
Pagi harinya, Alula yang semalam begadang menunggu Zyandru, kini masih tertidur padahal hari sudah pagi.
Drrt Drrt
Getaran ponsel membangunkan Alula, wanita itu mengerjap melihat sekeliling kamar, Alula merasa ada yang berbeda.
"Loh gue di mana"
Alula langsung membangunkan dirinya, tak beberapa lama ia langsung bernapas lega, Alula lupa kemarin dirinya sudah melakukan akad pernikahan dan saat ini ia masih berada di hotel yang sama.
Alula beralih meraih ponselnya, melihat nama Zyandru dengan semangat Alula menjawab panggilan sang suami.
"Hallo"
^^^"Hallo Alula"^^^
"Kamu di mana?"
^^^"Di kantor"^^^
Alula yang sebelumnya sangat bersemangat tiba-tiba mencelos mendengar jawaban Zyandru, bukankah jam 6 masih terlalu pagi untuk ke kantor.
"Oh"
^^^"Maaf ya, di pertambangan ada sedikit masalah jadi aku baru bisa ngabarin kamu"^^^
"Apa masalah yang sama seperti kemarin?"
^^^"Iya, nanti kamu di jemput Ansell ya"^^^
"Ya udah"
Alula terdiam, bukankah ini adalah hari pertama mereka sebagai suami istri, namun mengapa Zyandru seolah lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan dirinya. Bukankah ada Ansell, apa fungsinya asisten jika tidak diandalkan.
Alula menggeleng dengan cepat, ia mencoba membuang pikiran buruknya.
Gak boleh berpikiran aneh, mungkin emang masalahnya itu besar jadi harus dia sendiri yang nanganin. Batin Alula meyakinkan dirinya.
Alula beralih menuju pintu ketika mendengar ketukan, seorang pelayan hotel membawakan sarapan dan juga pakaian.
...***...
Sekitar jam 8 pagi, Alula sudah rapi dengan memakai pakaian yang di siapkan pihak hotel.
Mendengar suara ketukan pintu, Alula segera membukanya, dugaannya benar, orang itu adalah Ansell.
Mereka berdua berjalan keluar dari hotel, Alula merasa sikap Ansell berbeda, bahkan Ansell membukakan pintu mobil untuk Alula, tidak seperti biasanya.
"Emm pak Ansell, ke rumah saya dulu ya, pakaian saya masih disana"
"Baik"
__ADS_1
Tidak ada percakapan lagi antara Alula dan Ansell selama perjalanan, Alula lebih memilih diam dan membawa matanya melihat lalu lintas.
Terkadang ia masih tak percaya bahwa sekarang sudah menjadi seorang istri, meski kadang keraguan hadir dalam hatinya, Alula selalu mencoba menepisnya.
Alula meringis merasakan pusing di kepalanya, wanita itu memejamkan matanya sambil memijit pelan pelipisnya.
Perbuatannya itu tak lepas dari pandangan Ansell, "kepala kamu sakit Alula?"
"Sedikit"
"Mau ke dokter dulu?"
"Gak usah lah cuma pusing biasa"
"Atau mau saya belikan obat?"
"Emm boleh deh"
Tak lama Ansell menepikan mobilnya, pria itu terlihat berjalan menuju apotek, tak beberapa lama Ansell kembali dan memberikan obat tersebut pada Alula.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, hingga beberapa waktu, mereka sampai di rumah Alula.
Saat ini Ansell tengah duduk di ruang tamu, sedangkan Alula berada di kamarnya sedang memasukkan beberapa pakaiannya ke koper.
Alula menatap sekeliling kamarnya, rasanya berat untuk meninggalkan rumah yang sudah ia tinggali selama 26 tahun lamanya, apalagi ini adalah rumah peninggalan orang tuanya.
Namun Alula tak ingin egois, biar bagaimanapun juga ia sudah menikah dan harus mengikuti kemanapun suaminya pergi.
Melihat Alula keluar dengan membawa koper, dengan sigap Ansell membantunya.
Saat akan masuk ke dalam mobil, lagi-lagi Alula memperhatikan rumahnya, wanita itu bahkan menangis sekarang.
"Maaf ya pak Ansell, saya jadi cengeng gini" ucap Alula sambil mengusap air matanya.
"Saya ngerti apa yang kamu rasakan, nanti kapan-kapan kamu bisa ajak tuan Zyandru menginap disini"
"Iya" Alula mengangguk.
Itupun kalau tuan mau. Lanjut Ansell dalam hatinya.
"Kita pergi sekarang aja, makin lama disini saya makin sedih" Alula memaksakan senyumnya.
Saat Ansell hendak membukakan pintu untuknya, Alula menolak dengan mengatakan ia bisa melakukannya sendiri. Namun Ansell berkata bahwa itu sudah menjadi tugasnya.
Beberapa menit di perjalanan, Ansell melirik ke belakang dan melihat Alula sedang memejamkan matanya, mungkin karena efek obat sakit kepala Alula jadi mengantuk.
Entah mengapa Ansell malah jadi merasa tak tega melihat Alula.
Ansell tahu Zyandru berbohong dengan mengatakan ada masalah di perusahaan, yang terjadi Sebenarnya adalah, semalam Zyandru tidur di rumah utamanya.
Zyandru memang memiliki rumah di tempat yang berbeda, beberapa hari sebelum menikah dengan Alula, Zyandru kembali membeli rumah baru untuk di tinggalinya bersama Alula.
__ADS_1
Sedangkan rumah utamanya, hanya Ansell yang mengetahui alamat rumah tersebut.
...***...
Setelah beberapa saat perjalanan, mereka sampai di sebuah tempat, Ansell langsung turun dan membuka gerbang rumah tersebut.
Perlahan Alula membuka matanya, wanita itu melihat sekeliling, tepat di hadapannya saat ini adalah rumah dengan konsep tropis modern.
Setelah mengantar Alula, Ansell langsung pergi.
Kalau dilihat-lihat rumah ini mungkin sama besarnya dengan rumah Alula, dan juga sama-sama berlantai dua.
Dengan halaman yang cukup luas, serta terdapat beberapa tanaman di sekeliling, rumah ini sangat cocok dengan Alula yang memang menyukai alam.
Hari masih sangat siang, kemungkinan Zyandru akan pulang sore atau malam, untuk mengisi waktu luangnya, Alula memilih bersih-bersih dan dilanjutkan memasak.
"Selesai juga, tinggal beresin pakaian aja deh"
Alula berjalan menuju lantai dua, ia masuk ke sebuah kamar yang ukurannya paling besar diantara tiga kamar lain.
Sebenarnya saat masuk ke rumah ini, Alula merasa heran, ia pikir Zyandru mempunyai ART karena keadaan Zyandru yang buta.
Apalagi ketika melihat pakaian Zyandru yang berjejer rapi di lemari, tidak mungkin Zyandru melakukannya sendiri.
Alula berencana akan menanyakan itu saat Zyandru pulang nanti.
...***...
Sementara itu di tempat lain, Zyandru sedang mendengarkan penjelasan Ansell mengenai Alula.
Hari sudah semakin sore, namun Zyandru seperti tak ada niat untuk pulang.
Seharusnya Zyandru mengambil cuti dua minggu kedepan seperti Alula, walaupun Zyandru adalah pemilik perusahaan ini, ia bisa saja meminta Ansell meng-handle semuanya.
Apalagi ia pengantin baru yang harusnya menghabiskan waktunya untuk berbulan madu seperti pasangan lain, namun Zyandru sama sekali tak menginginkannya.
Pukul 7 malam, Zyandru dan Ansell terlihat keluar dari perusahaan, tak langsung pulang, Zyandru meminta Ansell membawanya ke suatu tempat. Apalagi kalau bukan untuk melihat Princy.
Istrinya sedang menunggu di rumah, ia malah asik memandangi wanita lain, sangat jahat memang, namun Zyandru tak merasa bersalah sedikitpun.
Merasa puas dengan kegiatannya, Zyandru meminta Ansell mengantarnya pulang.
Sampai di rumah, Zyandru langsung disambut dengan senyuman hangat Alula.
Alula mengurus Zyandru dengan sangat baik, mulai dari menyiapkan makan, menyiapkan air, menyiapkan pakaian, bahkan membatu Zyandru berjalan.
Kini mereka sudah berbaring di tempat tidur, pertama kalinya satu kasur bahkan satu selimut dengan orang lain, Alula dan Zyandru sama-sama merasa canggung.
Alula sempat berpikir Zyandru akan meminta haknya sebagai suami, meski belum siap sepenuhnya, Alula akan melakukannya karena memang tugasnya.
Namun tidak, jangankan meminta, Zyandru bahkan tidur memunggunginya.
__ADS_1
Alula tetap berpikir positif, mungkin Zyandru sama seperti dirinya yang merasa belum siap.