
Aku mulai penasaran dengan apa yang terjadi pada dirinya. akupun berinisiatif untuk menanyakanya pada mamihnya.
"mih, sebenarnya aku kenapa? aku sakit apa?" tanyaku pada mamih malam itu setelah pulang dari rumah sakit.
Tapi mamih hanya menantapku tanpa menjawab pertanyaanku.
"apa ... aku sakit serius? apa berbahaya?" tanyaku.
sejujurnya aku sendiri takut mendengarnya, tapi aku harus tau agar aku setidaknya lega.
"hm ... kamu hanya ada infeksi didalam hidung kamu, jadi kamu sering mimisan. makanya jangan suka kecapean atau berada dilingkungan yang udaranya kotor atau berdebu, nanti infeksi kamu makin parah." jawab mamih.
"hm, infeksi? tapi aku nggak ngerasain sakit mih?" ucapku lagi.
"jangan sampai kamu sakit lagi yah. sudah, ini sudah malam, lebih baik kamu istirahat. kalau besok kamu mimisan lagi, lebih baik ijin nggak berangkat sekolah dulu ya." kata mamih sambil mengusap-usap rambutku.
Aku menatap mamih, seperti ada kekhawatiran yang disembunyikan mamih. tapi aku segera menepiskan prasangka itu karena aku sangat mengantuk. lalu Mamih menyelimuti ku dengan selimut, dan mengecup keningku. itu membuatku semakin nyaman dan ingin cepat-cepat besok.
Mamihpun keluar kamarku, dan lalu menutup pintu kamarku dengan perlahan.
###
pukul 06.45 Gista sudah berada di sekolahan. tapi dia seperti sedang sibuk kesana-kemari.
"gista, kamu ngapain mondar-mandir?" tanya Lisa.
"aku kehilangan gelangku, itu gelang pemberian dari seseorang." jawab gista.
"hm, emangnya terakhir kamu lihat pas kamu lagi dimana?" tanya Monik.
"aku ... lupa. duh, gimana ya?" jawab Gista.
"hm ... mungkin, saat itu tersangkut terus terjatuh gelangnya. jadi kamu nggak kerasa deh." kata Lisa.
"hm ... mungkin. nanti istirahat bantuin aku nyari di halaman depan kelas ya? mau nggak kalian?" ucap Gista.
"oke. tapi sekarang kembali ke tempat dudukmu dulu. bentar lagi masuk." kata Monik.
"iya iya." jawab Gista.
Hingga 4 jam kemudian, pelajaran berlangsung dengan sangat lama sekali, bagi Gista. karena dia tidak fokus sama apa yang dijelaskan guru. dia hanya memikirkan gelangnya itu, padahal dia sendiripun tidak tahu itu gelang pemberian dari siapa. tapi sepertinya, Gista begitu kehilangan gelang itu. dia merasa gelang itu sangat berharga.
TRIING TRIING TRIING !!!!
Hingga bunyi bel istirahat berbunyi. Gista langsung berlalri ke depan kelas.
"ayok, lisa monik bantuin cari gelangnya!" ucap Gista.
"iya gista, santai aja." jawab Lisa.
lalu merekapun mencari disetiap sudut kelas, didalam dan diluar, di setiap pot bunga yang terpasang diluar kelas. Gista sangat semangat mencarinya. tapi tidak ditemukan gelang itu. akhirnya mereka bertiga berpindah tempat mencari di lapangan sekolah yang dekat dengan kelas mereka. sambil mengobrol-ngobrol, Gista menyela-nyela setuap rumput-rumput hijau di lapangan itu sampai dia tidak melihat jalan dibelakangnya lagi. dia menabrak seseorang.
"eh, aduh ... maaf kak, gak sengaja." ucap Gista spontan.
"aduh ... hm iya nggak apa-apa. eh ... kamu?" jawab seseorang yang ditabrak Gista itu.
"eh, kak fira? hehe, maaf ya kak." ucap Gista.
"hm, iya nggak apa-apa kok. kamu ngapain disini? panas lho."
__ADS_1
Aisyah,Hana dan Stefi sedang menunggu ku.
"ini kak, lagi nyari gelang." jawab Gista.
"fira! ayok cepetan!" teriak Hana.
"eh, ... ya udah gista, aku duluan ya, bye!" ucapku yang segera bergegas menyusul teman-temanku.
###
Aldi sedang duduk didepan kelas, dia seperti melihat seseorang dari kejauhan.
"itu gista?kenapa dia bisa ngobrol sama fira? apa mereka saling mengenal?" ucap Aldi dalam hati.
tiba-tiba dia teringat lagi kejadian kemarin sore dan membuat telinganya memerah dan badannya memanas.
"kenapa sih? tubuhku memanas ketika terbayang kejadian itu. ahk!" gerutunya dalam hati.
lalu dia segera memasang earphonenya dan mendengarkan musik kesukaannya. tiba-tiba temannya menghampirinya dan mengajaknya ke kantin. merekapun akhirnya pergi bersama.
Aktivitas di sekolah hari itu berjalan seperti biasa.
pukul 14.20 WIB, saatnya pulang.
Aldi pulang bareng Gista lagi, naik mitor boncengan. kalau orang yang tidak tau mereka kakak beradik pasti mengira mereka ini pacaran. hahah, padahal enggak seperti itu.
lagi-lagi Rey melihatnya, entah dia memang sengaja menunggu Aldi dan Gista keluar duluan atau itu hanya kebetulan. Aku selalu memperhatikan Rey, matanya terlihat fokus memandangi Aldi dan Gista.
"kenapa rey terlalu fokus ke mereka? sebenarnya apa yang dipermasalahkan rey dengan aldi?" batinku berkata.
"ini kedua kalinya aku melihat aldi boncengan sama cewek. dan rey ... aku tidak mengerti, sebenarnya apa masalah dia? kenapa dia nggak pernah cerita masalahnya dengan aldi kepadaku?! apa yang dia sembunyikan." ucapku panjang lebar dalam hati.
TRIRIING TRIRUING TRIRIING ...
Bunyi dering telepon. aku melihat dari layar ponsel ku ternyata tante Diana yang menelepon.
"hm tante?" gerutuku.
langsung aku mengangkat panggilannya.
"hai tante! ... " sapaku melalui layar ponsel.
ternyata Tante Diana memanggil via video call.
"hai, ponakan ku yang cantik ... lagi pulang sekolah ya?" balas tante.
"iya tante, nih sama rey." jawabku.
akupun menunjukan keberadaan rey yang sedang menyetir. Rey tersenyum dan menyapa tante.
"oohh iya, hai rey ... ya sudah tante tunggu dirumah ya sayang." kata Tante Diana.
"emangnya kenapa tante?" tanyaku lagi.
"tante mau menginap dirumah kamu. karena om tomy mau keluar kota beberapa hari. jadi tante nggak mau sendirian dirumah." jelas Tante Diana.
"oh begitu yah, waahh asyik nih tidur bareng tante. yeay !!" jawabku spontan karrna saking senangnya.
"hehe, udah nggak sabar pingin mabar kamu lagi."kata tante.
__ADS_1
"iya tante."
"ya sudah, tante tungguin dirumah yah, byee!" kata Tante Diana menutup obrolannya.
"oke tante, byee!" jawab ku sembali memberikan kiss bye.
lalu kututup teleponnya.
"rey, maaf ya sepertinya hari ini nggak bisa temenin kamu makan siang." kataku.
"hm ... kenapa?" tanya Rey.
"kamu dengar kan tadi, katanya tanteku mau nginep dirumah aku. sekarang dia sudah nungguin aku dirumah." jawabku.
"hm iya deh. nggak apa-apa kok. berarti sekarang aku langsung nganterin kamu pulang kerumah?" tanya Rey.
"iya." jawabku.
aku melihat wajah Rey yang sedikit cuek. dia bahkan tidak menatap kearahku. aku kesal, bete ! ada apa sih sebenarnya dengan Rey ?! susah ditebak.
###
Hari berganti sore, sore berganti malam. suasana senyapnya sang senja kiniulai lenyap. rumah-rumah mulai menyalakan lampu-lampunya agar tidak gelap. sebab, gelap membuat pandangan tak terlihat jelas dan sulit menebak apa yang didepannya.
Gista masih murung karena gelangnya hilang. Aldi memperhatikannya sejak makan malam bersama tadi.
"gelang itu jatuh dimana ya? aku sama sekali tidak ingat ..." gerutu Gista.
kamarnya sedikit berantakan karena dia mencarinya disela-sela meja, kasut, lemari, dan rak buku.
Tok tok tok !
suara ketukan pintu.
"iya." jawab Gista.
masuklah Aldi kekamar adiknya itu.
"nyari apa?" tanya Aldi.
"gelang kak, kakak liat nggak?" tanya Gista.
"kalau kakak liat, udah langsung ku kasih." jawab Aldi.
"kan barangkali. ya udah, bantuin cari lah!" kata Gista.
"lagian, cuma gelang gitu doang dicariin. banyak tuh dipasar yang bagus-bagus. nanti kakak beliin 2 lusin buat kamu." kata Aldi.
Gista melototi Aldi lalu menghampurinya dan menendang kakinya.
"enak aja! sembarangan kalo ngomong. itu gelang ... bagus modelnya. walaupun murahan tapi ... aku suka!" teriak Gista marah.
"iya iya! biasa aja kali nggak usah ngegas." kata Aldi.
"udah sana keluar! nggak ngebantuin tau nggak! yang ada malah bikin tambah kesel" kata Gista.
"hey hey ... santai aja, udah dulu nyarinya, lagian udah malem gini waktunya istirahat. nih kakak bawa kaset bagus. cocok banget genrenya sama kamu. yuk nonton?!" kata Aldi.
Gistapun penasaran kaset seperti apa yang Aldi bawa. lalu Gistapun mengiyakan ajakan kakaknya itu. dan merekapun nonton film berdua. tapi pintu kamarnya masih kebuka kok, nggak ditutup. jadi jangan berpikiran macam-macam, harap jadi pembaca yang bijaksana.
__ADS_1