BLACKMAN

BLACKMAN
36. TAKDIR Part 1


__ADS_3

Sore harinya, seperti biasa Aku joging mengelilingi kampung sektiar saja. tapi kali ini berbeda, Aku ditemani Mamihku.


kini, kami berdua sedang berlari bersama seperti kakak dan adik. aku melirik kearah mamih yang sedang fokus melihat kedepan sambil mengatur pernafasannya.


"tumben banget mamih mau joging?" tanyaku.


"mamih juga ingin sehat dan sedikit langsing." jawab mamih.


"mamihkan sudah langsing." kataku.


aku melihat perut mamih yang ternyata kebalikannya dari apa yang aku ucapkan tadi. aku menelan saliva ku sendiri.


"kamu mengejek mamih ya?" tanya Mamih melirik ke arahku.


"enggak mih, ya ... baguslah kalau mamih mau joging, kan jadi sehat. iya kan?!" kata ku.


Lalu Mamih hanya menatap ke arahku dengan tatapan kecut dan seperti tidak terima dengan perkataanku tadi.


"mamih juga sekaligus menjagamu, kalau kamu tiba-tiba pingsan kan gawat." kata Mamih.


"hm ... apa-apaan itu, mamih mendoakan ku ya?" tanya ku kesal.


"enggaklah." jawab Mamih.


lalu didepan kami, terlihat seorang gadis dan laki-laki sedang berlari berdampingan. Aku dan Mamih mendahuluinya. tiba-tiba ada yang memanggilku.


"eh .. kak fira !" panggil seseorang.


Aku lalu berhenti dan menengok kebelakang. dan aku melihat Gista bersama Aldi. Aku sangat terkejut, aku hampir tidak percaya apa yang kulihat.


"loh gista? aldi?" kata ku.


"hm ... kak fira kenal kak aldi?" tanya Gista.


"kamu kenal dia?" tanya Aldi kepada adiknya.


lalu Gista kebingungan, akupun kebingungan dan Aldi juga kebingungan. apalagi Mamih, sudah pasti dia sangat kebingungan.


"fira ... siapa mereka?" tanya Mamih.


"ah ... dia Gista, dan yang satu lagi Aldi, dia teman sekelasku mih. "


"oh hai tante. saya gista," ucap Gista sembali bersalaman dengan Mamihku.


"oh, hai juga." balas Mamihku.


"lalu kamu siapa?" tanya Mamihku kepada Aldi.


"ah saya Aldi, teman sekelas Fira. salam kenal bu." jawab Aldi.


"gista, kamu kenal dia?" tanyaku pada Gista.


lalu Gista tersenyum.


"dia abangku, bang Aldi." jawab Gista.


"apa? ... jadi dia kakak mu ya!?! pantesan aja kemarin aku lihat dia boncengan sama cewek, aku kira siapanya dia, ternyata yang diboncengin kamu?" ucapku.


"betul kak." jawab Gista.


sementara Aldi hanya memandangi kita berdua yang sedang mengobrol.


lalu kami berempat melanjutkan jogingnya bersama.


"aldi ... kenapa kamu nggak bilang, kalau kamu punya adik." kata ku.


"kurasa tidak penting." jawab Aldi.


lalu aku melihat kearah Gista, kulihat wajah Gista yang cemberut dan kesal.


"dasar kakak durhaka!" ucap Gista.


"sstt. gista, kamu nggak boleh ngomong seperti itu sama kakakmu sendiri." kata Mamihku.


"hehe, biarin aja bu. kakak saya itu memang begitu orangnya, sekali ngomong langsung menghancurkan lubuk hati." jawab Gista.

__ADS_1


aku tersenyum melihat jawaban Gista, lalu aku tertawa karena perkataannya memang benar sekali.


"iya mih, aku juga setuju sama Gista. Aldi ini tipe orang yang dingin, kaya es batu. tapi sekalinya ngomong bikin semua orang terkejut." ucap ku sembari tertawa.


"hey ... kalian ini apa-apan sih, masa ngomongin orang didepan orangnya sih!" kata Aldi marah.


Mamih hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku kita bertiga.


"adiknya sendiri aja bilang gitu." timbalku lagi.


Gista hanya tersenyum saja.


"hey gista, kau ini adik macam apa sih? siapa yang durhaka aku atau kau? hah?" kata Aldi sambil mencubit pipi adiknya.


"aduh ... tuh liat bu, masa adiknya di cubit gini." kata Gista.


aku hanya tertawa melihat tingkah kakak adik itu. sungguh aku merasa menjadi bagian keluarga mereka berdua. rasanya mungkin akan lebih bahagia kalau aku mempunyai saudara juga. itulah pikiranku saat itu.


hingga sampailah kita didepan rumah Gista atau Aldi. Aku dan Mamih lalu mampir dulu ke rumah mereka. Dan tiba-tiba Bunda mereka keluar.


"Bunda!! ini ada tamu, mereka Fira dan mamihnya !" teriak Gista.


"oh iya, silahkan duduk dulu." kata Bunda.


"loh, anda bu Sonya kan?" tanya Mamih.


"iya, ah ... saya ingat, kamu pelanggan kateringku kan. bu Dira ?!" kata Bunda.


"iya. udah lama nggak ketemu, kamu kemana aja selama ini? sekarang pindah disini?" tanya Mamihku.


lalu Aku, Gista dan Aldi hanya saling memandang. sungguh kebetulan yang sangat mengejutkan. ternyata Mamih dan Bunda mereka juga saling mengenal. lalu kami akhirnya mengobrol-ngobrol sebentar. Aku dan Aldi sedang duduk diteras depan rumah, karena terasnya luas dan ada atapnya juga, disuguhi pemandangan taman air mancur diatas kolam ikan yang tidak terlalu besar. tapi itu membuatku sejuk memandangnya.


"nggak nyangka, ternyata kamu adalah kakak gista." ucapku.


"sejak kapan kamu kenal adikku?" tanya Aldi.


"sejak pertama kali ketemu, saat sedang joging juga." jawabku.


lalu Aldi mengangkat alisnya. tak lama kemudian Gista keluar membawakan kami minuman.


"gelang itu ..." gumam Gista dalam hatinya.


Hingga beberapa menit kemudian setelah Mamih selesai berbincang, akhirnya kami berdua pun pulang.


###


Keesokan harinya.


"gista, gimana? apa ada kabar mengenai keberadaan gelangmu?" tanya Lisa.


"aku tidak tahu pasti." jawab Gista.


"yang pasti dong!" kata Monik.


"kemarin, aku melihat kak fira memakai gelang yang sama dengan punyaku." kata Gista dengan wajah khawatir.


"kak fira?" tanya Lisa.


"iya, dia orang yang kemarin waktu kita lagi nyari gelang dihalaman depan sekolah dekat lapangan, terua aku menabrak dia? kalian ingat?" tanya Gista.


"oh iya aku ingat ! kakak yang cantik itu." kata Monik.


"iyah, aku dan dia ternyata tetanggaan, cuma beda gang saja. dan tadi sore aku joging terus ketemu dia, dan aku melihat dia memakai gelang yang persis dengan gelangku yang hilang." jelas Gista.


"mungkin saja itu punya kamu. dia menemukan gelang itu disuatu tempat." kata Lisa.


"iya, coba aja nanti sore kamu tanyakan langsung sama kak fira."


lalu Gista mengangguk.


dan Sore haripun tiba. Gista bersiap-siap untuk joging kali ini dia sendirian, karena Aldi sedang pergi ke rumahnya sendiri.


"aku harus menunggunya disini." gerutu Gista.


lalu tak lama kemudian, Gista melihat Fira dari kejauhan menuju ke arahnya. Gista langsung berpura-pura sedang mengikat tali sepatunya. dan Fira mendahuluinya.

__ADS_1


"kak Fira !" panggil Gista.


Aku menengok ke arah suara yang memanggilku.


"eh, gista ! kita ketemu lagi." jawabku.


"iya kak, eh ... sebenarnya ada yang ingin aku tanyain ke kakak?" ucap Gista.


"hm? tanya apa?" jawabku.


"eh, sebenarnya gelang yang kakak pakai itu sama persisi dengan gelangku yang hilang." kata Gista.


lalu aku melihat gelang yang ada ditangan kiriku.


"gelang ini ... oh iya kamu kan sedang mencari gelang yah? mungkin ini gelangmu?!"


"karena aku menemukan gelang ini, di depan minimarket seminggu yang lalu, mungkin." jawab ku.


"ah iya kak ! benar hari rabu minggu lalu aku ke minimarket untuk membeli barang keperluan sekolah ! pasti tersangkut dan terjatuh," kata Gista.


"hm ... ya udah ini ku kembalikan ke kamu. di jaga yah! jangan sampai hilang lagi." kata ku mengingatkan.


"serius kak? terima kasih kak." kata Gista.


Aku lalu melepaskan gelang itu dan memberikannya pada Gista.


"untung saja aku yang nemuin gelangmu, kalau orang lain yang nemuin, pasti sudah dijual lagi atau mungkin di buang. tapi rasanya nggak mungkin dibuang, karena gelang itu menurutku bentuknya indah, aku aja suka." ucapku.


"iya aku beruntung. terima kasih ya kak." ucap Gista.


"iya sama-sama." jawabku.


"sebenarnya kak ... gelang ini pemberian dari seseorang, saat aku koma selama 5 bulan, gelang ini tidak pernah lepas dari tanganku sampai aku sembuh." kata Gista.


mendengar itu aku langsung terkejut bukan main.


"hah? ... koma? 5 bulan?" tanyaku terkejut.


"iya ... sebelum aku kembali sekolah, aku mengalami kecelakaan dahsyat dan mengalami cidera lalu koma, selama 5 bulan aku tidak sadar sama sekali." kata Gista.


lagi-lagi mulutku menganga karena mendengar apa yang dikatakan Gista membuatku merinding membayangkannya.


"wah ... benarkah itu?" ucapku.


Gista mengangguk, lalu melanjutkan ceritanya.


"satu bulan, dua bulan, dia selalu menjenguku setiap hari selepas pulang sekolah, sampai akhir bulan keempat, lalu bulan ke lima dia mengakhiri hubungannya denganku dan dia ... tidak akda kabar lagi. sampai sekarang aku tidak tahu siapa dia, bagaimana orangnya? aku sama sekali tidak ingat." kata Gista.


"kamu tidak ingat wajahnya sama sekali?" tanyaku sekali lagi.


"iya kak. setelah siuman saja aku lupa siapa Bunda dan kakaku sendiri. aku tidak mengenali mereka, lalu lambat laun Dokter menjelaskan kepadaku dan aku berusaha menerima dan mempercayainya. karena aku tidak punya siapa-siapa lagi." kata Gista.


Aku sedikit iba mendengar cerita Gista.


"hm ... jahat sekali orang itu. siapa sih orang itu? dia anak sma? kuliah? atau sudah bekerja?" tanya ku sedikit emosi.


"kata teman-temanku, namanya Rey !" jawab Gista.


Dan Aku sangat terkejut mendengar jawab Gista itu. mataku terbelalak dan mulutku terbuka sehingga anginpun masuk ke mulutku. lalu aku tersedak debu dan terbatuk-batuk.


"uhuk uhuk ... uhuk ..." aku terbatuk-batuk.


lalu aku mengambil minuman di sakuku, dan meminumnya sebentar.


"dan katanya dia satu sekolahan denganku." kata Gista lagi.


Muncratlah air yang kuminum karena saking terkejutnya diriku ini.


"ups ... sorry, aku tersedak." kata ku.


aku mengelap mulutku dengan handuk kecil.


"iyah, lalu apa kamu sudah bertemu orangnya?" tanyaku.


Gista hanya menggeleng-geleng kepalanya. pertanda belum menemukan atau melihat orang itu.

__ADS_1


"tapi ... aku harus memastikannya sendiri ... karena yang namanya Rey itu pasti tidak satu saja." ucapku dalam hati.


Lalu aku dan Gista melanjutkan jogingnya sampai pulang.


__ADS_2