Kini aku merasa lebih hangat. sehangat sikapnya saat itu. entah apa yang membuatku berpikiran kalau Aldi begitu perhatian padaku dan juga tangannya yang begitu hangat. tanpa sadar aku memegang tangan Aldi.
"aku boleh pinjam tanganmu, tanganmu hangat." tanyaku lirih.
Aldi hanya mengangguk saja.
"apa-apaan ini, tanganku tiba-tiba memanas, ditambah lagi telapak tangan dia yang halus dan lembut." ucap Aldi dalam hati.
"apa yang kamu pikirkan aldi, sadar woy sadar!" gumamnya dalam hati.
Aku memegang kedua tangan Aldi, lalu aku merasa kehangatan yang begitu hangat, lalu aku menempelkan tangan Aldi ke wajahku. dan wajahku pun menghangat. aku memejamkan mataku karena ingin menikmati sumber kehangatan, yaitu tangan Aldi.
"hangat." ucapku dalam hati.
"hey,apa yang kamu lakukan?" tanya Aldi.
aku masih memejamkan mataku.
Aldi hanya memandangiku, dan tiba-tiba mata dia terbelalak
"darah ..." ucap Aldi.
dan ketika itu aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. tubuhku lemas dan rasanya aku seperti sedang tertidur pulas.
"fira, fira, ... ah dia mimisan lalu pingsan." kata Aldi.
Aldi langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. karena hujan juga sudah mulai mereda.
"apa yang terjadi?kenapa fira bisa, ... " ucap Aldi dalam hatinya.
sesampainya di rumah sakit Fira langsung di bawa ke ruangan cek. Aldi pun menunggunya diluar ruangan. dengan keadaan badan basah kuyup, juga rambutnya.
"kenapa rasanya, aku ... ahhk ! aku khawatir padanya ! apa yang terjadi padaku? kenapa, kenapa, apa yang terjadi? jantungku tidak bisa berdetak dengan normal." kata Aldi dalam benaknya.
"apakah dia sakit? apakah dia trauma akibat kejadian tadi siang?" ucapnya lagi dalam hati.
Aldi tidak bisa berhenti berpikir apa yang terjadi. perasaanya mulai gelisah dan takut terjadi sesuatu.
"perasaan apa ini? kenapa aku ... merasa ... bersalah." ucapnya dalam hati.
kemudian Aldi teringat sesuatu. bibirnya mengatup dan pandangannya mulai tertuju dengan satu ingatan tersebut.
"perasaan ini, ... apa sama dengan yang dirasakan rey?" ucap Aldi.
Dia mulai menyadari sesuatu, kalau dirinya sudah keterlaluan terhadap Rey. mungkin karena selama ini Aldi selalu bersikap dingin cuek. sehingga yang dia rasakan hanyalah lapar dan haus.
__ADS_1