
Pagi ini, seorang wanita cantik terlihat sedang membaringkan tubuhnya, dengan mata terus menatap lekat atap kamarnya, tangan wanita tersebut terangkat menggambar abstrak di udara.
Senyum wanita itu terus mengembang ketika membayangkan kejadian kemarin malam ketika dengan beraninya ia memeluk suami dari sepupunya sendiri.
Setelah diantar pulang oleh Alula dan Zyandru, Princy menceritakan tentang hubungannya dan Zyandru di masa lalu pada ibunya.
Alasan Princy memutuskan Zyandru bukan hanya karena ingin mengejar cita-citanya, namun juga disaat itu Princy tengah menjalin dengan pria lain. Hubungan itu tentu saja tidak diketahui Zyandru.
Princy membagi hati dengan pria lain yang membuatnya lebih memilih pria selingkuhannya dibandingkan Zyandru.
Satu hal yang tidak diketahui Zyandru yaitu Princy ialah wanita yang mudah bosan dengan pria, berkali-kali ia bergonta-ganti pasangan.
Awalnya Princy terkejut mengetahui Zyandru menikahi sepupunya sendiri yaitu Alula, namun ia merasa biasa saja karena saat itu ia memiliki kekasih.
Apalagi Saat itu Princy mendengar fakta jika Zyandru buta yang membuatnya seketika memandang rendah Zyandru.
Namun di saat melihat Alula bahagia, entah mengapa Princy merasa kesal hingga ia memutuskan akan merebut kembali Zyandru.
Mencari-cari keberadaan Alula, hingga tak sengaja ia pingsan di tengah jalan, dan yang menolongnya ternyata adalah seseorang yang sedang ia cari.
"Bagaimana bisa kamu menikahi Alula di saat kamu tidak bisa melihat, aku tahu kamu pasti belum bisa melupakan aku Zyandru, kamu sering bilang aku mirip sekali dengan ibu kamu."
Princy menyeringai sambil menggigit kecil bibirnya.
"Sampai kapanpun Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia Alula, tunggu sampai Zyandru kembali ke pelukanku."
Entah apa yang membuat Princy begitu membenci Alula, dari kecil hingga sekarang tak pernah ada kata akur di antara mereka.
Berberapa minggu sebelumnya, tiba-tiba ada pengacara yang cukup terkenal mendatangi Princy, pengacara itu mengatakan putrinya sangat mengidolakan Princy, ia siap membantu Princy memenangkan kasus ini dengan syarat Princy mau menemui putrinya sekali saja.
Dan benar yang dikatakan pengacara tersebut, kasus kekerasan yang dilakukan Princy terhadap kekasihnya telah selesai, dan Princy dinyatakan tidak bersalah.
Sejak saat itu, Princy memutuskan tetap tinggal di Indonesia sampai ia mendapatkan pekerjaan kembali.
...***...
Di tempat lain, tidak seperti biasa, Zyandru bangun lebih dulu dari Alula, dilihatnya sang istri masih terlelap, perlahan Zyandru memiringkan tubuhnya.
Ditatapnya dengan lekat wajah Alula, tiba-tiba Zyandru memiliki ide, pria itu mengambil ponselnya dan mengambil beberapa gambar Alula. Istrinya itu memang selalu cantik, bahkan ketika tidur Alula tetap cantik.
Zyandru tersenyum sendiri menatap hasil potretnya, "buat takut-takutin tikus"
"Engghh"
__ADS_1
Mendengar lenguhan Alula, Zyandru menghentikan tertawanya, pria itu menutup mata dan berpura-pura tidur.
Beberapa detik tak ada pergerakan, Zyandru kembali membuka matanya, dilihatnya ternyata Alula belum juga bangun, Zyandru menjulurkan tangan dan menghalau helaian rambut yang berani menutupi wajah cantik sang istri.
Merasakan kulit Alula yang sedikit panas, Zyandru mengerutkan keningnya, pria itu menempelkan tangannya di kening juga pipi Alula dan merasakan hal yang sama.
Zyandru menegakkan tubuhnya, "Alula kamu sakit? Alula badan kamu panas gini, Alula bangun dulu"
Merasakan tubuhnya diguncang, Alula membuka sedikit matanya, bukannya memberikan jawaban, Alula malah meringis seperti menahan rasa sakit.
Zyandru yang mulai panik, langsung menggendong tubuh Alula dan berlari ke bawah.
"PAK MUN KELURIN MOBIL, KITA KE RUMAH SAKIT" teriak Zyandru dari dalam.
Melihat sang tuan berlari dengan lancar, membuat pak mun terpaku seketika, ia tak menjawab dan malah menatap Zyandru dengan heran.
"Pak mun kenapa bengong gitu, keluarin mobil cepet"
"B–baik tuan"
Rasa takut mulai menjalar di hati dan pikiran Zyandru, panik tentu saja, pria itu tak hentinya mengusap wajah dan tangan sang istri.
Alula membuka sedikit matanya dan melihat wajah Zyandru yang sangat dekat dengan wajahnya. Untuk pertama kalinya Alula melihat sebuah ketakutan di wajah tampan sang suami.
Sekitar setengah jam perjalanan mereka sampai di rumah sakit, Zyandru dan Alula yang masih menggunakan pakaian tidurnya seketika menjadi perhatian beberapa orang. Apalagi sejak sampai Zyandru terus berteriak memanggil dokter.
Dengan sangat hati-hati Zyandru membaringkan tubuh lemah Alula di brankar, para perawat langsung membawanya masuk ke salah satu ruangan.
Pak mun yang sejak tadi hanya diam mengikuti sang tuan, akhirnya membuka suara dan menanyakan hal yang sejak tadi mengganjal pikirannya.
"Tuan, maaf kalau saya lancang, saya tahu ini bukan waktu yang tepat menanyakan hal ini, tapi– mata tuan... "
Zyandru mengangkat wajahnya dan menatap pria paruh baya yang berdiri di sampingnya itu, "pak mun cukup tahu dan diam"
Melihat wajah menakutkan Zyandru, pak mun langsung diam dan menundukkan kepalanya.
...***...
Siang harinya, Princy dan ibunya saat ini tengah dalam perjalanan ke rumah sakit, Princy rencananya akan mengecek kesehatannya.
Setelah sempat sakit, Princy lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatannya, apalagi ia seorang model.
Sesampainya di rumah sakit, Princy langsung melakukan beberapa pemeriksaan, sedangkan sang ibu menunggu di luar.
__ADS_1
Sedangkan di sebuah kamar rawat, setelah dinyatakan anemia, kini Alula tengah berbaring dengan jarum infus yang melekat di tangan kirinya.
Melihat sang istri tidur, Zyandru mengusap pelan kepala Alula kemudian beranjak keluar untuk melakukan administrasi.
Selesai dengan urusannya, Zyandru malah tak sengaja melihat ibu Princy sedang duduk di salah satu kursi di depan sebuah ruangan.
"Loh itu kan ibunya Princy, sial kalau dia lihat gue jalan sendiri bisa curiga nih, tau gini tadi gue gak nyuruh pak mun pulang" gumam Zyandru sambil meremas kertas di tangannya.
Zyandru memutar tubuhnya ke arah lain, saat hendak pergi ia merasa ada seseorang yang menepuk bahunya, perasaannya mulai tidak enak, tepat ketika Zyandru berbalik ia dikejutkan dengan ibu Princy yang berada di belakangnya.
"Tuh kan benar kamu suaminya Alula, Zyandru ya namanya"
"M–maaf siapa ya?" tanya Zyandru berpura-pura.
"Saya Rani ibunya Princy, bibinya Alula"
"Ohh bibi, kirain siapa, bibi lagi apa disini?" Zyandru tersenyum canggung.
"Temani Princy cek kesehatan, kamu sendiri ngapain disini? sakit?"
"Bukan saya tapi Alula, sekarang masih di rawat"
"Sakit apa keponakan saya?"
"Anemia bi"
"Ya ampun kasihan banget, kok kamu jalan sendirian begini, kan gak bisa lihat, eh" Rani langsung menutup mulutnya.
"Maaf, bibi gak bermaksud seperti itu"
"Gak apa-apa bi, yang bibi bilang bener kok, tadi saya mau cari sopir saya, eh malah nyasar begini, maklum lah orang buta"
"Ohh begitu, ya udah bibi antar kamu yuk, sekalian mau jenguk keponakan bibi, tapi tunggu Princy sebentar ya, biar sama-sama ke kamar rawat Alula"
"Ya udah bi"
Akhirnya mereka berdua duduk sambil sesekali mengobrol, entah mengapa Zyandru merasa sikap Rani sangat berbeda dengan pertemuan pertama mereka.
Jika dulu Rani dengan terang-terangan menghina Alula juga menantap rendah Zyandru, kini Rani sangat lah baik.
Setelah beberapa menit menunggu, pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik tengah mengikat rambut bergelombangnya.
"Zyandru"
__ADS_1