
"Dari mana kamu? habis jual diri hah!"
Pertanyaan tersebut terlontar dari mulut seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri. Pertanyaan yang membuat siapapun akan sakit ketika mendengarnya.
Tak memiliki tenaga untuk sekedar berbicara, Alula memilih membalikkan tubuhnya hendak pergi.
"AKU TANYA KAMU DARI MANA?" pria yang sedang duduk di sofa membelakangi sang istri kini berdiri dan membalikkan tubuhnya.
"Benar pertanyaan aku, kamu jual diri kan! Sangat menjijikan kamu Alula Zayana!"
Prok Prok Prok
Di belakang, pria itu tertawa sambil menepuk telapak tangannya beberapa kali.
"Segitu cintanya kamu sama uang sampai harus menjajakan tubuh pada pria hidung belang!"
Diam, Alula tetap diam mendengarkan kata demi kata yang menyakiti hatinya.
"Setelah aku meninggalkan kamu di pinggir jalan, pasti ada pria baru lagi kan! Kali ini siapa pria yang kamu temui? Aziel Savio? Kamu kira aku gak tahu hubungan kalian berdua. Hahahahahaha, kamu salah besar Alula, beberapa kali kamu dan Aziel bermesraan bahkan masuk ke hotel berdua. Sungguh indah hubungan kalian."
Perkataan Zyandru seolah mengalahkan semua rasa sakit di tubuh Alula.
Geram karena tak mendapat jawaban, Zyandru menghampiri Alula dan dengan paksa menarik tubuh wanita itu untuk menghadapnya.
Saking kuatnya dorongan Zyandru di bahunya, Alula sampai terjatuh ke lantai.
Melihat kondisi Alula, sontak Zyandru membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Dress indah yang sebelumnya berwarna putih polos, kini bertambah motif dengan darah dari beberapa bagian tubuh wanita cantik itu. Dress itu pun sudah tak berbentuk karena sobek di mana-mana.
Wajah lebam dengan sudut bibir berdarah, dahi terluka yang juga mengeluarkan darah. Rambutnya yang acak dan lengket karena darah dari kepala bagian samping, goresan dari lutut hingga telapak kaki. Luka cakaran yang memanjang terlihat di kedua lengannya.
Sungguh, keadaan Alula sangat berantakan saat ini. Zyandru menunduk dan mendekati wanita itu.
"A...Alula" lirih Zyandru tak tega melihat keadaan sang istri.
Perlahan Zyandru membelai wajah cantik yang dihinggapi beberapa luka itu. Masih sama, Alula tetap diam tak bersuara.
__ADS_1
"Alula kamu kenapa gini?"
Alula mengangkat wajah dan melihat wajah khawatir sang suami, entah akting atau benar Alula pun tak tahu.
"Kenapa? aku kenapa? jual diri lah apalagi"
Tak ada ekpresi namun air mata terus mengalir dari mata bermanik coklat itu.
"Kamu sendiri kan yang bilang! Aku Alula Zayana menjual diri pada pria hidung belang demi uang!"
"Tapi keadaan kamu kenapa gini Alula?" Zyandru melepaskan genggamannya dari tubuh ringkih sang istri.
"KAMU TINGGALIN AKU SENDIRIAN DI TENGAH JALAN. DI MANA KAMU WAKTU 3 ORANG PREMAN ITU NGEJAR AKU? DI MANA KAMU WAKTU MEREKA MENCOBA MELECEHKAN AKU? DI MANA KAMU WAKTU MEREKA DENGAN SEENAKNYA MEMUKULI AKU KARENA TERUS MELAWAN. DI MANA KAMU WAKTU AKU TELEPON KAMU? DI MANA KAMU WAKTU AKU MINTA TOLONG DENGAN TERUS MEMANGGIL NAMA KAMU? KAMU GAK ADA DI SANA ZYANDRU!"
Zyandru tercengang mendengar penuturan Alula, istrinya itu bukan menjual diri tapi hampir menjadi korban pelecehan dan itupun karena kesalahan yang ia buat.
"Alula aku...aku gak tahu kalau akan jadi begini...harusnya tadi aku gak turunin kamu di jalan. Harusnya–"
"Harusnya aku membiarkan mereka menjamah tubuh aku agar semua omongan kamu menjadi kenyataan. Setelah itu aku akan mati dengan tenang."
Zyandru menarik tubuh penuh luka sang istri ke dalam pelukannya, kepalanya menggeleng tak setuju mendengar perkataan Alula, air matanya tak hentinya terjatuh.
"Suami?" Alula mendorong dada Zyandru agar menjauh darinya.
Kini kemeja putih Zyandru kotor dengan darah dari tangan Alula.
"Apa aku gak salah dengar? Kamu suami aku? Hahahahah"
Sungguh sakit melihat Alula tertawa keras dengan air matanya yang terus mengalir deras. Wanita itu seolah tak mengindahkan rasa sakit di tubuhnya.
"Sekarang kita ke rumah sakit, kita obati luka kamu!"
"Luka yang mana yang kamu maksud Zyandru. Luka ini?" Alula menunjuk beberapa bagian tubuhnya.
"Atau luka ini?" Alula beralih menunjuk dada kirinya.
"Sayangnya ini sudah mati jadi aku gak merasakan apapun!" Alula menekan dadanya dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Alula beranjak dari duduknya dan hendak berjalan namun lagi-lagi Zyandru menahan dengan memeluknya sangat erat.
Entah dapat ide dari mana, Alula memukul perut Zyandru tepatnya bagian ulu hati, membuat Zyandru meringis namun tak juga melepaskan pelukannya.
Tak kehabisan akal, Alula menggigit lengan Zyandru hingga berdarah, membuat Zyandru langsung melepaskan pelukannya.
Tak mempedulikan kakinya yang terluka parah, Alula berlari menuju kamar tamu, di sana ia langsung mengunci pintu dari dalam.
Di dalam kamar, Alula terduduk dengan rasa sakit yang menjalar, kata-kata yang Zyandru katakan sangatlah indah hingga rasanya dadanya ditusuk berkali-kali.
"Hiks hiks capek banget, bisakah aku mati sekarang, tolong cabut nyawaku! Aku tak tahan lagi dengan semua penderitaan ini, cukup sampai di sini saja hidupku. Tolong kabulkan permintaanku kali ini, cabut nyawaku sekarang ya Allah... "
Dengan semua rasa sakit yang terasa di seluruh bagian tubuhnya, mata Alula hampir saja terpejam, namun sebisa mungkin ia menahannya.
Alula beranjak dan masuk ke kamar mandi, di sana Alula langsung menyalakan shower yang mulai membasahi tubuhnya.
Membiarkan air menerpa luka di kulitnya, aliran air seketika berubah memerah. Perih di tubuhnya tak ia rasakan, Alula duduk dan menekuk lututnya, ia kembali menangis sejadi-jadinya.
Sementara di luar, Zyandru terus saja berusaha membuka pintu, tapi sayang beberapa kali ia mencoba hasilnya tetap gagal, pintu itu perlu dibuka dengan kode yang benar.
Tak tahan lagi, Zyandru mencoba mendobrak pintu itu sambil terus memanggil nama sang istri. Air mata pria itu terus mengalir dengan deras.
Zyandru menyesal membeli rumah dengan pengamanan canggih seperti ini. Zyandru sangat takut terjadi hal buruk pada istrinya.
"Alula, aku mohon buka pintunya!, Alula jangan lakuin hal aneh aku mohon. Aku salah, tolong ampuni aku, buka pintunya Alula! Aku mohon."
Haish !!!
Zyandru memukul pintu beberapa kali, hingga pak Mun mendengar suara tersebut dan langsung menghampiri Zyandru.
Melihat sang tuan terus menangis dan meraung-raung sambil memukul pintu membuat ia khawatir sekaligus penasaran.
"Tuan, tuan kenapa?"
Zyandru berbinar melihat pria paruh baya itu, "cari alat apapun yang bisa buka pintu ini. Cepat pak mun!"
"Baik tuan"
__ADS_1
Tak lama pak Mun kembali dengan kotak berisi perkakas, Zyandru mengambil sebuah palu dan langsung memukul kunci digital tersebut.
Suara pukulan juga teriakan dari Zyandru terdengar begitu nyaring, beberapa kali mencoba namun sayang tak ada perubahan.