
Aku hanya tersemyum kecil saja dan sembari melanjutkan makan siang kita di lapangan sekolah.
Beberapa siswa melihatiku yang sedang duduk bersama dilapangan, bahkan ada yang menyoraki. tapi tidak ku perdulikan.
" rey?" ucapku.
" iya." jawab Rey.
angin tengah hari di tempat itu seraya menerbangkan helai-helai rambutku dan menutupi mataku. sesekali aku menyela rambutku ke belakang telinga.
" kenapa kamu berantem?" tanyaku mulai serius.
Rey menatapku cukup lama, lalu menghela nafasnya.
" itu hanya masalah kecil, masalah . . . cowok." jawab Rey sambil mengunyah rotinya.
Aku sudah menebak, Rey pasti akan menjawab seperti itu.
" aku tadi sempet dengar, kalau Aldi bilang 'jangan harap kamu ketemu dia lagi'. aku tidak tau siapa yang dia maksud." kata ku dengan sedikit rasa kecewa.
Rey kemudian menatapku lagi, kali ini cukup lama. aku tidak tau bagaimana ekpresi dia saat itu, karena aku hanya menundukkan kepalaku.
" fira, itu tidak seperti yang kamu kira. itu semua omong kosong! jangan dengarkan Aldi, tolong percaya padaku, fir !" kata Rey.
aku tidak tau lagi harus berkata apa lagi, disatu sisi aku penasaran tapi disatu sisi aku merasa sedih tiba-tiba. ternyata jawaban Rey tidak seperti yang kuharapkan.
lalu tiba-tiba pikiranku mengacau dan tidak bisa kukendalikan. mataku seketika berkaca-kaca. segera kusela air mataku sebelum terjatuh. lalu aku berdiri dan meninggalkan Rey.
" rey, aku mau ke kelas dulu." ucapku yang langsung pergi meninggalkan Rey begitu saja.
Rey memanggilku, tapi aku membiarkannya saja. aku pura-pura tidak mendengarnya.
Rey hanya terdiam terpaku di lapangan, dengan roti yang masih setengahnya.
* apa fira marah padaku?* ucap Rey dalam hatinya.
lalu Rey segera mengambil ponselnya dan memberi pesan ke Fira.
( hey, km marah? aku minta maaf. pulang sekolah ikut denganku ya? kita pergi ke suatu tempat.)
Begitu isi pesan Rey. aku membacanya setelah duduk dibangku dalam kelas. Hana, Aisyah, dan Stefi ternyata sudah menungguku sejak tadi.
" hey, udahan nih pacarannya?" tanya Stefi.
" hehe. udah kok. maaf ya aku pergi tanpa bilang kalian dulu." jawabku dengan riang.
" ya gapapa kali, santai aja." kata Stefi.
__ADS_1
" gapapa kok fir. kita ngertiin kamu kok, hehe." kata Hana.
" Aisyah belum balik ya?" tanyaku mengalih perhatian.
" belum. oh ya fir, tadi rey kenapa?" tanya Hana.
" hm? . . oh rey, itu masalah cowok. hehe biasalah." jawabku singkat.
aku langsung membuka instagram dan melihat video tik-tok yang lagi viral, supaya mengalihkan topik pembicaraan.
lalu Aisyah pun balik ke kelas, karena dia baru selesai shalat Dhuhur.
lalu tak lama kemudian, guru pun datang.
perasaanku masih sedih, aku tidak tau betul apa yang sedang terjadi? kenapa aku harus marah seperti ini? aku mulai pusing, dan kepalaku rasanya berputar-putar.
Hingga, bel pulang pun berdering. aku memakai jaketku, lalu aku berpamitan pada ketiga sahabatku dan aku menunggu Rey depan gerbang sekolahan, ternyata Rey sudah menungguku. lalu aku pun memboncengnya dibelakang. entah kemana dia akan membawaku.
Selama diperjalanan, aku hanya diam saja. sambil memeluk Rey, sesekali Rey menggenggam tanganku yang sedang memeluknya.
Hingga sampailah pada tempat tujuan. ternyata itu taman kota. hari itu sudah sore, tetapi pengunjung semakin banyak. Rey mengajaku menaiki tangga untuk menuju taman di atas. diatas itu agak sepi karena tempatnya sempit. jadi saat itu, entah kebetulan sekali atau Rey sengaja memesan tempat itu hanya ada aku dan Rey.
" fira, apa kamu marah padaku?" tanya Rey.
" nggak, aku nggak marah. tapi aku sedih karena kamu tidak mau jujur sama aku." ucapku sembari menatap awan sore.
" oke, aku maafin. tapi bisa kamu jawab? yang dimaksud aldi itu siapa?" tanyaku mulai meluap emosiku.
" dia mengucap seperti itu, karena dia tidak terpilih jadi pemain inti di lomba futsal nanti. "
" kamu bohong." kataku.
air mataku tidak bisa kutahan lagi. aku langsung memalingkan wajahku, karena aku tidak mau Rey melihatku menangis.
Lalu tiba-tiba Rey membalikkan wajahku dan dia langsung mengecup keningku, aku terkejut. dan tiba-tiba pula dia mencium bibirku dengan lembut, dan penuh perasaan. aku semakin terkejut. jantungku berdebar dengan sangat kencang. aku merasakan kehangatan di bibirnya yang tidak bisa kuhindari. secara perlahan aku merasakan rileks dan tubuhku melemah. entah aku jadi merasa setenang itu.
aku tidak bisa berkutik lagi, Rey masih menciumku dan matanya terpejam. lalu akupun akhirnya ikut memejamkan mataku. kurasakan kelembutan bibirnya yang menyatu dengan bibirku.
tiba-tiba, tak lama kemudian sesuatu menetes dihidungku. kupikir air hujan, dan kulihat ada noda darah di bibir Rey. aku merasa bukan Rey, tapi itu darah dari hidungku.
" fira, kamu mimisan." kata Rey yang terkejut.
dia lalu langsung mengambil kain didalam tasnya.
" rey, kepalaku pus...sing." kataku.
badanku sudah sempoyongan, apa mungkin aku kecapekam atau masuk agiin. atau ada iritasi dihidungku.
__ADS_1
aku tidak kuat lagi menahan beban tubuhku, kakiku rasanya lemas. tanpa sengaja aku terduduk dengan pelan-pelan. Rey langsung mengelap darah dihidungku sambil menahan badanku agar tidak jatuh.
" fira, bertahanlah. fira kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Rey yang sangat khawatir padaku.
aku merasakan pusing hebat dikepalaku, tapi masih bisa mengontrol pandanganku, aku juga masih mendengar apa yang Rey katakan.
" aku bawa kerumah sakit ya?" kata Rey.
" nggak mau." jawabku lemas.
" tapi kamu sakit sayang." kata Rey yang semakin cemas.
" kita pulang aja rey." pintaku.
" oke, kita pulang aja." kata Rey.
setelah itu, entah apa yang terjadi. aku sudah tidak sadarkan diri lagi.
setelah beberapa menit kemudian.
" halo tante, fira sakit. sekarang dia dirumah sakit." kata Rey yang sedang menelfon mamihku.
setelah mengabari mamih, teleponnya pun ditutup. Rey duduk dengan mengepalkan kedua tangganya di jidat.
###
Gista sedang makan malam, tentu saja bersama Bunda dan Aldi.
" hmm, masakan bunda enak banget." ucap Gista.
Bunda hanya tersenyum dan melanjutkan makannya. sementara Aldi fokus makan sJa sambil menonton tv.
" besok masa lagi ya bun." ucap Gista lagi.
" tentu saja, nanti setelah kamu pulang dari rumah sakit, akan bunda masakan setiap hari." jawab Bunda.
" yey. hihi😁."
tiba-tiba Gista melihat sesuatu ditangannya.
*. . . gelang?* ucapnya dalam hati.
ternyata ada gelang ditangan sebelah kirinya. dia baru menyadari hal itu. lalu tiba-tiba ada sebuah ingatan sekilas muncul dan membuat Gista mengernyitkan keningnya.
*. . . aku mengingat sesuatu. .* ucap Gista lagi.
Gista merasakan pusing, dia lalu memijat kepalanya dengan perlahan-lahan.
__ADS_1
" ah, kenapa gista? kepalamu pusing?" Tanya Bunda yang melihatnya.