Blind Husband

Blind Husband
Blind 66


__ADS_3

Hah !!!


Tiba-tiba saja Zyandru berbicara dan membuka sedikit matanya. Alula yang melihat itu lantas berteriak memanggil dokter, saat hendak keluar, Zyandru langsung menahan tangan istrinya itu.


"Zyandru kamu,,, "


"Aku kenapa, hm? Karena kamu di sini, aku jadi gak butuh dokter atau obat apapun!"


Zyandru membawa tangan Alula untuk dikecupnya, hal itu membuat air mata Alula mengalir semakin deras.


Tangan Zyandru terangkat mengusap air mata Alula yang selalu terjatuh karenanya. Suami istri itu sibuk meminta maaf satu sama lain.


"Omongan kamu yang tadi benar kan Alula? Kamu mau memulai semuanya dari awal bersamaku?"


Sebuah anggukan dari Alula membuat Zyandru senang bukan main, saat hendak bangkit untuk memeluk Alula, Zyandru langsung mengerang kesakitan. Pria itu lupa dirinya masih terluka.


"Makanya jangan aneh-aneh deh!" Omel Alula yang kembali ke mode galaknya.


"Aku mau peluk kamu," Rengek Zyandru. Kini pria itu menepuk sisi kanan tempat tidurnya yang kosong.


"Apa?" Tanya Alula dengan alis saling bertaut.


"Kamu tidur sini!" Titah Zyandru membuat mata Alula melebar tak percaya.


Alula yang terus menolak malah membuat Zyandru merengek seperti anak kecil. Akhirnya Alula pasrah dan menuruti permintaan aneh suaminya itu.


Perlahan Alula membaringkan tubuhnya dengan tangan yang diam tak berani memeluk perut Zyandru.


Dalam posisi ini, Zyandru berkali-kali mencium kepala Alula. Tak terhitung betapa besar kebahagiaan Zyandru saat ini.


...***...


Sepasang mata perlahan terbuka merasakan bias cahaya yang masuk. Melirik ke kanan, bibir kemerahan tersebut seketika terangkat menampilkan senyum yang begitu indah.


Entah bagaimana Zyandru mengutarakan kebahagiaannya, pria itu sangat bersyukur Tuhan mengabulkan do'anya untuk tetap bersama istrinya.


Setelah semua air mata yang Zyandru keluarkan dalam memperjuangkan kata maaf dari Alula, akhirnya istrinya itu kembali menerimanya. Ungkapan terimakasih dan cinta tak hentinya terucap.


"Kamu bisa pegang semua janjiku Alula, aku akan membahagiakan dan memuliakanmu seumur hidupku."


"Kalau kamu ingkar lagi gimana?" Tanya Alula dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


Zyandru nampak terkejut, tak lama pria itu mengecup singkat bibir istrinya. "Sejujurnya aku gak tahu Alula, aku benar-benar takut membayangkan harus hidup tanpa kamu."


Alula membuka matanya dan melihat dengan jelas ketakutan di wajah Zyandru, bahkan mata pria itu terlihat berkaca-kaca. Tangan kiri Alula merambat naik mengusap wajah tampan suaminya.


Mendapat perlakuan seperti ini membuat Zyandru tak dapat menahan debaran jantungnya. Mata Zyandru melebar tatkala Alula menyatukan bibir mereka.


Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, Alula lebih dulu menciumnya. Zyandru terpaku tak bergerak sepersekian detik.


Hingga saat Alula akan menjauhkan wajahnya, Zyandru tak membiarkan hal itu terjadi. Dengan menahan belakang kepala Alula, Zyandru menumpahkan segala rasa rindu pada istrinya itu. Alula pun dengan senang hati membalasnya.


"Kamu membuatku gila Alula!"


...***...


Sementara Zyandru dan Alula tengah di mabuk asmara, Ansell justru tengah di buat pusing dengan masalah Aziel yang tidak ada habisnya.


Entah bagaimana hal ini bisa terjadi, asisten Aziel berhasil kabur dari penjagaan. Mendengar hal itu, Ansell benar-benar murka, pria itu tak habis pikir dengan para anak buahnya.


"BODOH! MENANGANI SATU ORANG SAJA KALIAN TIDAK BECUS! BAGAIMANA JIKA TUAN ZYANDRU MENDENGAR HAL INI? HAH!"


Nampak Ansell tengah memarahi para ank buahnya, pria itu tak segan-segan untuk memukul beberapa pria di hadapannya.


Saat di rumah sakit semalam, Ansell sempat membuka sedikit pintu kamar Zyandru dan melihat Alula tengah menangis tersedu-sedu dengan tangan Zyandru yang berada di wajahnya.


Begitu datang ke tempat yang biasa mereka gunakan untuk mengurung para musuhnya, Ansell meminta para anak buahnya kembali mencari asisten Aziel, namun hingga pagi ini pria itu tak dapat di temukan.


Ansell memijit pelipisnya, kepala pria itu berdenyut sakit. Dering ponsel mengalihkan perhatian Ansell, dilihatnya nama Rio terpampang di layar ponselnya.


Belum sempat berbicara 'Hallo' Ansell malah di kejutkan dengan suara wanita yang menangis dan meminta tolong.


Pria itu menjauhkan sedikit benda pipih itu dari telinganya, Ansell terus bertanya-tanya siapakah wanita ini.


"I,,, ini saya Chika, adik kak Rio..."


Ansell membulatkan matanya begitu mendengar hal tersebut, pria itu langsung bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Ansell tak mematikan sambungan teleponnya dan tetap mengajak berbicara adik perempuan Rio tersebut.


"ARGHHHHHH TOLONG !!!"


Kembali terdengar suara Chika berteriak dengan keras, bukan hanya suara Chika, namun terdengar juga suara seorang pria. Ansell tahu pria tersebut merupakan asisten Aziel.

__ADS_1


Setelah berhasil membuang jauh Aziel dan Princy beberapa minggu lalu, semua para anak buah termasuk Rio di berikan komisi yang cukup besar oleh Zyandru.


Rio yang mendapat uang sebanyak itu, lantas membeli sebuah apartemen dan membawa adiknya yang berada di desa untuk ikut tinggal di jakarta.


Sampai di apartemen Rio, Ansell segera berlari masuk dan menaiki tangga menuju lantai 7 di mana apartemen Rio berada.


Sesampainya di sana, Ansell segera membuka pintu cukup keras menggunakan kakinya. Apartemen itu sudah tak berbentuk dengan barang-barang yang sudah kacau dan bercak darah di mana-mana.


Kembali mendengar suara, Ansell menajamkan telinganya. Pria itu melirik ke kanan dan kiri, merasa seseorang berada di belakangnya, Ansell segera membungkuk dan memukul perut asisten Aziel yang sudah siap dengan pisau di tangannya.


Ansell tak mempedulikan lengan atasnya yang sudah tergores cukup dalam akibat sayatan pisau. Ternyata asisten Aziel bukanlah lawan yang bisa di remehkan.


Ansell mengarahkan kakinya memberikan tendangan memutar yang tepat mengenai wajah musuh di depannya.


Melihat asisten Aziel terjatuh, Ansell segera menjadikan itu sebagai kesempatan. Berkali-kali memukul dan menendang hingga Ansell merasa lawannya itu sudah pingsan.


Ansell segera mencari di mana Rio dan adiknya berada. Betapa terkejutnya Aziel saat ini, Rio terlihat terkapar di lantai dengan darah yang sudah memenuhi tubuhnya.


Ansell tak kuasa melihat teman barunya itu, dengan lirih Ansell menghampiri Rio. Membalikkan tubuh Rio yang semula tengkurap, Ansell melihat beberapa tusukan memenuhi perut, dada dan lengan Rio.


Sedangkan di sudut kamar, dengan tangan dan kaki terikat, mulut yang terbekap kain, Chika adik perempuan Rio tengah menangis dengan suara tertahan.


Ansell menghampiri gadis cantik berambut pendek itu, membuka seluruh ikatan yang berada di tubuh Chika, gadis itu menghampiri tubuh sang kakak dan kembali menangis sejadi-jadinya.


"Kak, bangun! Huhuhu. Kak Rio jangan tinggalin ika! Bangun kak... "


Ansell yang juga merasa kehilangan, perlahan menarik Chika ke dalam pelukannya. Chika membalas pelukan Ansell dengan tak kalah eratnya.


"Argh!" Ansell mengerang tertahan merasakan sakit luar biasa ketika sebuah pisau menusuk punggungnya. Melirik ke belakang, Ansell melihat pelakunya adalah asisten Aziel.


"KALIAN SEMUA HARUS MATI !!!"


Saat asisten Aziel kembali hendak melayangkan pisaunya, Ansell dengan cepat memukul pria itu hingga jatuh. Chika yang masih berada di pelukan Ansell begitu terkejut merasakan darah merambat di tangannya.


"Tutup mata!" Titah Ansell dengan suara beratnya.


Chika menurut, gadis dengan wajah lebam itu menutup mata dan tak lama mendengar suara tembakan. Tubuh Chika bergetar dan pelukannya pada tubuh Ansell pun makin mengerat.


Begitu Chika membuka mata, dilihatnya Ansell masih mengarahkan pistol pada pria yang membunuh kakaknya dengan brutal tersebut.


Ansell menembak tepat pada kepala asisten Aziel yang membuat nyawa pria itu seketika hilang. Sadar Chika memperhatikannya, Ansell mengusap kepala gadis itu.

__ADS_1


"Jangan dilihat!" Ucap Ansell sebelum benar-benar pingsan di dalam pelukan Chika.


__ADS_2