
"Ssshhhh!" Zyandru mendesis merasakan kepalanya yang pusing, membuka kelopak matanya yang masih lengket, Zyandru merasakan sebuah kehangatan di pipi kirinya, ternyata di sana ada tangan Alula.
Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Zyandru mengangkat tangan Alula dan membawanya untuk dikecup beberapa kali.
Melihat tangan Alula yang memerah, Zyandru berpikir tangan istrinya pasti kebas karena ia tindih.
Rasa sesak yang semalam Zyandru rasakan, hilang ketika merasakan sebuah usapan lembut di kepalanya. Zyandru sempat membuka sedikit matanya dan melihat seperti ada bayangan sang ibu.
"Pasti gak nyaman tidur begini" gumam Zyandru kemudian membangunkan tubuhnya. Dengan sangat hati-hati Zyandru mengangkat tubuh sang istri dan membawanya menaiki tangga.
Setelah membaringkan Alula, Zyandru melirik jam, dilihatnya waktu masih menujukan pukul 4 pagi, itu artinya Zyandru baru tidur kurang dari dua jam.
"Masih jam segini, mending lanjut tidur"
Zyandru menyusul Alula ke dalam selimut, di peluknya raga yang beberapa hari ini jauh darinya.
Merasakan sesuatu melingkar di perutnya, Alula memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Zyandru yang ia kira bantal.
Setelah beberapa jam tertidur, suami istri itu membuka mata bersama, posisi mereka yang saling memeluk menjadikan wajah satu sama lain pemandangan pertama mereka.
Alula yang masih belum sepenuhnya sadar memberikan senyuman manisnya dan mengeratkan pelukannya. Tapi itu tak berlangsung lama, ketika Alula merasakan aroma tubuh Zyandru, ia langsung membulatkan matanya kemudian mendorong tubuh Zyandru.
"Kok gue disini?" gumam Alula dengan suara kecil.
"Semalam kamu tidur di lantai, aku pikir pasti gak nyaman, jadi aku bawa kamu kesini"
Alula menoleh dan mendapati Zyandru tengah menatapnya dengan wajah datarnya.
Tak ingin menjawab perkataan Zyandru, Alula lantas menurunkan tubuhnya dari tempat tidur kemudian berjalan ke kamar tamu.
"Gue tidur di lantai juga karena tangan gue ditahan dia" kesal Alula.
...***...
Seorang pria berjalan memasuki perusahaan dengan gagahnya, di belakang terlihat ada asistennya, seperti biasa saat berjalan beberapa karyawan akan menyapa dirinya.
Wajah yang terlewat tampan, tubuh tinggi atletis, tatapan mata tajam yang begitu mengintimidasi. Tidak heran jika banyak wanita yang begitu menggilai seorang Zyandru Avior.
Beberapa orang tentu iri dengan fisik Zyandru yang sempurna, namun ada juga yang menyayangkan karena keadaannya yang tidak bisa melihat.
__ADS_1
Namun pagi ini tidak seperti biasanya, semua karyawan tak berkedip ketika melihat Zyandru berjalan, bukan hanya karena terpesona dengan CEO muda itu, melainkan juga karena Zyandru yang berjalan tanpa bantuan tongkat seperti biasanya.
Pria itu berjalan dengan penuh percaya diri, yang tak kalah membuat terkejut adalah, untuk pertama kalinya Zyandru tersenyum bahkan membalas sapaan para karyawan, hal yang tak pernah dilakukan Zyandru sebelumnya.
Tak memedulikan tatapan penuh heran yang di tujukan padanya, Zyandru tetap berjalan menuju ruangannya.
"Semuanya sudah siap kan Ansell?"
"Sudah tuan"
Alula yang baru saja sampai mendengar semua karyawan tengah membicarakan Zyandru. Sebenarnya tak perlu heran, karena hal seperti ini terjadi setiap hari bahkan setiap saat.
Saat akan menaiki lift, seorang wanita menarik tangan Alula hingga membuatnya hampir saja terjatuh. Dilihatnya Yola terengah-engah dengan ekspresi yang Alula pun tak mengerti.
"Kenapa tarik-tarik gitu sih kak?" tanya Alula sedikit kesal.
"Pak–pak Zyandru! astaga aku bisa gila, bos kita pak Zyandru Alula!" ucap Yola terbata-bata.
"Ya ampun, kak Yola tiba-tiba narik aku sampe bikin aku hampir jatuh cuma mau ngomong ini? tanpa di kasih tau aku juga udah tau sendiri kak!"
"Kamu udah tau kalau pak Zyandru itu bisa lihat?" tanya Yola yang sudah mulai tenang.
"Iya, satu kantor lagi heboh karena pak Zyandru itu bisa melihat, tadi waktu jalan dia baik-baik aja tanpa tongkat ataupun bantuan dari pak Ansell. Bahkan tadi saat naik lift, pak Zyandru sendiri yang ngatur lantainya" jelas Yola panjang lebar membuat Alula terdiam.
"Alula duluan ya kak, tugas numpuk" tanpa menunggu jawaban Yola, Alula lantas pergi meninggalkan teman kantornya itu.
Keluar dari lift, Alula berjalan tergesa-gesa menuju ruang CEO berada, tanpa mengetuk pintu lagi, Alula langsung masuk.
Zyandru dan Ansell saling tatap ketika melihat Alula ngos-ngosan seperti habis berlari.
"Pak" lirih Alula yang masih berada di depan pintu.
"Kenapa Alula? kamu habis dari mana?" tanya Zyandru sambil berjalan menghampiri istri sekaligus sekertarisnya itu.
Brak
Alula menutup pintu dengan kencang hingga membuat Zyandru dan Ansell terlonjak kaget.
"D–di bawah M–mereka, karyawan akhhh" Alula tidak dapat melanjutkan ucapannya saking lelahnya.
__ADS_1
"Sini duduk dulu" Zyandru membawa Alula ke sofa dan memberikan air mineral untuk istrinya itu.
Setelah menenggak habis air itu, Alula kembali memasang wajah serius. "Para karyawan ngomongin bapak, katanya pak Zyandru jalan tanpa tongkat"
"Oh"
"Kok 'oh' doang sih pak, mereka tahu pak Zyandru bisa lihat! emang pak Zyandru gak takut? Nanti kalau–"
Ucapan Alula terhenti dengan Zyandru yang meletakkan jari telunjuknya di bibir Alula yang terus mengoceh.
"Aku sengaja Alula, karena hari ini aku mau menjalankan rencana aku sama Ansell"
"Maksudnya pak Zyandru mau orang-orang tahu kalau pak Zyandru itu gak buta?" Alula beralih menatap Ansell, kedua pria itu sama-sama menganggukkan kepalanya.
"Kok gitu? terus maksudnya rencana pak Zyandru sama pak Ansell itu apa? kalian masih curiga sama saya? mau ngejebak saya lagi gitu? kan udah saya bil–"
Cupp
Ucapan Alula kembali terhenti, kali ini Zyandru menghentikannya menggunakan bibirnya sendiri. Ya, Zyandru mengecup bibir Alula singkat.
"Kenapa? masih mau ngoceh lagi? ayo ngomong, biar aku habisin bibir berisik kamu itu!"
Alula memberikan tatapan tajamnya pada Zyandru, melihat Ansell yang tengah menahan senyumnya, Alula jadi malu sendiri.
"Dari pada kamu ngelantur gak jelas, mending sekarang ikut kita ke ruang meeting!" Zyandru menggenggam tangan Alula.
"Emang sekarang ada meeting ya pak? kok saya gak tahu! di jadwal juga gak ada!" Alula menghentikan bicaranya dan menutup mulut dengan tangannya kala Zyandru menatapnya.
"Apa? mau lagi?" tanya Zyandru mengancam membuat Alula seketika menggeleng.
"Ini rapat dadakan, ya kan Ansell!"
"Iya Alula, saya yang siapin rapat ini" ucap Ansell meyakinkan.
Tanpa menunggu waktu lagi, Zyandru menarik tangan Alula dan membawanya ke ruang rapat. Alula dibuat semakin heran ketika melihat hanya ada Baskoro, Revaz dan juga Nindy yang duduk berderet.
Sebenarnya ini rapat apa, kenapa cuma ada mereka bertiga. Alula hanya bisa bertanya dalam hatinya, karena takut Zyandru kembali menciumnya.
Baskoro dan Revaz memicingkan matanya, tentu mereka mendengar gosip pagi ini. Tak menyangka jika selama ini Zyandru hanyalah bersandiwara.
__ADS_1
"Kamu bisa lihat Zyandru?"