BLACKMAN

BLACKMAN
39. UNGKAP 1


__ADS_3

Empat hari kemudian, seluruh kelas akan menjenguk Fira, hanya satu kelas saja yaitu kelasnya Fira. termasuk Aldi, dia juga bersemangat ketika akan menjenguk Fira.


Sampailah mereka di rumah sakit yang sudah dituju, Hana, Aisyah, dan Stefi yang menunjukan jalannya. Untung saja Fira sudah siuman, dan sekarang masih makan.


Aku duduk perlahan-lahan, kata temanku wajahku pucat sekali, badannya semakin kurus. yah mungkin karena efek dari operasinya. suaraku juga tidak bisa sekeras seperti biasanya.


"makasih ya teman-teman sudah mau menjenguk ku." ucap Fira lirih.


"sama-sama Fira. kita senang bisa menjenguk kamu. semoga kamu ceoat sembuh dan bisa berangkat sekolah lagi ya." jawab Bagus sebagai ketua kelas.


"iya fir, kasian tuh trio cabe kesepian nggak ada kamu." ucap Julia, sang sekretaris.


lalu aku tersenyum.


"kenapa jantungku berdebar-debar." kata Aldi.


Aldi tidak bisa masuk karena ruangannya sudah penuh dengan anak-anak perempuan. tapi sesekali Aldi menatap wajah Fira dari jendela pintu.


"aku nggak bisa sepertu ini." ucap Aldi dalam hatinya.


"aku harus bisa mengendalikan." ucapnya lagi.


tiba-tiba semuanya keluar dan Bagus memanggil Aldi.


"aldi ... Fira ingin bicara empat mata denganmu. tolong jangan bikin ribut ya." kata Bagus.


Aldi terkejut, semakin kencanglah degupan jantungnya. Aldipun perlahan-lahan berjalan memasuki ruangan Fira. dengan wajah yang tegang dan badannya mulai memanas.


"sial, badanku memanas." kata Aldi dalam hatinya.


"Aldi ... kenapa kamu diam saja?" tanya ku langsung ke intinya.


sebenarnya rasanya masih sakit, tapi aku harus kuat.


"kenapa kamu tidak pernah bilang ... kamu pasti sudah tau semuanya kan? tapi kenapa kamu nggak mau jujur." kata ku sedikit marah.


Aku benar-benar tidak tahan lagi, air mataku menetes begitu saja.


Namun, Aldi hanya diam saja dan dia terkejut melihatku berbicara seperti itu tiba-tiba.


"apa maksudmu?" tanya Aldi.


"aku sudah tau ... alasan kenapa kamu dan Rey ... bermusuhan ... itu karena ... Gista kan?" tanyaku terbata-bata.


Nafasku terengah-engah, karena perutku masih terasa sakit. aku memgangi perutku.


"ah ..." ucapku kesakitan.


"Fira ..." kata Aldi.


Aldi hanya bisa memandangiku meringkih kesakitan, aku tau pasti dia bingung. Antara ingin menolongku atau menjawab pertanyaanku.


"jawab di? aku nggak apa-apa." kata ku.


Aldi lalu menundukan kepalanya.


"kenapa sih? jangan diam saja ... jawab pertanyaanku?!" ucapku sedikit membentaknya.


tiba-tiba darah keluar dari perutku, tapi aku mengabaikannya.


"fira ... kamu tenang dulu, aku akan menjawabnya kalau kamu sudah sembuh." kata Aldi dengan wajah panik.


"justru aku akan sembuh kalau kamu jujur sama aku !" kata ku.


"sial!" ucap Aldi dalam hatinya.

__ADS_1


"darahmu sudah keluar ..." kata Aldi lagi.


Aldi mendekat ke arahku lalu nemgangi perutku untuk menahan darahnya yang keluar.


sebenarnya aku kesakitan, tapi aku ingin segera mendengar jawaban dari Aldi detik itu juga.


"Aldi !! jawab pertanyaanku, kalau ..." ucapku.


"Iya !!" jawab Aldi dengan suara lantang.


Belum selesai aku bicara Aldi sudah menjawabnya dengan suara lantang. Aku sangat terkejut, lebih terkejut lagi ketika aku melihat wajah Aldi yang begitu panik sambil memegangi perutku dan menekannya agar darah tidak keluar lebih banyak.


Lalu aku tidak kuat lagi, dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.


"fira ..."


Pintu tiba-tiba terbuka dan Dokter beserta suster datang lalu segera memeriksa Fira.


Aldi masih panik, tangannya penuh darahnya. lalu dia keluar dan menunggunya di luar. Mamihnya khawatir lalu menanyakan apa yang terjadi, juga Aisyah, Hana, dan Stefu pun penasaran. lalu Aldi menceritakan apa yang terjadi.


Mamih semakin sedih, dia menangis dan semakin terisak-isak. begitu juga Aisyah dan Hana. mereka juga menangis, tapi Stefi tidak. dia hanya merenung. lalu Aldipun pergi membersihkan tanganya.


"fira sudah tau semuanya ..." ucap Aldi dalam hatinya.


ketika Aldi sudah sampai dirumahnya dan didalam kamarnya.


###


3 jam kemudian, keadaan sudah membaik lagi. sementara Fira tidak boleh diganggu dulu. tapi saat itu Rey datang menjenguknya.


Aku tidak menatap wajahnya dan memalingkan wajahku. lalu Reypun berbicara berdua dengan Fira, ditemani Mamihnya, karena takut terjadi hal yang sama dengan Aldi seperti sebelumnya.


"mulai sekarang kita putus." kata ku.


"apa? kenapa? apa salahku?" tanya Rey kebingungan.


"lebih baik sekarang, daripada nanti kamu tiba-tiba pergi ninggalin aku dan malah jadia sama cewek lain." ucapku.


"apa maksudmu?" tanya Rey.


"maksudku, sama seperti apa yang kamu lakukan terhadap ... Gista." kataku.


lalu Rey sangat terkejut dengan ucapanku.


"... bagaimana kamu, bisa tau?" tanya Rey.


lalu aku memberikan foto yang kutemukan di bawah rem mobil Rey. Rey pun melihatnya dan tentu saja dia juga terkejut.


"aku sudah tau semuanya Rey, bahkan dari mulut Gista sendiri. kenapa kamu begitu?" tanyaku.


Aku tidak akan mengusir Rey, tapu aku juga harus memutuskan Rey. dan juga aku ingin mendengarkan penjelasan dari Rey langsung. sementara Mamih hanya bisa menguatkanku.


"kenapa kamu dulu ninggalin dia, dan malah jadian sama aku?" tanyaku.


"aku tidak meninggalkan dia, itu terjadi atas permintaan kakaknya, Aldi. tapi sebelum itu ... aku memang ... brengsek !" kata Rey.


"aku tidak bisa tenang dan aku stress mikirin Gista. lalu akhirnya aku jatuh cinta sama kamu. kamu bisa menenangkan pikiranku saat itu." kata Rey.


Akhirnya Rey pun mengakui semuanya dan dia meminta maaf padaku, juga pada Mamih. tapi sepertinya Rey sedih dan bimbang.


"akhirnya kamu mau menceritakan semuanya padaku. sekarang, apa kamu masih sayang sama Gista?"


Rey menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Rey, aku tau ... pasti kamu sudah berusaha keras buat move on dari Gista. tapi dia, sedang mencarimu, dia masih membutuhkanmu, sosok yang sudah memberinya gelang berharga. kamu ingat gelang yang aku pakai, ternyata itu gelang Gista. pantas saja kamu menanyakannya saat itu. Gista merasa kehilangan gelang itu, katanya gelang itu sangat berharga buat dia." kata ku pada Rey.

__ADS_1


"tapi aku ... nggak bisa ninggalin kamu, fir." kata Rey.


dia menggenggam tanganku sambil meminta padaku. tapi aku tau, dia melakukan itu padaku karena terpaksa. sebenarnya hatinya masih memilih Gista, terlihat di pancaran matanya. lalu aku menghela nafasku.


"Rey ... kita masih bisa berteman. sekarang Gista butuh kamu," kata ku.


"enggak, tapi kamu yang sedang butuh aku sekarang. aku nggak mungkin ninggalin dalam keadaan seperti ini, aku nggak akan ninggalin kamu, ... lagi." kata Rey.


"Rey ... percuma kamu bela-belain nungguin aku kalau hatimu masih memilih Gista. aku tau itu Rey, aku bisa merasakannya. aku tau kamu mendekatiku saat itu karena kamu butuh tempat, tempat untuk melampiaskan rasa bersalahmu."


Akhirnya, untuk pertama kalinya aku melihat Rey menangis. dia lalu memelukku dan mengecup keningku.


"maaf fir, aku brengsek." kata Rey.


"aku maafin kamu Rey." jawabku.


lalu Rey pun melepaskan genggaman tanganku, dan dia pergi meninggalkanku. diapun berpamitan dengan Mamih. dia keluar dari ruangan itu tanpa menatapku lagi.


Aku sedih, sangat sedih tapi semuanya sudah terlihat jelas, bahkan saking jelasnya itu hampir membutakan perasaanku. Aku pun menangis dan Mamih langsung memelukku. Mamih seraya ikut merasakan apa yang aku rasakan. dia menangis sambil memelukku.


Lalu tiba-tiba ketiga temanku datang dan masuk. mereka memelukku dan menguatkanku. mereka memang selalu ada kapanpun aku butuh. mereka tempatku curhat, tempatku bercerita, tempat ku butuh bantuan.


tiba-tiba hp Mamih berbunyi, ada panggilan video call dari suami tercinta.


"hah Papih ! halo Papih, i miss you so much." ucapku yang langsung merebut hp Mamih.


"hah ... fira, miss you so much too. mMamih kamu dimana?" tanya Papih.


"ini disampingku, dan ini teman-temanku pih." kataku sambil menunjukkan kepada ketiga teman-temanku.


"halo om," sapa mereka sembari melambaikan tangan.


"ah iya, hai Aisyah, Hana, Stefi ... gimana kabar kalian?" tanya Papih.


"kabar baik om." jawab mereke bertiga kompak.


"syukurlah ... fira, papih sangat khawatir sama kamu, papih kepikiran kamu terus, papih juga selalu mendoakan kamu, supaya kamu operasinya lancar, dan doa papih terkabul. kamu sudah sehat kan sayang,?" tanya Papih.


Terlihat diwajahnya Papih begitu sendu dan sembab.


"fira sudah merasa lebih baik kok pih, ini juga berkat doa Papih, Mamih, dan juga sahabat-sahabat ku."


"syukurlah sayang. papih nggak tau harus berbuat apa, karena papih masih bekerja disini," ucap Papih.


"Papih jangan khawatir lagi, Fira udah melewati masa kritis kok. oh ya, Papih sendiri gimana disana?" tanya ku.


"papih baik-baik saja, malah papih terlalu sehat. lihat perut papih, semakin berisi kan." ucap Papih sambil menunjukan perutnya yang menonjol keluar.


"hahaha ... itu buncit pih."


Lalu mereka juga tertawa. tiba-tiba suster masuk dan membawa sebucket bunga.


"dari siapa suster?" tanyaku.


"dia tidak memperbolehkan saya untuk memberitahu kamu." jawab Suster.


Aku pikir dari Papih ternyata bukan.


"ya sudah, suster sini bunganya. terima kasih ya." kata Mamih.


Lalu suster memberikan bunga itu pada Mamih dan Mamih meletakkannya diatas meja. Mamih sengaja memesan kamar VIP, agar leluasa dan nyaman. ada dua sofa yang cukup besar, juga lemari dan dua meja. kamar mandi didalam. jadi seperti kamar dirumah sendiri.


"itu bukan dari papih. papih akan kirim bunga yang lebih besar dari itu." kata Papih.


Mamih hanya tersenyum saja. lalu kuberikan Hpnya kepada Mamih supaya Mamih bisa berbicara pada Papih.

__ADS_1


__ADS_2