BLACKMAN

BLACKMAN
8. RUMAH SAKIT


__ADS_3

Hari sudah sore, matahari hendak menenggelamkan sinarnya dibalik ujung lautan yang luas. warna jingga terpantul jelas di antara awan-awan. desiran ombak menggulung lautan sore itu.


Aldi masih duduk dipesisir pantai sambil menikmati keindahan sunset di lautan itu. wajahnya kusam, matanya berbinar-binar, bibirnya terkatup, dan rambutnya melambai-lambai karena tertiup angin yang sepoi-sepoi.


keindahan yang terpancar jelas dibola matanya, seakan membuatnya terpana dan melupakan sejenak masalah dalam hidupnya.


dilihatnya jam pada layar ponselnya, dia pun lalu berdiri dan mengambil tasnya lalu berjalan menjauhi lautan itu. dia bergegas pergi menuju tempat yang biasanya dia tuju, rumah sakit.


###


pukul 17.15 WIB aku baru saja selesai mandi air hangat. karena aku masih sedikit pusing. lalu mamih masuk ke kamarku membawakan teh hangat.


aku hanya tersenyum tanda terima kasih ku pada mamih karena telah membuatkanku teh dan makanan kesukaanku.


mamihpun keluar kamar, lalu aku minum teh yang masih hangat itu dan mencomot makanan disampingnya.


" kenapa rey belum mengabariku seharian ini ya?" kataku lirih.


ku tatap layar ponsel ku berharap ada notifikasi dari Rey, tapi ternyata nihil.


lalu kuhabiskan makananku dan aku ke dapur untuk meletakkan piring kotornya dan gelas tadi. dan aku kembali kekamarku, mengambil buku novel dan ku baca sambil rebahan.


setelah beberapa menit kemudian aku agak sedikit pening, lalu aku duduk dekat jendela.


ketika aku melihat kaca di jendelaku, ada bayangan diriku dan darah di hidungku.


kemudian aku mengelapnya dengan telunjuk jariku dan benar ternyata ada darah yang keluar dari hidungku. ku lap dengan tissue, tapi darah itu terus mengalir.


lalu kupanggil mamih, ketika mamih melihatku seperti itu mamih langsung terkejut dan panik.


" ya Allah, fira kok kamu bisa mimisan seperti ini. yuk kita ke rumah sakit aja." ucap mamih.


aku hanya mengangguk-ngangguk saja. kitapun bergegas menuju rumah sakit. sesampainya dirumah sakit, akupun diperiksa. setelah diperiksa aku menunggu diluar dan hanya ibuku yang boleh keruangan dokter.


ketika aku sedang menunggu di ruang tunggu, aku melihat sosok yang tidak asing dari kejauhan. nampaknya masih memakai seragam yang sama dengan seragam sekolah Fira.


" hm . . . bukanya itu . . ." kataku terputus-putus.


aku menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas lagi apa yang aku lihat.

__ADS_1


" itu kan aldi?!" kataku lirih.


" kok dia disini? ngapain? dan dia ke ruangan rawat? emangya siapa yang sakit?" ucapku dalam hati.


aku penasaran, lalu aku melihat ke pintu ruangan dokter untuk memastikan kalau mamih masih belum keluar. akupun berpikir untuk pura-pura berjalan-jalan. padahal tujuanku ingin mengintip dari jendela ruangan yang dimasuki Aldi tadi.


akhirnya sampailah aku didepan pintu ruangan itu, aku mencoba mengintipnya dari jendela pintu yang lumayan sempit. aku melihat ada seseorang yang berbaring dengan tenang. dan ada banyak sekali bunga-bunga di atas mejanya.


" detak jantungnya lemah?" ucapku lirih setelah melihat layar Defibrillator.


karena aku terlalu fokus dengan rasa penasaranku, tanpa sadar pintu itu terbuka. dan Aldi melihatku ! aku langsung terkejut dan berdiri kaku sambil menganga karena benar-benar diluar dugaan.


Aldi juga terkejut dan dia memandangiku kebingungan. dahinya mengerut dan matanya sedikit melotot.


Aku masih berdiam diri dan rasanya kakiku tidak bisa melangkah. aku sudah tertangkap basah. jadi apa boleh buat.


" eh, aldi . . . hai. 😁" ucapku.


" ngapain kamu disini?" kata Aldi.


aku kebingungan, sumpah aku tidak tau mau ngasih alasan apa ke Aldi. aku malu tapi aku tidak mau kabur.


Aldi hanya memandangiku dan beberapa saat kemudian dia menutup pintu itu dan pergi begitu saja. tentu saja dengan wajah yang tiba-tiba berubah jadi jutek.


" eh aku sebenarnya juga mau bilang terima kasih, karena kemarin kamu udah mau membawaku ke ruang uks. makasih ya." kataku yang langsung menyusul Aldi.


Aldi tetap berjalan begitu saja, aku masih mengikutinya tanpa tau mau bicara apa lagi.


tiba-tiba Aldi berhenti, dan aku menabrak punggung nya. aku terkejut.


" aduh, eh . . maaf." kataku.


" apa ngomong makasih harus sampai mengikutiku begini?" katanya.


" em . . kamu kan belum membalas perkataanku." jawabku.


" sama-sama." katanya lalu beranjak pergi begitu saja.


aku hanya diam dan memandanginya berjalan menjauh dari ku. sejujurnya aku bingung, kenapa ada orang yang sikapnya bisa sebegitu dinginnya. ah, sudahlah bukan urusanku lagi. lagipula aku tadi hanya alasan saja supaya dia tidak curiga.

__ADS_1


Dan akupun kembali ke ruangan tunggu, kebetulan mamih baru saja keluar dari ruangan dokter.


kamipun lalu pulang kerumah. aku tidak penasaran dengan hasil diagnosis pemeriksaanku, tapi aku malah penasaran dengan seseorang yang Aldi jenguk tadi.


sesampainya di rumah aku langsung istirahat. sambil membuka ponselku akhirnya ada chat dari seseorang yang ku tunggu. iya, tentu saja Rey.


lalu aku langsung menelfonnya.


" hallo rey, . . " kataku membuka percakapan.


" iya hallo sayang," jawabnya.


" kemana aja kamu?" tanya ku sedikit kesal.


" aku . . tadi . . ada acara mendadak, jadi aku nggak sempat ngabari kamu. maaf ya."


" acara? acara apa?" tanya ku penasaran.


" em . . acara . . acara futsal. tiba-tiba disuruh kumpul dan bahas perlombaan untuk bulan depan."


Aku hanya diam dan mencoba menerima penjelasan dari Rey.


" ya sudah, aku tutup ya telfonnya. aku mau tidur dulu, good night." kataku sembari mematikan panggilannya.


padahal belum sempat di jawab oleh Rey. tapi aku sudah harus istirahat. sebenarnya aku masih belum percaya dengan penjelasan dia tadi, tapi segera ku tepiskan pikiran-pikiran itu. dan aku pun terlelap dalam tidurku.


malam semakin larut, kesunyian kini menyelimuti dunia dan seisinya. sesekali angin mengetuk jendela kamar. Namun semua sudah tidk mendengar suara dari luar lagi, karena sedang beralih ke dunia mimpi.


krik! krik! krik!


Suara jangkri menemani malam itu. remang-remang sinar rembulan yang juga sedikit menyoroti kamarku.


8 jam kemudian, Pagi pun tiba.


Matahari mulai menyapa seisi bumi, memberikan cahaya kehidupannya untuk dinikmati. aku mulai membuka mataku dan kulihat jam dinding, masih pukul 05.30. tapi aku segera menuju ke kamar mandi karena perutku mulas.


setelah selesai semua persiapan, akupun berangkat sekolah diantar mamih. dulu sebenarnya aku punya supir pribadi, tapi sudah lama berhenti sejak papih pergi ke London.


jadi dirumah hanya ada aku mamih, dan satu pembantu setiaku namanya Bu Murti.

__ADS_1


Seharian itu aku melakukan aktivitas seperti biasa, untung saja tidak terjadi apa-apa padaku dan semuanya berjalan normal seperti biasanya.


__ADS_2