Blind Husband

Blind Husband
Blind 44


__ADS_3

Melihat salah seorang preman itu menunduk sambil memegangi matanya, Alula menjadikan situasi ini sebagai kesempatan baginya. Dengan melepas sebelah heelsnya yang lain, Alula berlari sekencang-kencangnya, namun ketiga preman tersebut tak tinggal diam, mereka semua mengikuti Alula.


Alula menyalakan ponselnya dan beberapa kali mencoba menghubungi satu nama yaitu Zyandru.


"Zyandru aku mohon angkat, demi tuhan aku takut. Aku mohon sekali ini aja tolong aku!"


Rasa takut dan cemas bercampur jadi satu hingga membuat kulit Alula mengeluarkan keringat dingin. Tangannya pun sudah gemetar tak karuan.


Do'a meminta perlindungan tak hentinya Alula ucapkan dalam hati, berharap ada keajaiban yang bisa menolongnya.


Salah seorang preman yang masih memegang botol minuman, melempar botol kaca tersebut ke arah Alula.


Pranggg !!!


Alula menoleh dan melihat botol tersebut pecah berkeping-keping di aspal, hampir saja mengenai kaki mulusnya.


Tak mempedulikan telapak kakinya sudah terluka akibat berlari, Alula melihat sebuah jalan menuju pemukiman warga, segera ia mengikutinya.


Bugh!!!


"Akhh shh" Alula tersungkur jatuh merasakan ngilu pada punggungnya, sebuah balok berukuran sedang menjadi senjata para preman itu.


"T–tolong uhuk uhuk"


"Apa? tolong? setelah lo buat mata gue jadi begini." Preman dengan mata merah karena darah itu mencengkeram kuat wajah Alula dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya digunakan untuk menjambak rambut Alula.


"Saya minta maaf, saya akan bawa anda ke rumah sakit, saya yang akan menanggung semua pengobatan anda. Tapi saya mohon lepaskan saya, saya mau pulang. Tolong!"


Alula menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menangis memohon dengan sangat.


Ketiga preman itu meneliti Alula dari atas sampai bawah, tatapan mereka berhenti tepat pada kalung yang yang menggantung di leher Alula.


"Heh! dari penampakannya aja orang kaya" ucap salah satu preman dengan bawah mata memerah karena terlalu banyak minum.


"Tapi kita gak mau duit, kita maunya tubuh lo nona cantik. Akh sial gue udah gak tahan!" preman yang lain mengambil Alih tubuh Alula dan merobek paksa pakaiannya.


Alula tentu tak terima, wanita itu terus memberontak, namun tak membuat preman itu menghentikan aksinya.

__ADS_1


Plak! Plak! Bugh!


Dengan tanpa berperasaan ketiga preman itu memukul bahkan membenturkan kepala Alula hingga mengeluarkan darah seketika.


Alula menjadi samsak hidup bagi ketiga pria yang begitu menginginkan tubuhnya.


Ketiga preman itu berhenti setelah melihat Alula tersungkur lemah di tanah. Tak mempedulikan wanita itu hampir pingsan, ketiga preman itu kompak menurunkan celana mereka dan berdebat untuk siapa yang lebih dulu memperkosa Alula.


"Zyandru tolong" lirih Alula di tengah-tengah siksaan yang terus menimpa dirinya.


"Hahaha, gak bakal ada yang nolongin lo. Kali ini lo gak bisa lari lagi, akhirnya gue bisa menuntaskan hasrat gue." ucap salah satu preman yang mulai mendekati Alula.


"Heh! enak aja, gue duluan!" cegah preman dengan rantai kecil di saku celananya.


"Apa-apaan lo? pokoknya gue duluan!"


"Gue yang duluan, dia buat mata gue jadi begini. Jadi gue yang pertama menikmati dia!" pria dengan mata kiri yang terluka itu menggertak yang lain.


Melihat mereka sibuk berdebat, Alula yang sejak tadi hanya diam, akhirnya mulai menjalankan rencananya yang sejak tadi ia pikiran.


Sedangkan preman yang matanya terluka, Alula pukul wajahnya menggunakan balok yang berada di dekatnya.


"KURANG AJAR. DI BAIKIN MALAH NGELUNJAK LO!"


Tak lagi memedulikan tentang luka dan rasa sakitnya, Alula terus berlari tak berani melihat ke belakang. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya ia bisa melarikan diri dari ketiga preman itu.


Ya tuhan tolong hamba.


Cukup lama Alula berlari, hingga tak menyadari bahwa para preman itu tak ada di belakangnya. Alula keluar dari perkampungan dan kembali melihat jalan raya.


Alula merasa tak asing dengan jalan ini, ia seperti pernah melewatinya namun ia sendiri tak yakin. Ah, sudahlah, daripada tertangkap preman itu lagi, lebih baik mengikuti jalan ini. Pikir Alula.


Berjalan tanpa Alas kaki, tanpa ponsel dan tasnya entah kemana, dengan keadaan yang tak bisa di bilang baik-baik saja, Alula kembali menangisi nasibnya.


"Akhh" Alula terduduk di pinggir jalan, tubuhnya tak sanggup lagi, bahkan untuk sekedar bernapas saja rasanya sangat berat.


Air mata tak hentinya keluar dari mata indah itu, isak tangis terdengar begitu menyayat hati.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang membuat Zyandru melakukan hal ini terhadapnya. Beberapa waktu lalu suaminya itu meminta maaf bahkan mengatakan hal yang membuat Alula melayang tinggi.


Alula pun telah memberikan cinta dan kepercayaan penuh pada Zyandru, namun sekarang Zyandru kembali membuat Alula jatuh sedalam mungkin. Wajarkah kalau Alula menyesal.


Semakin sayang tuhan pada hambanya, semakin banyak pula cobaan yang akan di berikan. Mungkinkah tuhan terlalu sayang terhadap Alula hingga tak pernah seharipun hidupnya tanpa masalah.


Kali ini Alula sungguh lelah, bahkan sangat. Kapan tuhan akan menurunkan kebahagiaan untuknya.


Alula mengangkat kepalanya. Langit begitu beruntung di penuhi dengan indahnya bintang, sangat berbeda dengan hidupnya yang di penuhi penderitaan.


"Bangun Alula" gumam wanita itu dan kembali menapaki kakinya. Terus berjalan hingga hampir satu jam lamanya, Alula yang sudah berada di depan gerbang sebuah rumah malah dibuat bimbang. Entah harus senang atau sedih, ia kembali ke rumah ini dan pasti akan melihat suaminya nanti.


Hari sudah semakin malam, Alula bahkan tak tahu jam berapa sekarang. Ingin rasanya pergi ke tempat lain namun Alula terlalu takut. Bayangan dirinya yang hampir dilecehkan terus membayangi kepalanya.


Mendengar suara mobil, secara tak sadar Alula berteriak ketakutan hingga menggedor gerbang rumahnya sendiri.


"Tolong, tolongin saya. Buka!"


Gerbang terbuka dan menampilkan pria paruh baya dengan wajah seperti bangun tidur.


"Ya Allah Gusti, nyonya Alula! nyonya habis dari mana? kenapa nyonya seperti habis di pukul begini nyonya?"


"P–pak Mun!" wajah penuh ketakutan Alula membuat pria paruh baya itu di depannya itu begitu khawatir.


"Nyonya kenapa?"


"Tolongin saya, m–mereka jahat" Alula berbicara dengan terbata-bata hingga sulit di mengerti.


"Sekarang nyonya masuk dulu ya! saya bantu" dengan sangat hati-hati, pak Mun merangkul tubuh Alula hingga ke depan pintu.


Kenapa nyonya bisa ada di luar, bukannya tadi nyonya udah pulang sama tuan. Kenapa keadaan nyonya seperti ini, masalah apalagi yang menimpa rumah tangga mereka.


Pria paruh baya itu ikut menangis tak kuat melihat keadaan Alula yang begitu menyedihkan.


Dengan lemah Alula memasukkan kode pada pintu dan membukanya lebar-lebar, keadaan rumah yang gelap tak Alula pedulikan. Ia hanya ingin berbaring barang sebentar saja.


"Dari mana kamu? habis jual diri hah!"

__ADS_1


__ADS_2