Blind Husband

Blind Husband
Blind 31


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat bagaikan hembusan angin, ketika semua orang berjalan maju, berbeda dengan Alula yang seakan masih terpaku di tempat yang sama.


Masalah yang datang silih berganti sudah biasa Alula dapatkan, dunia memang kejam, yang bisa di lakukan hanya berjuang sampai akhir hayat.


Kata siapa Alula kuat? wanita itu hanya menyembunyikan tangisnya, lagipula merengek tidak akan mengubah keadaan.


Alula tak suka memperlihatkan kelemahannya pada orang lain, jika ia tunjukkan, orang lain menganggapnya hanya drama.


Hal yang paling lucu dari kehidupan adalah Alula sering mendengar gosip tentang dirinya yang ia sendiri pun tak tahu sejak kapan dirinya seperti itu.


Dengan semua tuduhan dan perlakuan buruk Zyandru, Alula bertekad untuk membungkam suaminya itu dengan bukti bahwa dirinya tak pernah seperti yang di tuduhkan.


Sampai sekarang Alula masih mencari tahu siapa wanita yang dipeluk Zyandru beberapa hari lalu.


Alula juga benar-benar menjauhi Zyandru, jika dulu ia masih menaruh perhatian pada suaminya, sekarang tidak lagi. Bahkan Alula memanggil Zyandru dengan sebutan 'pak' tak peduli itu di kantor atau di rumah.


Bukan hanya Zyandru, Alula juga sangat menjaga jarak dari Ansell, pria yang sempat dianggap kakak oleh Alula, kini tak lagi sama. Seakan kehilangan sosok adik, itulah yang Ansell rasakan.


Alula memantapkan hatinya untuk tak usah memikirkan orang lain, lagipula sejak kapan menjaga perasaan orang adalah tanggung jawabnya.


Zyandru saja tak pernah memikirkan dirinya, jadi untuk apa Alula membuang waktu untuk melakukan sesuatu yang tak ada timbal balik.


Sikap Alula yang seperti inilah yang terkadang membuat Zyandru sakit, ia ingin menuruti perkataan Ansell, namun tetap tak bisa. Entah apa yang Alula lalukan hingga membuat Zyandru menggila seperti ini.


...***...


Siang ini, rapat yang tengah di lakukan dengan beberapa karyawan sama sekali tak Zyandru perhatikan. Mata dan hatinya lebih fokus pada sosok wanita cantik yang membuatnya ragu untuk menyatakan cinta atau kebencian.


Alula tahu sejak tadi Zyandru terus memperhatikannya, namun ia memilih masa bodo, bahkan tak menunjukkan ekspresi sedikitpun.


"Bagaimana pak Zyandru?" tanya seorang karyawan yang baru saja selesai presentasi.


"Pak Zyandru?" sekali lagi karyawan tersebut memanggil.


Diamnya Zyandru membuat karyawan lain kebingungan, hingga Ansell harus turun tangan untuk menyadarkan lamunan pria itu.


"Saya serahkan semuanya pada Ansell" ucap Zyandru dengan tatapan masih tertuju pada sang istri.


Rapat selesai, beberapa karyawan sudah keluar, kini tinggalah Alula, Zyandru dan Ansell di ruang rapat itu.


Sebagai sekertaris, jika ada rapat berlangsung, Alula lah yang yang akan menyiapkan serta membereskan kebutuhan rapat tersebut.


Zyandru menatap Alula dengan tangan kiri yang menopang dagu, saat Alula akan mengambil berkas yang berada di dekatnya, Zyandru langsung menahannya.


Alula membalas tatapan Zyandru tanpa ekspresi sedikitpun. "bapak mau apa?" tanya Alula malas.


Zyandru mengibaskan tangannya tanda agar Ansell segera keluar, tanpa bicara, Ansell menurut dan menutup pintu ruangan tersebut dengan rapat.


"Kamu mau apa?" Zyandru balik bertanya.

__ADS_1


"Mau beresin ini pak"


"Panggil aku mas!"


Alula memutar bola matanya malas, Zyandru yang melihat merasa sedikit kesal.


"Aku suami kamu Alula, mulai sekarang panggil aku mas!, jangan panggil pak lagi"


Alula tak mengindahkan perkataan Zyandru, ia menarik paksa berkas yang di tahan sang suami.


Alula yang hendak pergi langkahnya tertahan karena Zyandru menggenggam lengannya. Zyandru mengambil berkas dari tangan Alula dan meletakkannya di meja.


Tak berhenti sampai di situ, Zyandru juga menyudutkan Alula di dinding. Saat tangannya terulur untuk menyentuh wajah Alula, wanita itu langsung menepisnya.


"Tubuh saya terlalu menjijikkan untuk di sentuh seseorang yang suci seperti anda pak Zyandru" ucap Alula dengan penekanan.


Alula mendorong dada bidang Zyandru, kemudian kembali mengambil berkas yang berada di atas meja. Seolah tak ingin menyerah, Zyandru kembali mendekati Alula hingga istrinya itu geram dan mendorong Zyandru dengan kuat.


Saat akan terjatuh Zyandru malah menarik Alula, jadilah mereka berdua terjatuh dengan posisi Alula yang berada di atas Zyandru.


Merasakan ada seseorang yang datang, Zyandru membalik posisi mereka menjadi dirinya yang berada di atas Alula.


Zyandru melirik sedikit dan melihat yang datang adalah Revaz, ini kesempatan untuk dirinya, pikir Zyandru.


"Diam atau kamu bakal dapet masalah, ada Revaz yang lagi melihat kita" bisik Zyandru tepat di depan telinga Alula.


"Nakal banget kamu godain aku, padahal ini lagi di kantor loh sayang" ucap Zyandru memanas-manasi Revaz.


Alula hanya diam memejamkan matanya, bukan karena menikmati sentuhan Zyandru, melainkan mencoba menahan semua rasa sakit yang mulai memenuhi hatinya.


Zyandru kembali melirik, dilihatnya Revaz sudah tidak ada di sana, tak ada niat melepaskan, Zyandru malah memeluk Alula dengan sangat erat.


"Lepas" Alula memberontak dengan sekuat tenaganya.


"Gak mau"


"Bapak itu berat, badan saya sakit di lantai gini" keluh Alula yang memang benar punggungnya terasa semakin sakit.


"Ya udah kita pindah ke sofa ruangan aku" usul Zyandru membuat mata Alula melebar.


"Gak mau"


"Katanya disini sakit, diajak ke tempat lain gak mau, kamu maunya apa?"


"Lepasin saya"


"Kalau itu aku yang gak mau, aku kasih dua pilihan, kamu mau tetap disini atau pindah ke ruangan aku" ucap Zyandru dengan senyum tipisnya.


"Dasar gila"

__ADS_1


"Berani kamu bilang aku gila, aku atasan kamu loh Alula! aku bisa–"


"Apa? pecat saya? silakan, saya gak peduli, saya bisa cari kerja di tempat lain" Alula yang jengah dengan pembicaraan ini, akhirnya balik mengancam.


"Oke kalau kamu mau resign, tapi bayar 3 milyar!"


"Kok gitu?" Alula terkejut dengan perkataan Zyandru.


"Iyalah, sesuai yang tertulis di kontrak, kalau kamu melanggar kontrak, kamu harus membayar kompensasi senilai 3 milyar!"


"Oke, nanti saya bayar"


Zyandru tak menyangka Alula akan menyetujuinya begitu saja, ia harus memikirkan cara agar Alula menarik ucapannya.


Sejujurnya Alula pun tak menyangka akan jadi seperti ini, sebenarnya bisa saja ia membayar 3 milyar tapi itu adalah tabungannya untuk beberapa tahun ke depan.


"Bayar sekarang!" titah Zyandru dengan tegas.


"Ya gak sekarang juga lah" tolak Alula.


"Ya harus sekarang lah, kan kamu melanggar kontraknya sekarang, jadi saat ini juga kamu harus membayarnya."


Mereka berdua terus saja berdebat dengan posisi yang tak berubah, hingga suara pintu terbuka dengan keras menghentikan perdebatan mereka.


Alula dan Zyandru sama-sama menoleh dan mendapati Ansell tengah menatap mereka dengan mulut menganga lebar.


"Saya gak lihat" dengan cepat Ansell membalik tubuhnya kemudian menutup mata dengan telapak tangannya.


Alula yang menyadari Zyandru yang masih berada di atasnya lantas mendorongnya hingga terjatuh ke samping.


"Sakit Alula" ringis Zyandru memegangi punggungnya.


"Terserah" tak ingin lagi berdebat, Alula langsung pergi meninggalkan kedua pria itu.


"Gak usah senyam senyum kamu Ansell" ucap Zyandru melihat asistennya tengah menahan ketawa.


"Maaf mengganggu tuan"


"Hm, ada apa?" Zyandru kembali ke mode cueknya.


"Ada klien yang ingin bertemu di luar tuan"


"Ya udah ayo"


Sambil berjalan Zyandru beberapa kali mengusap punggungnya, aksinya itu tak luput dari perhatian Ansell.


"Punggung tuan sakit? bukannya tadi yang di bawah itu Alula, kenapa malah tuan yang kesakitan?"


Mata Zyandru melebar mendengar ucapan Ansell, ia tak menyangka Ansell akan mencibirnya seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2