
Di rumah sakit, sejak kondisinya tak terkendali akibat Zyandru pagi tadi, Alula terus saja diam tak mengeluarkan suara sedikitpun, bahkan gerakannya pun terbatas.
Tatapan wanita itu nampak kosong. Setiap ada dokter atau perawat yang mengajak bicara, Alula tak merespon sama sekali.
Bagai sebuah manekin yang bernapas, raganya masih hidup, namun jiwanya sudah mati. Mungkin itu kata-kata yang cocok untuk menggambarkan kondisi Alula saat ini.
Sebenarnya Alula mendengar semua ucapan yang ada disekitarnya. Namun Alula merasa seperti ada tali yang mengikat dan menahan suaranya, hingga ia tak bisa menjawab.
Ketika sendiri, Alula terus mendengar suara yang entah dari mana asalnya. Otaknya terlalu berisik hingga ia sendiri pun tak bisa mengendalikannya.
Padahal ia tak melakukan aktivitas apapun, namun entah mengapa Alula merasa sangat lelah, terutama batinnya.
Alula memang merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, namun ada yang lebih sakit tapi anehnya wanita itu tak tahu di mana letak pastinya.
Ingin rasanya Alula pergi ke tempat yang begitu jauh, tempat di mana tak ada satupun orang yang mengenalnya. Setelah itu menghabiskan sisa hidup seolah tak memiliki masa lalu.
Terdengar suara pintu terbuka di iringi suara wanita yang menyapa. Alula hanya diam tak ada niat menjawab bahkan menoleh.
Perawat tersebut menghampiri Alula dengan membawa nampan berisi makanan. Sebenarnya ini kali ketiga perawat tersebut datang dan meminta Alula untuk makan, namun Alula terus saja menutup rapat mulutnya.
"Bu Alula, makan ya? Sedikit aja, setelah itu minum obat. Yuk bu!" Dengan sangat lembut, perawat wanita yang lebih muda darinya itu menyodorkan sendok berisi makanan. Namun lagi dan lagi Alula tak ingin membuka mulutnya.
Sekali lagi, perawat tersebut menyodorkan makanan, kali ini Alula menggerakkan kepalanya beralih ke arah lain sebagai tanda menolak. Wanita itu seperti tak memiliki rasa lapar.
...***...
__ADS_1
Isak tangis masih terdengar memenuhi ruangan Zyandru sejak beberapa waktu lalu. Setelah Ansell pergi, Zyandru tak dapat lagi menahan air matanya.
Zyandru membawa otaknya untuk kembali mengingat masa lalu. Sebagai bentuk tanggung jawab, sang ayah pernah memintanya untuk mencari dan selalu menjaga anak perempuan yang ia tabrak.
Zyandru yang saat itu masih berumur 13 tahun, hanya mengiyakan ucapan sang ayah.
Begitu mengetahui Princy adalah anak perempuan tersebut, Zyandru senang bukan main. Bagaimana tidak, anak perempuan yang selama ini ia cari adalah wanita yang membuatnya merasakan apa itu cinta pandangan pertama.
Namun sekarang, Zyandru kembali dijatuhkan dengan fakta yang begitu terikat di hidupnya.
Wanita yang seharusnya ia lindungi sejak dulu adalah Alula, istrinya sendiri, bukanlah Princy. Princy adalah wanita yang begitu licik, entah apa yang ia pikirkan hingga tega mencelakai sepupunya sendiri.
Zyandru merasa kebenciannya pada Princy meningkat dengan cepat. Di satu sisi ia begitu dendam dengan perlakuan jahat yang Princy lakukan pada Alula, namun di sisi lain, Zyandru merasa harus berterima kasih pada Princy. Berkat kejadian itu, Zyandru menemukan cinta sejatinya, yaitu Alula.
Tuhan menciptakan makhluknya berpasangan-pasangan, mereka akan di pertemukan dengan cara yang sudah direncanakan. Mungkin ini cara Tuhan menjodohkan Zyandru dan Alula.
Napas Zyandru kembali terengah mendengar kabar dari perawat Alula yang mengatakan istrinya itu tak mau makan.
Zyandru melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, namun belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke mulut Alula sejak pagi.
"Apa saya bisa berbicara dengan istri saya?" Tanya Zyandru. Pria itu tak tahan ingin sekali mendengar suara istrinya walau hanya satu dua kata.
"Tapi hanya suara, saya tidak akan menampilkan wajah saya. Saya mohon sekali ini saja!" Zyandru terdengar menurunkan nada bicaranya.
Meski awalnya terus melarang, akhirnya para perawat dan dokter mengizinkan Zyandru berbicara dengan pasien mereka.
__ADS_1
"Bu Alula, ada seseorang yang ingin berbicara," Ucap dokter. Dengan mendekatkan ponsel di telinga Alula, para dokter dan perawat membiarkan suami istri itu berkomunikasi.
Zyandru yang tak lagi mendengar suara, lantas mulai berbicara. "Sayang, Alula."
Alula yang merasa tak asing dengan suara ini, langsung mengangkat kelopak matanya begitu saja.
"Aku dengar kamu belum makan ya? Kenapa, hm? Aku tahu makanan rumah sakit tuh gak enak, tapi kamu harus tetap makan! Walaupun kamu terus menolak, tapi tubuh kamu pasti gak bisa bohong, perut kamu butuh di isi. Makan ya sayang!"
Zyandru yang tak ingin trauma Alula kembali terulang, langsung memutuskan panggilannya setelah memberikan kalimat yang begitu menenangkan untuk istrinya.
Alula terdiam dengan perasaan yang tak bisa digambarkan. Alula akui dirinya memang trauma terhadap laki-laki, entah itu melihat langsung atau hanya mendengar suara. Namun itu tak berlaku bagi Zyandru.
Aneh memang, namun itulah yang Alula rasakan. Saat dirinya melihat Zyandru pagi tadi, sebenarnya Alula tak merasa takut seperti yang ia rasakan pada dokter pria yang menanganinya. Justru saat melihat Zyandru, ada rasa tenang yang Alula dapatkan.
Alula sebenarnya berpura-pura takut melihat Zyandru hanya karena ingin menjauh dari suaminya itu.
Ingin sekali rasanya membenci, memukul, mencaci maki bahkan membunuh Zyandru, namun Alula tak bisa. Di hatinya, terdapat satu bagian kecil yang menolak untuk melakukan itu semua.
Alula lelah selalu memahami dan memaafkan segala perbuatan Zyandru. Namun sekali lagi, hatinya tak pernah lelah untuk mencintai suaminya itu.
Lemah, seperti itulah Alula jika sudah dihadapkan dengan Zyandru. Alula berpikir mungkinkah pergi dari Zyandru adalah cara terbaik, tapi bagaimana caranya ia bisa pergi sedangkan kondisinya seperti ini. Lagipula Zyandru memasang banyak pengamanan yang membuatnya makin sulit.
Tak berbeda jauh dengan Alula, Zyandru pun merasakan hal yang sama. Pria itu sadar cintanya pada istrinya semakin lama semakin dalam. Namun di sisi lain, Zyandru juga berpikir kebencian Alula terhadap dirinya sudah dipastikan sangat besar pula.
Jauh dari Alula membuat Zyandru tak bersemangat melakukan apapun. Padahal mereka tidak bertemu baru beberapa jam saja, namun Zyandru merasa seolah kehilangan separuh nyawanya.
__ADS_1
Bagi Zyandru, Alula adalah penguat hidupnya. Namun bagi Alula, Zyandru adalah penghancur hidupnya.
Mereka adalah racun sekaligus penawar bagi satu sama lain.