BLACKMAN

BLACKMAN
21. ES BATU


__ADS_3

Lalu dia segera menepiskan semua kebingungannya itu dan tertidur.


###


Rey sudah berada di rumah. dia sedang membersihkan badannya. shower sedang menyala dan mengguyurseluruh tubunhya. Akan tetapi tidak dengan wajahnya. wajahnya menunduk dan matanya merah.


" apa yang terjadi pada gista? apa dia pura-pura lupa padaku? atau dia memang tidak ingat denganku? *


begitu pikirannya mengatakan dalam hati. setelah selesai mandi, Rey pun memakai bajunya dan berkaca. tiba-tiba muncul dalam ingatannya kejadian yang baru saja dia alami.


* rasanya sakit? rasanya aku seperti orang asing saja. padahal aku masih . . . sayang padanya. *


ucapannya dalam hati. wajahnya sendu dan tersirat kebingungan.


" apa aldi yang membuat gista seperti itu? " ucapnya lirih.


" tunggu saja kau aldi ! "


Rey semakin membenci Aldi. entah apa yang akan dia lakukan padanya lagi.


esok hari kemudian, Rey berangkat sekolah seperti biasanya.


" halo, kenapa kamu nggak masuk fir? " kata Hana di telefon.


Stefi dan Aisyah juga sedang menunggu kabar dari Fira. Aldi yang duduk paling belakang sedikit mendengar ucapan mereka.


" apa rumah sakit? kamu sakit? " kata Hana lagi.


" hm, ya ampun fira. kita khawatir banget sama kamu."


" ya udah nanti sepulang sekolah, kita mau mbesukin kamu ya? "


" okey. bye, see you. " akhir kata Hana.


Telefon pun ditutup.


" astaghfirullah, si fira masuk rumah sakit?" tanya Aisyah penuh kekhawatiran.


Hana lalu mengagguk dengan wajah sedih.


" ya udah, nanti kita bawain buah-buahan sama roti buat fira. " kata Aisyah.


lalu Hana dan Stefi hanya mengangguk saja.


setelah seharian beraktivitas, pelajaran terkahirpun selesai. bel pulang pun sudah berbunyi. mereka bertiga segera keluar kelas dan membeli oleh-oleh untuk membesuk Fira. Stefi menyetir motor berboncengan dengan Hana, sementara Aisyah menyetir sendiri. hari itu Stefi nggak bawa mobil, karena sudah tidak diperbolehkan nyokapnya. juga karena masih terlalu muda untuk membawa mobil.

__ADS_1


setelah selesai membeli parcel buah dan roti, mereka segera menuju ke rumah sakit yang Fira tuju.


saat itu aku sedang terjaga sambil bermain ponselku. aku yang mengabari mereka dimana alamat rumah sakitnya. tak lama kemudian, merekapun akhirnya sampai. aku sangat senang sekali. kami saling berpelukan, dan lalu cipika-cipiki. bisasalah kalau temen-temen datang rasanya semua rasa pusingku hilang seketika. entah pengaruh apa yang mereka bawa terhadap kehidupanku. dan memang benar juga kata pepatah, ketika kamu banyak masalah, maka temuilah teman-temanmu karena kamu akan merasa senang dan beban hidup terasa hilang seketika. dan itu kurakasakan sekarang.


tidak jauh dari ruangan itu, ternyata ada Aldi yang sedang memperhatikan, atau entah mengikuti. dia berdiri sambil pura-pura main game.


" bukannya ini dekat dengan ruangan gista? . . . oh jadi apa mungkin yang kemarin dia temui itu . . aakh menyebalkan. " kata Aldi lirih.


dia lalu berbalik arah dan pergi.


" fir, kamu sakit apa? " tanya Aisyah.


" aku sakit, em. . vertigo. " jawab ku.


sebenarnya aku tidak tau aku sakit apa. karena mamih tidak bilang padaku. jadi kujawab asal saja.


" hem, kamu kebanyakan jalan sama rey, jadinya masuk angin berlebihan tuh. " kata Stefi.


lalu semua orang tertawa. si Stefi ini memang pintar mencairkan suasana. dia selalu mengubah suasana tegang, sedih, haru menjadi suasana yang lucu, ramai, dan pokoknya gitu lah. makanya aku beruntung banget punya sahabat kaya Stefi, Hana si tukang cerewet dan nyebelin, Aisyah yang sangat perhatian dan penyayang. komplit semuanya deh.


lalu kami mengobrol-ngobrol sampai sore, sekitar pukul 17.10 wib. dan mereka pun hendak pulang saja.


" fira kita pulang yah, bye. . . gws." kata Hana


" beb, kita pulang dulu ya, kamu makan yang banyak biar cepet ngumpul bareng kita lagi." kata Stefi.


" aamiin, makasih aisyah. thank you so much guys, i will miss you. byee..." kataku.


jujur cukup sedih ketika sahabat-sahabatku pulang. kamar jadi terasa sepi, hanya ada mamih. tapi Mamih tadi lagi beli sesuatu diluar. akupun berniat untuk menyusul mamih sekalian jalan-jalan sore supaya tidak jenuh dikamar sendirian. ketika aku membuka pintu kamarku, tiba-tiba ada seseorang yang sedang berdiri depan pintu kamarku.


lantas, aku sangat terkejut. karena yang berdiri itu ternyata,


" hah . . aldi? . ."


iyah, Aldi ! ini aku gak salah lihat kan? iya benar Aldi, dia berdiri didepan pintu dan dengan posisi seperti sedang mengintip.


" heh. . . kamu ngapain disini? kamu ngintip ya? " kataku sedikit emosi.


Aldi juga terkejut, mulutnya menganga dan hidungnya merah merona.


tapi, dia tidak menjawab perkataanku. dan dia malah pergi begitu saja.


" hey. . tunggu. ini benar aldi kan? " tanyaku masih bingung.


dia hanya meliriku dengan lirikan dingin.

__ADS_1


" haha . . kamu ngapain berdiri didepan pintu? kamu ngintip? " kataku.


" tidak. " jawabnya.


" terus ngapain? nggak ada orang asing yang berdiri depan pintu kamar seorang gadis, apalagi kamu cowok . . hah jangan-jangan . . oh tidak . . " ucapkuu terhenti karena pikiranku sudah tidak karuan.


aku melirik kearahnya, dia juga melirik ke arahku.


" hey, jangan ke geeran dulu. aku tadi liat mereka bertiga keluar dari kamar ini. terus aku penasaran, siapa yang sakit, ternyata kau. ini sebabnya kau tidak masuk hari ini?! " jawab Aldi.


" kenapa kau tiba-tiba peduli? biasanya kan . ." belum selesai aku bicara, dia memotong.


" hey sudah kubilang, jangan kegeeran dulu, aku juga tiap hari kesini, jagain adikku. " jawab Aldi lagi.


" ooh, jadi dia adikmu." kataku.


tiba-tiba aku teringat sesuatu.


" tunggu, boleh nggak aku menanyakan sesuatu padamu? " tanya ku.


" apa lagi?! " jawabnya judes.


" . . . apa hubunganmu sama rey? " tanyaku.


tatapab Aldi tiba-tiba berubah menjadi sinis dan tajam. wajahnya yang tadinya merah berubah menjadi dingin dan abu-abu. dan dia langsung pergi begitu saja.


" eh . . main pergi aja, dasar es batu. " ucapku.


aku heran, kenapa Aldi tiba-tiba berubah seperti itu ya?! aku benar-benar bingung. raut wajah dia dan semua yang terjadi tidak bisa ku tebak.


" kenapa wajah dia tiba-tiba berubah seperti itu ya? apa yang salah dengan ucapanku? " kata ku.


aku berjalan lagi dan ku temukan mamih sedang membeli makanan di kantin. akupun menghampiri dia yang sedang duduk sambil membaca kertas yang entah apa isinya.


" mamih, " sapaku pada mamih.


mamih langsung melipat kertas itu dan memasukkanan ke dalam tasnya.


" iya, kok kamu kesini sih? " jawab Mamih.


" mamih lama banget, aku sendirian, jadi bosen. "


" teman-teman kamu sudah pulang? "


" sudah mih, karena udah sore."

__ADS_1


kita lalu menuju kamarku.


__ADS_2