BLACKMAN

BLACKMAN
34. WEEKEND


__ADS_3

Akhirnya, weekend telah tiba. hari libur adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang. karena hari itu adalah hari dimana kita bisa rebahan tanpa merasa lelah atau pusing dengan aktivitas sehari-harinya.


Akupun begitu, tapi aku sudah ada janji dengan Aldi. kita akan bahas dan mengerjakan tugasnya hari ini, serta kita akan mensurvei beberapa tempat juga. jadi mungkin butuh waktu satu hari penuh, atau 12 jam kurang lebih.


"aku sudah memikirkan topik artikel yang akan kita buat, kita akan mensurvei beberapa anak yatim piatu yang terlantar. so, tempat yang tepat untuk kita survei adalah pertama panti asuhan, kedua tempat-tempat gelandangan, dan ketiga markas." kata Aldi menjelaskan.


Jujur aku terkejut ketika Aldi menjelaskan materi dengan detail dan lancar.


Aku dan Aldi sedang duduk disebuah taman kecil kota itu.


"markas?" tanya ku.


"iya, markas anak-anak gelandangan, pengemis, pengamen cilik." jawab Aldi.


"dimana?" tanya ku lagi.


"aku sudah punya semua data dan alamat markas disekitar sini." jawab Aldi.


"okey, jadi tugasku apa?" tanya ku lagi.


"tugas kamu nanti, memotret proses kita mensurvei, mewawancarai mereka, intinya kamu kumpulkan potret-potret yang penting saja." jawab Aldi.


lalu aku mengangguk pertanda memahami penjelasan Aldi. lalu kita berduapun mulai beranjak melaksanakan rencana tadi.


"aldi jago juga ngomongnya." desisku dalam hati.


kita mulai berjalan menyusuri kampung-kampung kecil, gang-gang sempit, kawasan-kawasan kumuh. jujur itu membuatku agak sedikit risih dan tidak nyaman. tapi ini demi tugas dan nilai, jadi kutepiskan semua kekhawatiran itu. dan mencoba mengabaikan resiko yang akan terjadi. seperti misalnya, sepatuku yang kotor karena jalanan becek, bau-bau busuk karena dekat dengan tempat sampah. lalu akhirnya aku menggulung dan mengikat rambutku supaya tidak kotor kena debu yang kelihatan sekali beterbangan di gang-gang sempit nan kumuh itu. juga tak lupa memakai masker.


"tipe perempuan yang jarang bersosialisasi dengan masyarakat kecil." gumam Aldi dalam hati sambil melirik ke arah Fira.


saat itu aku hanya fokus berjalan dan melihat-lihat pemandangan, barangkali ada pemandangan yang bagus untuk di potret. aku membawa kamera miliku sendiri, sebenarnya Aldi juga membawa kameranya tapi aku memutuskan untuk memakai kameraku saja.


aku mulai memperhatikan setiap kegiatan yang Aldi lakukan, seperti menyapa anak-anak kecil, bersamalan, mewawancarai mereka, berfoto bersama mereka, aku juga ikut-ikutan berfoto dengan anak-anak panti asuhan, lalu mengunjungi tempat anak-anak gelandangan, pengamen, pengemis, ternyata ada banyak sekali markasnya.


Kurasa kaki ini sudah berjalan ribuan kilometer, tapi entah kenapa rasanya tidak terlalu lelah. malah yang ada aku menikmati semua prosesnya itu. sedikit merasa senang ketika mengobrol dengan masyarakat kecil, menyapa pedagang kaki lima, memberi makan kepada anak-anak gelandangan.


"aku ... terharu." ucapku.


aku memperhatikan anak-anak kecil itu yang sedang menyantap makanan yang kita beri dengan lahap dan dengan senyuman gembira.


Aldi melirik ke arahku.


"pasti baru pertama kali sosialisasi seperti ini?" kata Aldi.


"iya. mereka masih kecil tapi hidup mereka sudah susah, dan harus bekerja apa saja. aku yang selama ini tidak pernah melirik sedikitpun, sekarang jadi tau rasanya menjadi orang yang terabaikan. tidak ada masa depan." ucapku dengan sedikit meneteskan air mataku.


"hidup itu berputar. kadang diatas, kadang dibawah. dan kamu pasti akan merasakannya juga," ucap Aldi.


aku melihat ke arah Aldi.


"tidak semua orang hidup dengan sempurna. pasti ada kekurangannya." kata Aldi lagi.


aku sedikit tersentuh dengan ucapannya itu. akhirnya pikiranku mulai terbuka.


"nggak nyangka, orang yang kupikir bisu dan dingin seperti es batu, ternyata bisa bikin orang terharu." jawabku.


jujur aku merasa lega, dan aku ingin sekali menangis karena akhirnya ada seseorang yang bisa berbicara seperti itu. itu seakan-akan menamparku keras-keras, agar aku tidak sombong dan mulai peduli dengan hal-hal kecil yang akan berguna bagi mereka yang membutuhkan.


"kenapa, kamu pikir aku seperti itu?" tanya Aldi.

__ADS_1


kita sedang duduk dan makan siang bersama anak-anak kecil. tentu saja aku sudah mulai terbiasa dan merasa nyaman.


"karena kamu selalu diam dan wajahmu, cuek banget. datar ... tanpa ekspresi. semua orang menjulukimu si dingin, es batu."


lalu aku lihat ekpresi wajah Aldi yang terkejut dan melotot seperti bola mata yang akan lepas.


"serius?" tanya Aldi dengan wajah masih seperti tadi.


"hahaha." aku tertawa.


"kenapa ketawa?" tanya Aldi.


aku tertawa lepas, entah rasanya lucu sekali melihat ekspresi pertama Aldi yang terkejut dan melotot itu. sangat lucu dan humor. perutku sampai sakit karena tertawa.


"hey, apa yang lucu?" tanya Aldi.


aku masih tertawa dan tidak menghiraukan pertanyaan Aldi.


Aldi hanya melihatku tertawa.


"hem ... tertawalah sepuasmu." ucap Aldi dalam hatinya.


lalu Aldi memalingkan wajahnya dan tersenyum kecil.


"duh ... sorry di, sorry. duh, perutku sakit. kamu itu lucu, wajahmu tadi melotot gitu, aku geli ngeliatnya." kata ku.


Aku berusaha menenangkan diriku dan mengatur pernafasannya.


"cie-cie." kata anak-anak kecil gelandangan itu secara bersamaan.


aku dan Aldi terkejut.


"hm ... enggak!" jawaklbku dan Aldi secara bersamaan.


laku Aku dan Aldi saling menatap.


"cie-cie ... jawabnya kompak banget." kata anak kecil itu.


aku hanya diam saja.


"hey kau, anak kecil diam ya." sentak Aldi dengan tegas.


"iya kak, becanda doang. jangan baper dong." kata anak gelandangan yang sedikit besar badannya.


"baper apanya?" tanya Aldi.


"hehe.. " jawab anak kecil itu.


Setelah selesai makan siang, kamipun berpamitan dan lalu melanjutkan surveinya ke tempat yang berbeda.


rasanya aku tidak ingin berpisah dengan anak-anak gelandangan itu lagi. itu membuatku sedih.


"kenapa?" tanyab Aldi yang melihatku murung seketika.


tiba-tiba aku meneteskan air mataku. benar-benar tanpa ku sadari.


"kenapa kamu nangis?" tanya Aldi panik.


"enggak ... " jawabku lirih.

__ADS_1


"aldi ... apa nanti aku bisa kesini lagi?" tanyaku.


Aldi tiba-tiba terdiam dan memalingkan wajahnya, lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangan kirinya, dan dia tersenyum.


"bisa." jawab Aldi.


lalu aku langsung tersenyum dan aku langsung memeluk Aldi.


"terimakasih aldi ! terimakasih !" kataku.


aku sangat senang mendengar kata 'bisa' itu. entah kenapa aku begitu bahagia. aku memeluk Aldi karena saking bahagianya.


Aldi terkejut karena dia baru pertama kali dipeluk oleh seorang perempuan.


"kenapa badanku mulai memanas." ucap Aldi dalam hati.


lalu aku tersadar, aku sudah memeluk orang lain selain keluargaku dan pacarku.


"ups ... maaf. aku minta maaf, karena aku kegirangan jadi aku nggak sadar. hehe, maaf ya di !" ucapku yang langsung melepaskan pelukannya.


saat itu aku sangat malu sekali, rasanya wajahku memerah. lalu aku memalingkan wajahku berlawanan arah dengan Aldi. aku tidak mau melihat wajahnya, karena merasa malu sekali.


"duh ... kenapa aku peluk dia sih!" gerutu ku dalam hati.


wajah Aldi memerah dan badannya memanas.


"sial ... badanku memanas. kenapa dia memelukku?" gumam Aldi dalam hatinya.


lalu kami berdua berjalan menuju markas terakhir dengan saling mendiamkan dan tanpa tatap muka. karena perasaanku malu sekali dengan Aldi.


Aldi berjalan mendahuluiku, karena dia yang tahu dimana markasnya. tidak jauh dari tempat markas anak-anak tadi, aku memperhatikan Aldi dari belakang.


"postur tubuh yang ideal, tinggi dan sedikit berotot." ucapku.


lalu aku mengambil kameraku dan langsung memotret Aldi yang sedang berjalan itu. aku sengaja melakukan itu, dan dengan sadar.


lalu aku melihat hasil jepretanku dan ternyata bagus sekali.


Aku memperhatikan setiap detail foto hasil jepretanku, dan aku melihat dibagian kaki Aldi.


"sepatu ini ... aku yakin, aku pernah melihatnya." lalu aku mulai berpikir.


karena sepatu yang kulihat itu, atau sepatu yang dipakai Aldi adalah sepatu yang dipakai oleh pahlawan kota itu. yaitu Blackman.


"ah ... ini kan sepatu yang dipakai si Blackman ketika berkelahi dengan pencuri depan minimarket waktu itu." gumamku.


"tapi ... sepatu yang seperti ini mungkin banyak dijual dan kemungkinan banyak yang pakai juga." kata ku lagi.


lalu aku segera mencari informasi di internet mengenai sepatu seperti itu. dan hasilnya cukup membuatku terkejut.


"OMG!! ini harganya mahal banget, 15 juta?? dan ini hanya ada 3 didunia." kata ku.


" ... sepatuku aja yang paling mahal harganya cuma 3 juta ... nggak mungkin !" kata ku.


Aku sangat terkejut. apa yang kupikirkan saat itu membuatku serasa seperti tidak punya akal lagi. apa yang ku lihat dari Aldi jauh sebelum hari ini sangat berbanding terbalik ketika ku hanya melihat dari harga sepatunya saja.


aku hampir tidak percyaa dengan apa yang kulihat daru Aldi hari ini. rasanya aku tidak pantas memeluk dia tadi. semakin malulah diriku ini kepada Aldi.


"tapi ... yang dijual KW pun banyak versinya. dan mirip juga. coba kulihat nanti." kataku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2