Blind Husband

Blind Husband
Blind 68


__ADS_3

Arghhhhh !!!


Terdengar suara erangan tertahan dari seorang pria. Dengan tubuh bagian atas terbuka tanpa pakaian, pria itu kembali mengerang dengan kepala mengadah ke belakang.


Sementara di depannya, terdapat seorang wanita tengah menunduk tepat di depan perut pria itu.


"Pelan-pelan Alula!"


"Iya, kamunya sabar! Jangan banyak gerak!"


Dari atas, Zyandru menatap Alula yang tengah mengganti perban di perutnya. Terlihat istrinya itu memajukan bibirnya dan meniup tepat pada luka perutnya.


Sekitar tiga hari lalu, Zyandru yang sebenarnya belum sembuh total, nekat mengangkat tubuh Alula, hal itu menjadikan jahitan pada perutnya robek dan harus di jahit kembali.


Luka yang harusnya sudah mengering, kini membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh.


Alula begitu telaten mengurus suaminya itu, setelah mengoleskan obat yang di berikan dokter, Alula kembali menutup luka Zyandru menggunakan kain kasa.


Mengangkat sedikit matanya, Alula dengan jahilnya meraba roti sobek yang terhampar jelas di depan matanya.


Zyandru tersenyum kecil melihat tingkah istrinya. "mulai nakal ya kamu!"


Hahahaha !!!


"Tunggu aku sembuh, aku gak akan lepasin kamu!"


Zyandru menunduk hendak mendekati Alula, namun istrinya itu malah berlari keluar dari kamar mereka. Dengan kondisi yang tak bisa banyak bergerak, membuat Zyandru sulit untuk menangkap Alula.


Sedangkan di depan, Alula tengah meledek suaminya itu dengan menjulurkan lidahnya sambil menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan kiri.


Akibat terlalu sibuk menertawakan tingkah Alula, Zyandru kembali merasakan sakit pada perutnya.


Alula yang melihat itu seketika menjadi panik, wanita itu sontak menghampiri Zyandru yang tengah menunduk di lantai. Dengan suara pelan Alula bertanya sambil memegang pundak suaminya itu.


Zyandru mengangkat kepalanya dan menampilkan senyum menggodanya. Pria itu menggelitik perut Alula hingga membuat istrinya itu tertawa terbahak-bahak.


Aakhhhh Hahahaha !!!


Bukan hanya tangan, namun juga bibir Zyandru dengan gencar menyusuri kulit istrinya itu. Sesaat Zyandru dan Alula saling tatap, semakin lama wajah mereka semakin dekat.


"Oh my eyes!"


Suara seorang pria membuat Alula dan Zyandru bersama menoleh ke bawah. Posisi mereka yang berada di dekat tangga, membuat kedua pria dan seorang gadis yang berada di ruang tamu melihat dengan jelas aksi keduanya.


"DEVIN!" Pekik Alula. Wanita itu dengan cepat melepaskan rangkulan tangannya pada tubuh Zyandru, kemudian berlari menuruni tangga.

__ADS_1


Bukannya pelukan yang di dapat, Devin malah harus merasakan sakit karena Alula memukul tubuhnya beberapa kali.


"Kamu ke mana aja satu tahun gak balik hah?"


Terakhir kali Devin berada di Indonesia adalah ketika Zyandru dan Alula menikah. Sejak saat itu, laki-laki itu tak pernah kembali lagi hingga lebih dari satu tahun.


Bukan tanpa Alasan, kesibukan yang dimiliki tak memberi laki-laki berusia 20 tahun itu waktu untuk terbang ke tanah air dan menemui sang kakak.


Devin mulai bercerita tentang dirinya yang cukup kesulitan mencari alamat rumah kakak iparnya itu.


Sebenarnya bisa saja Devin menanyakan hal ini lewat telepon, namun ia berencana memberi kejutan. Jadilah laki-laki itu memilih mendatangi perusahaan Zyandru dan bertemu dengan Ansell.


Sesampainya di sini, malah ia yang mendapat kejutan dengan melihat adegan romantis Alula dan Zyandru.


...***...


Sejak pertemuan mereka pagi tadi, Devin dan Chika terus saja bertengkar memperebutkan Alula. Devin merasa tak terima Alula mempunyai adik baru.


Bukan hanya saling berteriak, namun juga Chika yang tak segan memukul tubuh Devin dan begitupun sebaliknya.


Kini, di ruang keluarga, Alula, Zyandru dan Ansell duduk di salah satu sofa sambil memperhatikan Chika dan Devin yang tengah perang bantal.


"Kok lo songong sih?"


"Lo duluan!"


Chika tak mengalah begitu saja, gadis itu bangkit dengan wajah yang begitu galak. Perlahan Chika mendekati Devin dan menggigit lengan kiri Devin hingga laki-laki itu menjerit kesakitan.


"HEH ANAK TUYUL!" Devin menjentik dahi Chika menggunakan jari tengahnya yang membuat dahi gadis itu seketika memerah.


Suara teriakan dan rengekan menggelegar memenuhi ruangan tersebut. Jarak umur mereka yang hanya berbeda dua tahun, menjadikan Devin dan Chika persis seperti anak kecil yang tengah tantrum.


"Berhenti!"


Dengan suara pelan, Alula memberikan perintah namun kedua adiknya itu tak ada yang mendengarkan.


Alula menarik napasnya dalam dan menatap tajam Chika dan Devin yang tengah saling menjambak rambut satu sama lain.


"DIAM ATAU KAKAK BOTAKIN KEPALA KALIAN BERDUA !!!"


Devin dan Chika sontak melepaskan cengkeraman satu sama lain. Mereka berdua menunduk takut melihat wajah Alula yang terlihat sangat menyeramkan, sangat berbeda dengan biasanya.


Sedangkan di samping Alula, Zyandru terlihat menyenggol pelan lutut Ansell kemudian menggerakkan kepalanya ke arah lain.


Mengerti akan hal itu, Ansell dan Zyandru perlahan bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Alula yang sudah siap menghukum kedua adiknya.

__ADS_1


Kedua pria itu memilih halaman untuk menghindari keributan. Dari arah depan, Zyandru dan Ansell sama-sama melihat seorang wanita berjalan ke arah mereka dengan meliuk-liuk pinggulnya yang tercetak jelas dengan pakaian ketatnya.


Zyandru begitu heran, bagaimana Tiana bisa masuk sedangkan dirinya sudah meminta para penjaga rumahnya untuk tidak mengizinkan wanita itu masuk. Dalam hati, pria itu bersumpah akan memecat para pekerjanya hari ini juga.


Tercetak sebuah kemarahan di wajah Zyandru saat ini. Pria itu berjalan menghampiri Tiana dan berniat mengusir wanita itu.


"Hai Alula"


Baru saja Zyandru hendak menyeret Tiana keluar, wanita itu malah menyebut nama istrinya yang membuat Zyandru sontak menoleh ke belakang.


Alula melirik tangan Zyandru yang memegang lengan Tiana. Dengan santainya Alula berjalan mensejajarkan dirinya di depan Tiana.


"Ada perlu apa?" Tanya Alula tak mau berbasa-basi.


"Aku kesini mau minta minta maaf ke kalian, sikap aku semalam memang salah dan aku mengakui itu. Emm Alula, bisa kita bicara berdua? Ada sesuatu yang perlu aku tanyakan."


"Gak bisa!" Bukan Alula yang menjawab, melainkan Zyandru. Pria itu mengambil posisi tepat di tengah-tengah antara Alula dan Tania.


Alula mengusap pelan lengan Zyandru, wanita itu meminta sang suami agar mengizinkannya berbicara empat mata dengan mantan dokter pribadinya.


Awalnya Zyandru menolak, namun ketika menatap mata Alula, Zyandru seolah mengerti bahasa mata istrinya itu. Akhirnya Zyandru pun mengizinkan dengan syarat tidak pergi keluar melainkan tetap berada di halaman rumah mereka.


Sebelum pergi, Zyandru menyempatkan memeluk erat dan menciumi wajah Alula.


...***...


Kini, Alula dan Tiana duduk berdua di gazebo yang berada di halaman belakang rumah. Alula nampak sesekali tersenyum kecil mendengarkan perkataan Tiana yang menyombongkan dirinya cukup dekat dengan Zyandru dulu.


"Kalau memang Zyandru juga menyukai kamu, kenapa Zyandru tidak menikahimu dan malah lebih memilih menikahiku?"


Ucapan Alula membuat Tiana bungkam seribu bahasa. Wanita itu tak dapat menyembunyikan kekesalannya lagi. Tiana merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah pisau yang berukuran kecil namun nampak sangat tajam.


Alula menatap tak percaya pada Tiana, wanita itu harus berwaspada karena Tiana pasti akan melakukan hal aneh.


"Kenapa takut gitu Alula?" Tiana menyodorkan pisau tersebut ke depan wajah Alula.


"Jangan macam-macam kamu Tiana!"


Hahahahahaha!


Tiana tertawa dengan keras, perlahan wanita itu mengarahkan pisau di genggamannya menuju wajahnya sendiri.


Alula melihat dengan mata dan kepala sendiri Tiana menggores wajahnya, darah pun mulai keluar di pipi kiri Tiana. Wanita itu menunjukkan senyum sinisnya melihat wajah terkejut Alula.


"Aku akan membuat Zyandru membencimu!" Bisik Tiana tepat di telinga Alula.

__ADS_1


Pisau yang semula ia genggam, dengan cepat Tiana Alihkan pada tangan Alula. Wanita itu mulai berteriak histeris.


"T—TOLONG... ALULA, ALULA INGIN MEMBUNUHKU. TOLONG!"


__ADS_2