Blind Husband

Blind Husband
Blind 28


__ADS_3

Sebuah rumah yang dihiasi tanaman di sekelilingnya tampak lengang seperti biasa.


Air kolam renang tampak begitu tenang, sangat berbeda dengan isi pikiran seorang wanita yang saat ini tengah duduk merenung.


Kepalanya terus memutarkan suara dan bayang-bayang yang begitu mengganggu. Hatinya berkecamuk resah, ingin rasanya mengutarakan isi hatinya namun diam menjadi pilihannya.


Duduk dengan memeluk lututnya, pandangan matanya lurus dengan tatapan kosong. Surai panjangnya mengikuti irama angin yang berhembus.


Rasa sakit yang masih terasa di wajahnya, sama sekali tak ia rasakan. Bahkan lukanya pun belum diobati.


Setelah pertengkarannya dengan Zyandru tadi, Alula memilih meninggalkan Zyandru tanpa memedulikan permintaan maaf pria itu. Bahkan Alula meninggalkan ponselnya, tak peduli jika Zyandru menghapus video yang ia rekam.


Alula kembali memikirkan kekerasan yang kembali di lakukan Zyandru, tiba-tiba saja nama sang ayah terlintas begitu saja.


Jika tidak bisa membawa kebahagiaan dan hanya memberikan sakit, Mengapa cinta harus tumbuh di hatinya.


"Sebenarnya apa tujuan pernikahan ini"


Alula mendongak menatap langit, menahan agar air matanya tidak tumpah. Namun Alula tidak sekuat itu, pertahanannya runtuh saat itu juga.


Zyandru yang sejak tadi memperhatikan Alula dari balkon kamar mereka, tentu melihat tangis sang istri. Rasa penyesalan itu ada, namun tak membuat Zyandru sadar.


Pikiran tentang Alula yang menjadi kaki tangan Baskoro dan Revaz kembali hinggap di pikiran Zyandru, apalagi dengan ancaman Alula sebelumnya.


Zyandru mengambil ponsel Alula di lantai, layar ponselnya retak, Zyandru melihat video yang Alula rekam, ternyata istrinya itu sudah merencanakan ini semua.


Entah sejak kapan Alula mulai curiga mengenai matanya, Zyandru pun tak tahu.


Helaan napas terdengar dari pria tampan itu, "silakan kalau kamu mau membenci aku, aku memang pantas menerimanya"


...***...


Sekian waktu yang Alula butuhkan untuk melamun, hingga tak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya.


"Nyonya"


Sekali dua kali, hingga panggilan ketiga pun tak mendapat jawaban, pria paruh baya yang bekerja sebagai sopir sekaligus penjaga rumah itu memberanikan diri menepuk bahu majikannya.


"Maaf mengganggu nyonya, di dalam tuan Zyandru dan tuan Ansell menunggu nyonya, katanya mau bicara hal penting"


"Pak mun" panggil Alula dengan suara sangat pelan.


"Iya nyonya"

__ADS_1


"Apa pak mun punya anak perempuan?"


"Punya, dia tidak tinggal di kampung sama istri saya, memangnya kenapa nyonya?"


"Anak pak mun umur berapa?"


"20 tahun nyonya"


"Belum menikah ya?" pertanyaan Alula seolah tak ada habisnya.


"Belum nyonya"


"Nanti kalau dia udah mau menikah, pak mun harus pilih laki-laki yang benar-benar menyayangi dia, jangan sampai dapat laki-laki yang kasar, harus seleksi dengan ketat ya!" ucap Alula kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Pak mun masih terpaku dengan perkataan Alula, sejujurnya ia pun tak tahu ada masalah apa antara kedua majikannya itu.


Melihat wajah sedih Alula, ditambah dengan sudut bibir yang terluka, membuat pak mun berasumsi rumah tangga mereka tidak baik-baik saja.


"Apa mungkin nyonya Alula sudah tahu tentang mata tuan Zyandru?, semoga nyonya Alula selalu dilindungi Tuhan"


...***...


Di ruang tamu, Alula duduk di salah satu sofa, sedangkan di hadapannya saat ini terdapat dua pria yang sama-sama menatap Alula. Tak seperti biasanya, kali ini Ansell melihat aura yang menakutkan dari Alula, membuatnya merinding sendiri.


Sedangkan Zyandru terus menatap Alula dengan mata sendu, ingin rasanya mengobati sudut bibir Alula dan menghapus jejak darah yang sudah mengering itu.


"Emm Alula, jadi kamu udah tahu kalau tuan Zyandru bisa melihat?" tanya Ansell dengan hati-hati.


"Udah"


"Sejak kapan?" kali ini Zyandru yang bertanya.


"Sejak kita pulang dari supermarket hari itu dan kamu melakukan kekerasan ke aku"


Zyandru tertegun mendengar perkataan Alula, memang dirinya gelap mata hari itu hingga ia lupa tentang sandiwaranya.


"Jadi benar kan dugaan aku" ucap Zyandru kembali dengan sikap dinginnya.


"Dugaan apa?"


"Gak usah terus berbohong Alula, kamu sudah mengungkap sandiwara aku, sekarang aku juga akan mengungkap kebohongan kamu"


"Maksud kamu apa sih, aku gak ngerti" ucap Alula dengan alis yang saling bertaut.

__ADS_1


"Kamu itu kaki tangannya om Baskoro dan Revaz kan!" ucap Zyandru yang makin membuat Alula kebingungan.


"Kaki tangan apa?"


"Gak usah berlagak bodoh Alula, om Baskoro dan Revaz berencana merebut perusahaan aku, bukan hanya Nindy, kamu juga ikut andil dalam rencana mereka kan!"


"Jadi kamu berpura-pura buta karena mau jebak mereka?" terka Alula mengasumsikan sendiri.


"Bukan hanya menjebak mereka, kamu juga!"


"Kenapa aku juga? aku gak ngapa-ngapain" ucap Alula membela dirinya.


Zyandru berdecih kemudian menoleh ke Ansell, seolah mengerti dengan tatapan sang tuan, Ansell mengeluarkan laptopnya dan menampilkan video Revaz dan Nindy yang tengah memadu kasih.


Alula memalingkan wajah saat Revaz dan Nindy saling membuka pakaian mereka. Zyandru yang melihat langsung berpindah duduk dan merangkul Alula.


"Kamu harus lihat Alula"


Zyandru memaksa Alula melihat video menjijikkan tersebut, Alula hanya bisa menutup mata sambil terus mencoba melepaskan tangan Zyandru dari bahunya.


Tak mendengarkan permintaan Alula, Zyandru tetap memaksa hingga ia merasa Alula meneteskan air mata, di saat itulah Zyandru melepaskan Alula.


Zyandru memalingkan wajah ke arah lain, entah mengapa ia merasa sakit melihat Alula menangis. Napas pria itu memburu.


"Kamu gak apa-apa Alula?" Ansell menghentikan video tersebut dan bertanya dengan sangat lembut.


"Saya gak mau lihat itu!" Alula menundukkan kepalanya


"Kenapa? cemburu lihat kekasih gelap kamu berhubungan dengan perempuan selain kamu?"


Pertanyaan Zyandru seolah-olah menusuk dada Alula dengan seribu pisau.


"Kenapa diam?, benar kan yang aku bilang, kamu kira Revaz hanya berhubungan dengan kamu tapi kenyataannya dia juga melakukannya dengan orang lain. Jawab aku Alula, kam–"


Plak


Bukan jawaban yang Alula berikan melainkan sebuah tamparan yang begitu keras hingga membuat kepala Zyandru menoleh ke samping.


"Atas hak apa kamu bilang begitu, harus berapa kali aku bilang, AKU GAK ADA HUBUNGAN APAPUN DENGAN REVAZ. Suami yang harusnya membela tapi malah memfitnah istrinya melakukan hal menjijikkan seperti itu dengan pria lain. Bahkan dengan kamu aja gak pernah Zyandru"


Alula tak ingin menangis, namun air matanya ini tak bisa diajak kerja sama.


"Justru karena kamu sudah memberikan tubuh kamu ke orang lain yang membuat aku jijik, makanya sampai sekarang aku gak pernah minta hak aku sebagai suami"

__ADS_1


Sekali lagi, Zyandru membunuh Alula hanya dengan kata-katanya, suaminya sendiri merasa jijik dengan tubuhnya.


Alula berpikir apakah perceraian adalah jalan terbaik.


__ADS_2