Blind Husband

Blind Husband
Blind 75


__ADS_3

Alula menoleh begitu mendengar rintihan Zyandru. Yang Alula tahu, ucapan setiap orang mabuk adalah kejujuran, apakah yang dikatakan Zyandru itu memang benar adanya.


"Sebenarnya yang kamu cinta itu aku atau Princy, Zyandru?"


Dengan bersusah payah, Alula membangunkan tubuhnya. Baru saja akan melangkah, Alula langsung terjatuh saat itu juga. Tangis kembali mengiringi begitu merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.


Jangankan untuk berjalan, bergerak sedikit saja rasanya sangat sakit, seluruh anggota tubuhnya seakan remuk redam. Tak ingin menyerah, Alula kembali bangkit dan berjalan tertatih menuju kamar mandi.


Alula memejamkan matanya begitu tubuhnya sudah sepenuhnya masuk ke dalam bathtub. Berendam air hangat dapat sedikit meredakan rasa sakit di tubuhnya.


Sekian waktu Alula butuhkan untuk berendam, wanita itu keluar dengan rambutnya yang basah dan bathrobe yang menutup tubuhnya.


Melihat Zyandru yang masih menutup matanya, Alula yang sangat ingin merebahkan tubuhnya, malah takut kejadian tersebut kembali terulang.


Alula memilih melangkahkan kakinya keluar berniat menuju ke kamar tamu, sayangnya hal itu tak semudah yang ia bayangkan. Dengan berpegangan pada tembok, Alula berjalan perlahan dan membutuhkan waktu cukup lama hingga benar-benar sampai di salah satu kamar tamu.


...***...


"Shh Arghh! Alula, kepala aku sakit"


Zyandru yang belum membuka sedikitpun matanya itu malah menyebut nama istrinya menunggu usapan lembut di kepalanya seperti yang setiap pagi ia dapatkan.


Zyandru sontak melebarkan matanya begitu merasakan perutnya bergejolak tak karuan. Pria itu lompat dari tempat tidurnya kemudian berlari ke kamar mandi.


Menunduk di depan kloset, Zyandru hanya memuntahkan cairan alkohol sisa semalam. Perut dan tenggorokannya terasa begitu panas dan perih seperti terbakar.


Menatap dirinya sendiri, Zyandru begitu heran ketika menyadari dirinya benar-benar polos tanpa ada sehelai benang pun yang menutup tubuhnya. Sayang dirinya tak dapat mengingat apapun.

__ADS_1


Merasakan tubuhnya yang terasa begitu lengket, Zyandru memilih mandi. Berdiri di bawa kucuran shower, potongan-potongan kecil tentang kejadian semalam mulai mulai mendatangi kepala Zyandru.


Selesai dengan mandinya, Zyandru keluar dengan handuk putih melilit tubuh bagian bawahnya. Nama sang istri tak hentinya keluar dari mulut Zyandru.


Beralih ke ruang ganti, Zyandru begitu terkejut ketika membuka lemari yang hanya ada pakaiannya saja. Membuka semua bagian lemari, Zyandru menemukan beberapa kotak perhiasan yang ia berikan untuk Alula. Tak jauh dari sana terdapat sebuah koper berwarna hitam.


Wajahnya seketika berubah panik begitu mengingat seluruh kejadian semalam. Keluar dari ruang ganti, Zyandru melihat pakaiannya dan dress Alula yang sudah tak berbentuk berserakan di sekitar tempat tidur mereka.


"ALULA, JANGAN BUAT AKU TAKUT!"


Berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa, Zyandru tak hentinya memanggil nama Alula. Dengan keadaan bagian atas yang polos dan hanya memakai celana santai pendek, Zyandru berlari mengelilingi lantai dua.


Beralih ke lantai satu, Zyandru menemui para pelayannya yang sibuk di dapur dan langsung menanyakan apakah masing-masing dari mereka ada yang melihat Alula.


"Maaf tuan muda, sejak tadi kami belum lihat nyonya muda." Jawab bi Asri mewakili kedua pelayan yang lain.


Mendengar hal tersebut Zyandru berpikir kemungkinan Alula tak pergi keluar dari mansion ini. Kembali menaiki tangga, Zyandru mencoba kembali mengecek seluruh ruangan di lantai dua.


Wajah yang begitu pucat, matanya yang sembab, serta bibir tipis itu terlihat membengkak akibat ulahnya.


Zyandru mendekat dan dapat dirinya rasakan napas Alula terdengar berat. Perhatian Zyandru teralihkan pada tanda merah yang memenuhi leher dan area dada bagian atas Alula yang tak tertutup.


Kembali mengingat kejadian semalam, Zyandru tak dapat lagi menahan air matanya. Dirinya begitu kasar saat menggagahi Alula, bahkan saat Alula menangis dan berteriak penuh kesakitan, Zyandru tetap tak mendengarkan.


Menguatkan hatinya untuk kembali menatap wanita yang menjadi sumber kebahagiaannya, Zyandru memberanikan diri mengusap rambut tergerai Alula yang belum sepenuhnya kering.


"Sayangku... Cintaku... Pemilik hatiku. Maafkan aku yang telah menorehkan banyak luka padamu. Hidupku tidak akan berarti apa-apa tanpa hadirmu, kebahagiaanku ada pada dirimu, aku mencintaimu Alula Zayana. Pergilah, jemput kebahagiaanmu yang tak pernah bisa kuberi."

__ADS_1


Zyandru kembali menunduk tak kuasa untuk melanjutkan ucapannya, sementara Alula perlahan membuka matanya ketika merasakan tangan yang berada di kepalanya bergetar tak karuan.


"Jika memang perpisahan adalah jalan yang terbaik, maka aku akan melepaskanmu Alula. Meski kutahu itu sangat menyakitkan untukku, namun aku rela jika itu menyangkut kebahagiaanmu."


Usapan di wajahnya membuat tangisan Zyandru berhenti seketika, jari telunjuk itu mengusap lembut wajahnya. Perlahan, tangan mungil itu berhasil menghapus seluruh air di wajahnya.


"Kamu memintaku pergi tapi kamu malah menangis seperti ini"


Tangis dan teriakan yang Alula keluarkan semalam, membuat suaranya hampir habis.


"Kalau aku bilang jangan pergi, apa kamu akan menurutinya Alula?"


Bukannya menjawab, Alula malah memberikan senyuman manis yang sayangnya membuat Zyandru mendesah pasrah.


"Kita bicara nanti ya? Aku ngantuk banget, boleh aku tidur?"


Zyandru yang kembali menangis itu menangguk dengan cepat, pria itu menarik selimut yang sejak tadi tak menutup tubuh Alula. Membiarkan istrinya yang terlihat begitu lelah memejamkan matanya.


Bola mata Zyandru terlihat bergerak ke kanan dan kiri, pria itu seketika menjadi terkejut dengan jalan pikirannya. Zyandru bangkit kemudian keluar dan tak lama kembali dengan membawa ponselnya.


Zyandru memilih posisi duduk di lantai, lebih tepatnya di samping tempat tidur. Zyandru terlihat mengetik sesuatu pada layar ponselnya, beberapa detik kemudian munculah beberapa artikel.


Yang Zyandru tahu, Alula memiliki siklus menstruasi teratur. Zyandru kembali mengingat kapan terakhir kali Alula menstruasi. Jika dihubungkan dengan artikel yang ia baca saat ini, itu artinya Alula dalam masa subur.


"Ya tuhan"


Meremas rambutnya yang sedikit basah, Zyandru kembali mencari artikel lain dan menemukan waktu yang tepat untuk mengecek kehamilan adalah dua minggu setelah terlambat menstruasi.

__ADS_1


Melihat wajah Alula yang berada tepat di samping kanannya, Zyandru tak tahu bagaimana harus bersikap sekarang.


Jika memang Alula akan hamil nanti, tentu ia senang, namun bagaimana reaksi Alula, apa istrinya itu juga akan senang atau justru menolak, secara mereka melakukannya karena sebuah insiden.


__ADS_2