Blind Husband

Blind Husband
Blind 8


__ADS_3

Setelah sekitar satu minggu berada di Indonesia, Devin sudah kembali ke Inggris. Alula sendiri yang mengantar sang adik satu-satunya sampai bandara.


Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu. tak terasa lima bulan sudah Alula menjadi sekertaris Zyandru.


Banyak sekali perubahan yang Alula rasakan mengenai atasannya itu.


Jika awal mengenal, Zyandru adalah pria yang cuek, galak dan dingin, berbeda dengan sekarang, Zyandru ternyata pria yang bisa diajak bercanda.


Meski terkadang Alula merasa lelah dengan pekerjaannya sebagai sekretaris, namun ia tetap mencintai pekerjaannya ini.


...***...


"Menikahlah denganku Alula"


Gubrak!


Alula rasanya ingin melompat dari gedung bertingkat 12 ini, bagaimana tidak, saat sedang mengantar berkas yang perlu ditandatangani, tiba-tiba saja Zyandru melamarnya.


Bukan, bukan melamar, Zyandru seperti memberikan perintah, pria yang sedang duduk di bangku kebesarannya itu nampak penuh percaya diri dengan omongannya.


Alula tersenyum canggung, ia mengira telinganya pasti salah dengar.


"Kalau sudah ditandatangani, saya permisi pak" Alula kembali mengambil berkas tersebut.


"Menikahlah denganku Alula"


Sekali lagi, Zyandru mengatakannya, pria itu berdiri dan berjalan sambil meraba-raba sekitarnya.


"Maksud pak Zyandru gimana?"


"Aku mau kita menikah" bahkan sekarang Zyandru menggunakan kata 'aku' tidak seperti biasanya.


"Hahaha" Alula mencoba tertawa renyah, wanita itu juga menggerakkan tubuhnya ke kanan ke kiri.


"Saya gak ngerti sumpah deh pak"


"Tangan kamu mana?"


Alula menjulurkan kedua tangannya, ia bahkan sampai lupa Zyandru itu buta.


"Mana Alula?"


"ini di depan bapak"


"Aku kan gak bisa lihat, pegang tangan aku"


Kini mereka berdua sama-sama menjulurkan tangan mereka.


Perlahan Alula memegang kedua lengan Zyandru, pria di depannya itu nampak mengambil sesuatu dari saku jasnya.


Kotak kecil berwarna merah itu Zyandru buka, Alula tercengang bahkan sampai membulatkan mulutnya.


Dengan pandangan lurus ke depan, Zyandru meraba tangan Alula dan memakaikan cincin itu ke jari manis tangan kiri Alula.


Cincin silver bermatakan berlian besar di tengahnya dan berlian kecil di sekelilingnya, nampak indah di tangan Alula.


Alula terpaku, entah mengapa tubuhnya seakan kau tak bisa bergerak, "pak-"

__ADS_1


Ucapan Alula terhenti karena Zyandru yang tiba-tiba berlutut di depannya, dengan tangan yang masih terus di genggam.


"Aku bukan pria romantis seperti pria di luar sana, aku juga sadar aku pria yang penuh kekurangan, namun aku sangat yakin dengan perasaanku ini. Dengan ini Zyandru Avior melamar Alula Zayana untuk menjadi pendamping hidupnya"


Alula terdiaam beberapa menit, matanya terus menatap Zyandru, dengan memberanikan diri, Alula melepaskan genggaman tangan Zyandru.


"Maaf Pak, saya gak bisa"


"Tapi kenapa Alula?,


"Saya... saya gak tahu pak, saya cuma gak bisa"


"Apa karena aku buta jadi kamu tidak mau menerima aku?"


"B—bukan seperti itu pak, saya juga bingung harus gimana jelasinnya"


"Jelaskan aja, aku siap mendengarkan" Zyandru tak ada niatan berdiri, ia tetap berlutut.


"Kita kan kenal baru beberapa bulan aja, bapak gak tau sifat asli saya, begitupun sebaliknya, saya memang nyaman sama bapak, tapi cuma sekedar sekertaris ke atasannya, gak lebih"


Zyandru menghela napasnya, "aku lupa, kamu kan sama Revaz saling mencintai"


Alula menggeleng dengan cepat, "gak gitu pak, saya gak pernah punya hubungan spesial dengan pak Revaz"


"Terus kenapa Alula?, aku tau aku gak sempurna, kita bisa sama-sama belajar ke depannya, aku cuma pingin punya pendamping hidup, dan aku yakin kamu itu orang yang tepat"


Alula kembali terdiam, "boleh kasih saya waktu buat pikirin ini semua pak?"


Zyandru tersenyum senang, "boleh, silakan kamu pikirkan, aku akan menunggu, cincinnya jangan di lepas ya Alula"


"T—tapi pak"


"Ya udah, mari saya bantu berdiri"


Alula menunduk, setelah mereka sama-sama berdiri, tak disangka Zyandru malah memeluk Alula dengan erat.


Baru beberapa saat Alula langsung melepaskan pelukannya, "maaf pak, saya izin kembali mengerjakan tugas saya"


"Silakan"


Tepat setelah Alula keluar dari ruangannya, Zyandru tersenyum sinis, "terimakasih Alula, sebentar lagi impianku tercapai"


...***...


Seorang wanita cantik terlihat sedang berdiri di balkon kamarnya, menatap indahnya langit malam, membiarkan angin menerpa kulitnya.


Jujur Alula sangat bingung harus bagaimana, helaan napas panjang keluar dari wanita itu.


Alula kembali masuk ke kamarnya, diambilnya sebuah foto keluarganya yang terpajang di atas nakas.


Foto yang diambil jauh sebelum kecelakaan pesawat merenggut nyawa kedua orang tuanya.


"Ayah bunda, kakak bingung, pak Zyandru ngelamar kakak, tolong kasih kakak petunjuk kakak harus apa"


Tanpa terasa air matanya luruh begitu saja, seketika rasa rindu menyeruak di dalam hati Alula.


"Harusnya ayah bunda masih disini, hiks, hiks kakak kangen, hiks"

__ADS_1


Kamar itu menjadi saksi bisu air mata yang sejak beberapa tahun Alula tak keluarkan kini ia tumpahkan begitu saja.


Cukup lama Alula menangis, wanita itu mencoba menetralkan perasaannya, ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan jam sepuluh malam.


Wanita itu meraih ponselnya dan memilih menelpon sang adik. jika di Indonesia sudah malam, lain halnya di Inggris yang terlihat siang karena di sana masih jam tiga.


Alula memilih menceritakan semuanya pada Devin, awalnya Alula ingin menyembunyikan semuanya.


Namun setelah dipikir-pikir, Devin adalah satu-satunya keluarga yang Alula miliki. jika bukan Devin, siapa lagi yang akan mendengarkan ceritanya.


Mendengar sang kakak di lamar, Devin pun bingung, namun ia memilih menyerahkan semuanya pada Alula.


Meski belum punya pengalaman ke sana, Devin terus menasehati sang kakak, Devin juga meminta Alula untuk berdoa dan meminta petunjuk.


...***...


"Saya sudah melamar Alula"


Ansell yang sedang berdiri, hampir saja pingsan mendengar perkataan Zyandru, "Apa tuan yakin?, maksud saya, pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa di permainkan"


Zyandru menatap Ansell dengan tatapan tajam, "emangnya kamu udah nikah?"


"Belum tuan, tapi—"


"Sudahlah Ansell, ini hidup saya jadi terserah saya"


"Maaf tuan" Ansell kembali menundukkan kepalanya.


Hari-hari berlalu, semenjak permintaan Zyandru pada dirinya, Alula menjadi lebih pendiam.


Alula bahkan terkesan menghindari atasannya itu, berbeda dengan Zyandru yang lebih mendekatkan diri pada Alula.


Setelah sekitar satu minggu membiarkan Zyandru menunggu, akhirnya Alula memberanikan diri memberikan jawabannya.


Beberapa hari yang lalu Alula mengikuti perintah sang adik untuk meminta petunjuk pada yang maha Kuasa.


Dengan keyakinan hatinya, setelah karyawan sudah pulang, wanita 26 tahun itu menemui Zyandru yang masih berada di ruangannya.


Tok Tok Tok


"Masuk"


Alula kembali mengatur napasnya, di bukanya pintu ruangan Zyandru, dilihatnya Zyandru sedang duduk di sofa bersama Ansell.


"Maaf pak, ini saya Alula"


Mendengar nama Alula, Zyandru langsung berdiri, "kenapa Alula?"


"Bisa kita berbicara berdua pak?"


"Boleh, Ansell tolong keluar sebentar ya"


"Baik tuan, saya permisi"


Zyandru menjulurkan tangannya seperti mencari sesuatu, "Alula duduk di sini, kamu mau bicara apa?"


"Soal lamaran pak Zyandru... "

__ADS_1


"Iya?" Zyandru mendengarkan penuh harap.


"Saya Terima"


__ADS_2