
"ALULA ALULA ALULA"
Zyandru berteriak dengan kencangnya memanggil nama sang istri membuat Ansell yang berada di sampingnya terkejut bukan main.
"Tuan jangan teriak juga kali, kita bukan lagi di hutan" ucap Ansell sambil mengusap telinganya.
"Apa kamu bilang?" dengan wajah dan nada bicara yang datar Zyandru bertanya membuat Ansell seketika terdiam.
"Maaf tuan, m–mari kita cari Alula"
Zyandru menunda kemarahannya, saat ini mereka berkeliling rumah namun tak menemukan Alula, bahkan di kamar tamu pun tidak ada.
Mereka menjadi pusing sendiri, akhirnya mereka menemui pak mun dan bertanya, namun pak mun mengatakan bahwa Alula tidak pergi kemanapun.
Zyandru dan Ansell kembali mencari di kamar tamu, pintunya yang terbuka membuat Zyandru masuk begitu saja. sedangkan Ansell menunggu di depan kamar.
Melihat pintu kamar mandi tertutup, Zyandru berpikir mungkin Alula berada di sana, tanpa berpikir panjang Zyandru lantas membukanya.
Ceklek
Alula sedang berdiri di depan cermin wastafel, wanita itu terlihat sedang memiringkan tubuhnya, dengan bagian atas yang polos tidak memakai baju, Alula begitu terkejut melihat bayangan Zyandru di cermin.
"Aaaakhhhhh"
Zyandru sempat terpaku sepersekian detik, ketika mendengar teriakan Alula dengan cepat Zyandru kembali menutup pintu tersebut.
"Tuan kenapa Alula berteriak seperti tadi, apa tuan ngelakuin hal yang aneh?"
"Kamu sudah bosan hidup Ansell?" Zyandru menunjukkan tatapan tajamnya.
"Maaf tuan"
Di dalam kamar mandi, Alula sebenarnya ingin melihat luka di punggungnya, karena itu ia melepas pakaiannya, entah dari mana datangnya tiba-tiba Zyandru datang.
Memang Zyandru adalah suaminya, hanya saja Alula belum siap menunjukkan tubuhnya apalagi mengingat perlakuan suaminya itu.
Beberapa menit kemudian Alula keluar dengan kepala menunduk, ia melihat sekeliling kamar dan tak menemukan Zyandru.
"Mungkin dia di bawah, ihhh malu banget deh, kenapa dia tiba-tiba ada di sini sih, perasaan tadi udah dikunci, kenapa dia bisa buka sih. Oh iya Zyandru kan gak bisa lihat, ngapain takut, ah tapi tetep aja malu–akhhhh"
Alula mencak-mencak sendiri di dalam kamar, mengingat kejadian canggung yang terjadi barusan.
...***...
Sementara itu di bawah, Zyandru yang masih terkejut dengan kejadian tadi, terus saja diam tak bersuara.
"Tuan–tuan gak mau temuin Alula?, tuan kesini karena mau tanyain Alula udah makan atau belum kan"
Ansell terus berceloteh, namun tak satupun masuk ke telinga Zyandru, ia malah sibuk memikirkan hal lain.
Karena memang kulit Alula yang putih, Zyandru dapat melihat dengan jelas luka yang berada di punggung sang istri. Perasaan bersalah kembali mengusai hati dan pikirannya.
"Ternyata lukanya separah itu" gumam Zyandru dengan suara pelan.
"Luka apa tuan?"
Bukan hanya luka di punggung, Zyandru juga melihat bekas luka di perut Alula dari bayangannya dicermin. Entah mengapa Zyandru seperti punya ikatan dengan bekas luka tersebut.
__ADS_1
Ingin sekali bertanya tentang bekas luka di perutnya, namun mengingat keadaan mereka sekarang, rasanya tidak mungkin.
"Sebenarnya itu bekas luka apa, kenapa terus membuatku penasaran setengah mati"
"Tuan, dari tadi tuan ngomongin tentang luka, luka apa yang tuan maksud?"
"Gak usah kepo kamu Ansell" ucap Zyandru tanpa menatap wajah asistennya itu.
Zyandru memilih untuk kembali ke kantor tanpa menemui Alula terlebih dahulu, sebelum benar-benar pergi ia sempat memastikan Alula sudah makan siang dengan bertanya pada pak mun.
...***...
Hari-hari berlalu, jika dulu sikap Zyandru yang sangat dingin, sekarang berbanding terbalik, Alula sangat dingin terhadap suaminya itu.
Alula memutuskan tetap tidur di kamar tamu, meski begitu ia tetap mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasanya.
Tidak ada interaksi berlebih antara suami istri tersebut, baik itu di rumah maupun di kantor. Alula terkesan menghindari Zyandru, bahkan Alula membiarkan Zyandru berjalan sendiri tanpa ia di samping seperti biasa.
Sejujurnya Zyandru merindukan Alula, Namun ia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Pernah suatu hari Zyandru berpura-pura jatuh di tangga, tidak seperti biasanya yang akan khawatir. Kali ini Alula tak mempedulikannya, bahkan menoleh saja tidak, wanita itu lebih memilih fokus pada makanannya.
Ansell yang melihat perbedaan pada perilaku Alula sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi, namun Ansell lebih memilih diam, toh ini pun masalah rumah tangga mereka.
"Tuan anda mau makan di luar atau saya pesankan saja?"
"Tuan?"
Ansell sejak tadi sibuk mengajak bicara Zyandru, namun tuannya itu sama sekali tak merespon.
Dengan tangan menopang dagu, pandangan Zyandru terlihat kosong, wajahnya menunjukkan sebuah kelelahan.
"Tuan mau makan di luar atau saya pesankan?"
Zyandru menghela napasnya, "saya gak nafsu makan"
"Ini sudah sore dan tuan belum makan sejak siang, apa perlu saya panggilkan Alula untuk menemani tuan makan?"
Zyandru tertawa kecil mendengar penuturan Ansell, "Alula gak bakal mau, saya sakit aja dia gak peduli"
Zyandru menatap Ansell dengan alis terangkat, "kenapa? gak percaya?, kamu coba aja sendiri!"
Ansell lantas keluar dari ruangan Zyandru dan menemui Alula.
"Alula– Alula tolong"
Melihat Ansell begitu panik, Alula lantas mengalihkan perhatiannya, "pak Ansell kenapa? tolong apa?"
Dengan napas terengah, Ansell menunduk menumpukkan tangan pada lututnya "Tuan– tuan Zyandru belum makan dari siang"
"Ya tinggal di suruh makan, apa susahnya" jawab Alula kemudian kembali menatap layar komputer.
"Tuan Zyandru gak mau Alula"
"Paksa pak Ansell, kalau perlu suapin sekalian!" ucap Alula datar.
"Masa saya, kan kamu istrinya jadi kamu yang harus suapin"
__ADS_1
Alula mulai geram, "saya lagi sibuk pak Ansell"
"Pak Zyandru pingsan karena kelaperan"
"Ya bangunin lah!"
"Kamu gak kasihan Alula, dia suami kamu loh"
Alula dan Ansell terus saja berdebat, hingga akhirnya Ansell menggunakan cara terakhir yaitu menarik tangan Alula dan membawanya ke ruangan Zyandru.
Alula terus meminta Ansell untuk melepaskan tangannya, namun Ansell tak menurutinya. Hingga mereka berdua masuk dan mendapati Zyandru sedang menyandarkan tubuhnya di kursi, namun matanya terbuka tidak seperti perkataan Ansell.
Alula langsung memberikan tatapan tajamnya pada Ansell, "pak Ansell bohongin saya ya"
"S–saya gak bohong, memang tadi tuan Zyandru pingsan, sudah sadar ternyata"
Zyandru hanya diam menatap kedua orang di depannya, dari percakapan mereka Zyandru mengerti Ansell pasti membohongi Alula.
"Itu buktinya baik-baik aja" Alula lantas keluar dengan wajah kesalnya, sedangkan Ansell hanya cengengesan menatap Zyandru.
"Tuan benar"
Alula berjalan dengan menghentakkan kakinya, entah mengapa ia merasa sangat kesal, melihat wajah santai Zyandru, ingin sekali Alula mencakarnya.
Sambil mengerjakan tugasnya, Alula terus mendumel hingga menjadi perhatian seseorang yang berjalan ke arahnya.
"Kamu kenapa kelihatan kesel begitu Alula?" Revaz terkekeh di akhir kalimatnya.
"Tuh ngeselin banget manusia satu itu" jawab Alula dengan napas terengah.
Melihat wajah kesal Alula, Revaz malah semakin menyukainya, menurutnya kecantikan Alula bertambah ketika marah.
"Manusia itu siapa Alula?"
"Sua–" ucapan Alula terhenti ketika mengingat pertengkarannya dengan Zyandru karena ia dekat dengan Revaz.
"Bukan siapa-siapa, aku permisi" lanjut Alula kemudian pergi meninggalkan Revaz.
Melihat tingkah Alula membuat Revaz hanya menggelengkan kepalanya, pria itu berjalan menuju ruangan Zyandru.
"Istri kamu kenapa marah-marah aja, kalian lagi ada masalah?" tanya Revaz sambil meletakkan sebuah map di meja Zyandru.
"Ini urusan rumah tangga aku dan Alula, harus ya kamu tanya-tanya gitu" ucap Zyandru membuat Revaz tersenyum.
"Yaa memang sih ini urusan kalian, aku cuma kasihan aja liat Alula yang seperti tertekan"
"JAGA OMONGAN KAMU REVAZ" Zyandru sudah berdiri sambil menggebrak mejanya, jika tidak ditahan Ansell, bisa saja Zyandru menghajar Revaz saat itu juga.
Alula yang mendengar suara ribut, langsung menghampiri ruangan sang suami.
Dilihatnya Zyandru terlihat marah, dengan Ansell yang sedang menahan lengannya, "ini ada apa? kenapa tadi aku dengar suara ribut?"
"Gak ada apa-apa Alula, aku permisi ya" ucap Revaz kemudian keluar dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Zyandru ada apa?" Alula bertanya dengan sangat lembut.
"Tanya kekasih gelap kamu itu" ucap Zyandru yang seketika membuat hati Alula begitu sakit.
__ADS_1
Apa yang membuatmu terus berpikir seperti itu Zyandru, aku lelah terus kamu tuduh tanpa alasan yang jelas.