
Menatap nanar cincin pernikahan yang kembali terpasang di jari manisnya, Alula kembali menumpahkan air mata di wajah cantiknya.
Rani pergi begitu saja setelah puas memberikan kata-kata menyakitkan untuk keponakannya.
Kini, tinggalah Alula dan Chika yang harus menerima tatapan aneh dari beberapa orang. Beberapa dari mereka bahkan terdengar membicarakan Alula.
Chika yang sejak tadi hanya diam, mulai memberanikan diri mendekat dan mengusap pelan bahu Alula. Melihat tangisan Alula semakin deras, Chika merangkul dan memeluk wanita itu.
Entah yang dikatakan wanita dewasa tadi benar atau tidak, yang Chika tahu, pasti Alula merasa sangat sakit sekarang. Gadis itupun ikut menangis membayangkan penderitaan kakak angkatnya itu.
"Tolong jangan bilang Zyandru atau siapapun masalah ini, ya?"
Alula menegakkan tubuhnya dan menatap gadis di depannya dengan mata yang masih mengeluarkan tangis.
Chika menahan semua pertanyaan yang bersarang di kepalanya, gadis itu memilih diam dan menuruti permintaan Alula.
Mendengar Alula mengatakan ingin ke toilet, Chika lantas berdiri dan berniat mengikuti Alula. Namun Alula menolak dan berkata agar Chika menunggunya di sana saja.
Lagi dan lagi Chika diam dan menurut, sekian waktu menunggu Alula tak kunjung kembali. Rasa khawatir mulai menyerang hati Chika, gadis itu akhirnya pergi ke toilet, namun sesampainya di sana ia tak dapat menemukan Alula.
"Kak Alula... "
Chika kembali menangis sambil berjalan memanggil nama Alula, mencari di setiap sudut restoran, Chika tak dapat menemukan wanita yang sudah ia anggap pelindungnya itu.
Berlari sekencang mungkin, Chika mengatakan pada pak Mun bahwa Alula hilang. Gadis itu juga menghubungi Devin dan mengatakan hal yang sama.
Sambil menunggu kedatangan yang lain, Chika dan pak Mun kembali mencari dan menanyakan pada beberapa orang yang mereka temui, namun masing-masing dari mereka tak memberikan jawaban yang mereka inginkan.
"Alula mana Chika?"
Suara bariton seorang pria dari arah yang cukup jauh membuat pemilik nama menoleh dan melihat Zyandru berjalan berdampingan bersama Devin.
"Chika juga gak tahu kak, tadi kak Alula bilang mau ke toilet tapi sampai sekarang belum juga balik. Chika takut kak huhuhu."
Zyandru yang juga takut terjadi hal buruk, segera memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengecek CCTV dan mencari sekeliling. Sedangkan dirinya mencoba mengubungi istrinya yang menghilang secara tiba-tiba itu.
Beberapa kali panggilan tak membuahkan hasil, bahkan nomor Alula tidak aktif.
...***...
__ADS_1
Di saat yang lain sibuk mencari dirinya, Alula justru terlihat tengah duduk sendiri di sebuah tempat yang di kelilingi pepohonan dengan tangan memegang selembar kertas.
Jika yang dikatakan Rani memang benar adanya, bagimana Alula melanjutkan pernikahan yang didasari kebohongan ini. Zyandru menganggap dirinya tak lebih dari sekedar alat pencapai tujuannya.
Alula mencoba menghubungkan berita yang ia dengar dulu tentang Zyandru yang pernah menjalin hubungan dengan seorang model dan interaksi yang pernah terjadi diantara Zyandru dan Princy. Jujur saja itu rasanya sakit sekali.
Tidak, kali ini Alula tidak akan menahannya lagi. Zyandru sudah berhasil mencapai tujuannya, jadi untuk apa mereka tetap bersama. Setelah kepergian Devin besok, Alula berencana akan menggugat cerai Zyandru.
Alula menatap ponselnya, ia teringat akan ponsel lamanya yang ada pada Zyandru.
Memutar otaknya kembali ke beberapa waktu belakang. Pada malam di mana Zyandru meninggalkannya di tengah jalan, Alula mendapatkan puluhan notifikasi pesan dari Princy, namun karena saat itu ia sibuk berlari dari kejaran tiga preman, Alula tak sempat untuk membuka pesan yang dikirimkan sepupunya itu.
"Aku harus cari"
Sementara itu, Zyandru saat ini tengah meminta bantuan seseorang yang pintar di bidang IT, namun karena ponsel Alula yang tak aktif membuatnya tak bisa di lacak.
Sedangkan CCTV restoran dan sekitarnya sama sekali tak membantu. Pria itu benar-benar tak tenang memikirkan keadaan istrinya saat ini.
"Kayaknya aku tahu di mana kak Alula"
Tanpa menunggu waktu lagi, Zyandru beserta yang lain pergi ke sebuah taman yang sering Alula dan Devin datangi jika tengah merindukan kedua orang tua mereka.
Menghembuskan napasnya panjang, Zyandru segera berlari menghampiri wanita yang hampir saja membuatnya gila itu.
Bayangan istrinya yang menghilang membuat pria itu tak bisa berpikir jernih. Zyandru tak hentinya mengucap syukur begitu dapat memeluk Alula kembali.
Bibir Zyandru yang terus saja berbicara tak Alula dengarkan, jika sebelumnya Alula merasa suara Zyandru lebih indah dari musik apapun, sekarang tidak lagi. Telinga Alula seolah tertutup, dirinya lebih fokus memandang mata suaminya itu.
Tatapan penuh cinta Alula rasakan dari mata Zyandru, namun tak lagi membuat hatinya berdebar seperti biasanya. Bahkan usapan lembut di wajahnya tak lagi membuat Alula merasa dicintai.
Semuanya hanyalah kebohongan yang disusun sebagus mungkin oleh Zyandru, kebohongan yang membuat Alula merasa menjadi orang paling bodoh di dunia.
...***...
Malam harinya, di kediaman Avior tampak beberapa orang tengah berkumpul mengelilingi meja makan dengan hidangan yang juga memenuhi meja.
Setelah kejadian yang menimpanya siang tadi, Alula bersikap seolah tak pernah terjadi apapun. Wanita itu sangat hebat menyembunyikan segala lukanya.
Bahkan sikap Alula pada Zyandru tak berubah sedikitpun, perlakuan manis dan manja tetap Alula tunjukkan pada suaminya itu.
__ADS_1
Setelah makan malam, kini Zyandru, Alula, Ansell dan Devin juga Chika berkumpul di ruang keluarga. Suara tertawa pria dan wanita terdengar begitu nyaring.
"Emh nyaman banget," Ucap Alula yang saat ini tengah menyandarkan tubuhnya pada Zyandru.
Mendengar perkataan Alula, Zyandru tersenyum senang. Pria itu beberapa kali mengusap dan mencium kepala istrinya yang senantiasa harum seperti biasa.
Melihat pemandangan di depannya, Devin bisa bernapas lega. Setidaknya Alula menikahi pria yang tepat dan membuatnya tak perlu khawatir meninggalkan kakaknya itu.
Begitu pula yang dirasakan Ansell, pria itu tahu semua masalah rumah tangga keduanya, dan dibalik semua cobaan yang datang, Zyandru dan Alula berhasil melewati semuanya.
Berbeda dengan Chika, gadis itu tahu Alula tengah menahan semua rasa sakitnya. Bibirnya memang menunjukkan senyuman, namun tidak dengan hatinya.
Chika merutuki dirinya sendiri yang tak bisa membantu Alula sedikitpun, padahal Alula sudah memberikan banyak hal di hidupnya.
Usai dengan perkumpulan mereka, kini Alula dan Zyandru sudah berada di kamar mereka, begitupun dengan Devin yang sudah merebahkan tubuhnya di kamar tamu. Sedangkan Chika dan Ansell sudah kembali ke apartemen mereka masing-masing.
Tak seperti biasanya yang akan memeluk Zyandru jika tidur, kini Alula malah memunggungi suaminya itu. Zyandru yang tak merasa curiga sedikitpun lantas memeluk istrinya itu dari belakang.
"Sayang... "
Suara Zyandru terdengar mulai memberat, menyingkirkan rambut Alula, Zyandru menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya.
Alula tentu mengerti akan hal itu, wanita itu segera menahan tangan Zyandru yang akan berbuat lebih. Membalikkan tubuhnya, Alula membuat Zyandru khawatir saat itu juga.
Lampu kamar yang belum sempat mereka matikan, menjadikan Zyandru melihat dengan jelas wajah Alula yang sedikit pucat.
"Kita ke rumah sakit ya?"
Alula menggeleng kecil sebagai jawaban. "Aku gak sakit kok, cuma butuh tidur aja."
Menelusupkan kepalanya di dada Zyandru, Alula membuat suaminya itu dengan mudah memeluk dan mencium keningnya.
...***...
Aku kalah telak bahkan sebelum mulai bersaing, salahkah jika aku tetap mencintainya bahkan setelah aku sadar aku tak pernah sedikitpun mengisi hatinya.
Maafkan aku yang dengan tanpa malunya memeluk pria yang kamu cintai, namun mau bagaimana lagi jika aku juga mencintainya. Mengapa harus pria yang sama dan mengapa rasanya sesakit ini Tuhan.
Tidak mungkin pula aku bertahan jika cintanya saja untuk orang lain. Kupastikan ini akan jadi yang terakhir, kalian bisa bersama kembali setelah kepergianku nanti.
__ADS_1
^^^Alula Zayana ^^^